Jatinegara, Warta NU Tegal
Pertemuan rutin Pimpinan Ranting (PR) Muslimat Nahdlatul Ulama Desa Capar, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, pada Jumat (13/2/2026), pengajian kali ini terasa berbeda karena mengangkat refleksi keimanan atas musibah tanah bergerak yang terjadi di Padasari.
Di tengah suasana kebersamaan khas jamaah Muslimat, majelis taklim tersebut menjadi ruang penguatan iman sekaligus peneguhan kepedulian sosial. Para jamaah diajak memaknai ujian bukan sebagai akhir harapan, melainkan jalan menuju kedewasaan spiritual.
Ketua PR Muslimat NU Desa Capar, Ustadzah Hj. Wiwi Indrawati, dalam sambutannya menegaskan komitmen organisasi untuk terus bergerak pasca-Ramadhan.
“Program Muslimat tidak berhenti setelah Ramadhan. Justru setelah bulan suci, kita harus semakin semangat menjaga istiqamah ibadah dan kebersamaan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa konsistensi dalam berorganisasi merupakan bagian dari khidmah kepada umat.
“Muslimat NU harus terus hadir di tengah masyarakat, membawa manfaat dan menjadi penguat bagi sesama,” tegasnya.
Menurutnya, majelis rutin seperti ini bukan sekadar agenda formal, tetapi sarana mempererat ukhuwah dan memperkokoh keimanan.
“Di forum seperti inilah kita saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan,” katanya.
Ustadzah Wiwi juga mengajak jamaah agar menjadikan musibah sebagai momentum memperbanyak amal sosial.
“Semangat kebersamaan jangan hanya terasa saat Ramadhan. Kepedulian kepada sesama harus terus hidup dalam keseharian,” imbuhnya.
Kajian disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Jatinegara, Ustadz Arindra Bagus Santoso. Ia mengangkat tema sabar dan syukur dalam menghadapi musibah, khususnya peristiwa tanah bergerak di Padasari.
“Musibah adalah bagian dari sunnatullah. Setiap ujian pasti mengandung hikmah bagi orang-orang yang beriman,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa kesabaran bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, melainkan tetap berusaha seraya menggantungkan harapan kepada Allah SWT.
“Sabar itu aktif, bukan diam. Kita tetap berikhtiar, tetap membantu, dan tetap berdoa,” jelasnya.
Dalam penyampaiannya, ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW sebagai penguat pesan spiritual kepada jamaah.
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia bersabar, itu pun baik baginya,” ungkapnya.
Menurutnya, hadis tersebut menunjukkan bahwa kehidupan seorang mukmin selalu berada dalam kebaikan jika disikapi dengan iman.
“Ketika mendapat nikmat, kita bersyukur. Ketika diuji, kita bersabar. Dua-duanya bernilai pahala,” katanya.
Ustadz Arindra juga mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada empati secara lisan.
“Selain mendoakan saudara-saudara kita yang terdampak, mari kita bantu sesuai kemampuan, baik dengan tenaga maupun materi,” ajaknya.
Ia menegaskan bahwa kepedulian sosial merupakan wujud nyata ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin yang menjadi ruh gerakan Nahdlatul Ulama.
“Musibah harus menjadi penguat solidaritas, bukan justru membuat kita saling menjauh,” pungkasnya.
Editor : Tahmid












