Jatinegara, Warta NU Tegal
Memasuki hari ke-35 sejak bencana tanah bergerak melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, para relawan dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU dan IPPNU Jatinegara terus menunjukkan komitmennya dalam mendampingi warga terdampak.
Sejak bencana pertama kali terjadi pada Senin (2/2/2026), kader IPNU-IPPNU bersama berbagai unsur relawan langsung turun ke lapangan untuk membantu proses penanganan darurat, mulai dari evakuasi warga hingga distribusi bantuan logistik.
Berdasarkan data sementara di lapangan hingga Senin (9/3/2026), bencana tanah bergerak tersebut telah berdampak pada lebih dari 500 rumah warga. Sementara itu, lebih dari 2.000 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman untuk menghindari potensi pergerakan tanah susulan.
Dalam proses penanganan bencana, para relawan CBP KPP IPNU-IPPNU Kecamatan Jatinegara turut terlibat aktif membantu masyarakat di lokasi terdampak maupun di sejumlah titik pengungsian.
Koordinator Logistik Posko NU Peduli Kabupaten Tegal, Rekan Pratama Gilang, mengatakan bahwa sejak awal bencana para relawan langsung bergerak melakukan pendampingan terhadap warga.
“Sejak hari pertama kejadian, teman-teman IPNU dan IPPNU langsung turun ke lokasi untuk membantu warga yang terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari,” ujarnya.
Menurutnya, fokus utama relawan pada masa tanggap darurat adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi dengan baik.
“Kami berupaya memastikan distribusi bantuan logistik berjalan lancar sehingga kebutuhan warga di pengungsian dapat terpenuhi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa proses distribusi bantuan dilakukan dengan koordinasi yang intensif dengan berbagai pihak.
“Distribusi logistik kami lakukan dengan berkoordinasi bersama BPBD serta masyarakat setempat agar bantuan yang datang dapat tersalurkan sesuai kebutuhan di lapangan,” kata Gilang.
Selain itu, sistem kerja relawan juga diatur secara bergantian agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan maksimal.

“Relawan dari PAC IPNU se-Kabupaten Tegal ikut terlibat dan bertugas secara bergiliran melalui sistem shift di lokasi bencana maupun posko pengungsian,” terangnya.
Pada hari-hari awal penanganan bencana, para relawan juga membantu proses evakuasi warga menuju tempat yang lebih aman.
“Pada hari kedua setelah kejadian, relawan turut membantu evakuasi warga terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan warga yang tinggal di zona rawan,” ungkapnya.
Gilang juga menyampaikan bahwa beberapa relawan yang terlibat merupakan warga yang turut terdampak langsung oleh bencana tersebut.
“Beberapa teman relawan seperti Rekan Wildan, Rekan Aji, Rekan Riski, Rekan Nasrul, dan Rekan Najih adalah warga Padasari yang juga terdampak, namun mereka tetap ikut membantu masyarakat lainnya,” tuturnya.
Menurutnya, semangat pengabdian para kader IPNU-IPPNU tersebut menjadi contoh nyata nilai solidaritas di tengah masyarakat.
“Meski mereka juga mengalami dampak dari bencana, semangat mereka untuk tetap membantu sesama sangat luar biasa,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran para relawan dapat memberikan dukungan moral sekaligus meringankan beban warga yang sedang menghadapi masa sulit.
“Kami berharap apa yang dilakukan para relawan ini dapat membantu masyarakat untuk tetap kuat dan saling menguatkan di tengah situasi yang tidak mudah,” pungkasnya.
Pengabdian para kader IPNU-IPPNU di Desa Padasari menjadi bukti nyata bahwa semangat khidmah dan kepedulian sosial terus hidup dalam diri generasi muda Nahdlatul Ulama. Kehadiran mereka tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga harapan bagi masyarakat yang sedang menghadapi ujian.
Di tengah musibah yang melanda, nilai-nilai ukhuwah dan gotong royong menjadi kekuatan utama bagi masyarakat untuk bangkit dan melangkah menuju masa pemulihan yang lebih baik.
Editor : Tahmid












