Lebaksiu. Warta NU Tegal
Fenomena tanah bergerak kembali terjadi di Desa Kajen, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal. Peristiwa ini menegaskan bahwa wilayah tersebut masih berada dalam kondisi rawan bencana, terutama saat memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi.
Insiden terbaru tercatat terjadi pada rentang (24–26/1/2026), dengan titik terdampak utama berada di Dukuh Belimbing, Desa Kajen. Pergerakan tanah dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung selama beberapa hari berturut-turut.
Selain hujan deras, longsoran tebing di sepanjang Sungai Gung turut memperparah kondisi tanah di kawasan tersebut. Tekanan air tanah yang meningkat menyebabkan pergeseran lapisan tanah yang berdampak langsung pada permukiman warga.
Akibat kejadian ini, sebanyak 24 rumah warga mengalami retakan hingga kerusakan serius. Pemerintah setempat bersama BPBD Kabupaten Tegal segera melakukan langkah penanganan darurat berupa evakuasi, pendirian posko bencana, serta penyaluran bantuan logistik dan santunan.
Fenomena tanah bergerak di Desa Kajen sejatinya bukan peristiwa baru. Berdasarkan catatan lapangan, bencana serupa telah terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Februari 2024, tanah bergerak melanda RT 02, 03, dan 04 RW 09 Desa Kajen. Sekitar 30 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat pergeseran tanah yang kembali dipicu hujan deras dan banjir Sungai Gung.
Warga setempat kala itu menyatakan bahwa tanah di sekitar permukiman terus bergeser ke arah sungai, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan jiwa, khususnya saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
Sementara itu, pada Juni 2022, peristiwa tanah bergerak berskala besar juga terjadi di wilayah yang sama. Sedikitnya 57 hingga 69 rumah mengalami rusak ringan hingga berat, bahkan beberapa laporan menyebutkan jumlah rumah terdampak mencapai 60–75 unit.
Lokasi terdampak paling parah berada di RT 03 dan RT 04 RW 09 yang berdekatan langsung dengan bantaran Sungai Gung. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan, jalan lingkungan, dan fasilitas umum cukup signifikan.
Bencana serupa kembali dilaporkan pada Agustus hingga September 2025. Sekitar 87 rumah terdampak, dengan beberapa di antaranya dinyatakan tidak layak huni. Selain itu, lahan pertanian seluas kurang lebih 300 hektare turut terdampak, bahkan dilaporkan adanya amblesan makam warga.
Dari sisi pola kejadian, kawasan Dukuh Belimbing dan RW 09 Desa Kajen menjadi titik fokus pergerakan tanah. Sungai Gung kerap dikaitkan sebagai faktor utama, terutama saat debit air meningkat dan menekan struktur tanah di sekitarnya.
Secara sosial dan ekonomi, bencana tanah bergerak ini berdampak luas. Selain rumah rusak dan ancaman keselamatan jiwa, warga juga dihadapkan pada persoalan relokasi, terganggunya aktivitas pertanian, serta rusaknya infrastruktur lingkungan.
Pemerintah daerah terus mendorong langkah mitigasi, salah satunya melalui relokasi warga dari kawasan rawan bencana ke lokasi yang lebih aman. Upaya ini diharapkan dapat meminimalisir risiko serta menjamin keselamatan masyarakat.
Fenomena tanah bergerak di Desa Kajen Lebaksiu menjadi pengingat penting akan perlunya kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan, serta sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai elemen, termasuk warga Nahdliyin, dalam menghadapi bencana secara berkelanjutan.
Editor : Tahmid
Kontributor : Naja












