Warureja. Warta NU Tegal
Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (Harlah NU) ke-100 versi masehi yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Warureja, Kabupaten Tegal, Sabtu (31/1/2026), berlangsung di Gedung MWCNU Warureja, kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum refleksi perjalanan satu abad NU, tetapi juga ikhtiar spiritual dan sosial dalam menanamkan harapan masa depan melalui simbol “Kaleng Waktu” yang akan dibuka pada peringatan 100 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2045.
Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal, KH Subhan Mubarok, menegaskan bahwa peringatan Harlah NU ke-100 ini harus dimaknai sebagai peristiwa sakral yang menyatukan seluruh elemen Nahdlatul Ulama. Menurutnya, usia satu abad bukan sekadar hitungan waktu, melainkan perjalanan panjang NU dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, merawat persatuan, serta mengabdi untuk agama dan negara.
“Kita patut bersyukur, di Warureja ini NU tampak guyup rukun. Banom-banom NU, mulai dari Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU, IPPNU hingga JQH, semuanya hadir tumplek blek. Inilah wajah NU yang sesungguhnya, kebersamaan dalam perbedaan peran,” tutur KH Subhan Mubarok di hadapan jamaah yang memadati gedung MWCNU.
Ia menambahkan, kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur organisasi, tetapi juga pada ruh kebersamaan dan ketulusan khidmah warganya. Momentum Harlah ini, kata dia, harus dijadikan sarana untuk memperkuat ukhuwah, meneguhkan komitmen kebangsaan, serta memperdalam peran keumatan NU di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
KH Subhan Mubarok juga mengapresiasi inovasi panitia yang menghadirkan “Kaleng Waktu” berisi doa dan harapan warga NU Warureja. Menurutnya, gagasan ini mencerminkan kesadaran historis NU yang selalu berpikir lintas generasi, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan anak cucu.
“Doa-doa yang ditulis hari ini, mungkin kelak dibaca oleh generasi penerus kita pada tahun 2045. Bisa jadi yang menulis sudah tidak ada, tetapi harapan itu tetap hidup. Kita berharap Allah mengabulkan doa-doa yang baik ini,” ungkapnya
Ia menekankan bahwa doa adalah senjata utama warga NU. Dalam setiap langkah perjuangan, NU selalu mengawali dan mengakhiri dengan doa, sebagai bentuk tawakal dan penghambaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, Kaleng Waktu ini bukan sekadar simbol, melainkan ikhtiar spiritual yang bernilai tinggi.
KH Subhan Mubarok berharap, ketika Kaleng Waktu dibuka pada peringatan 100 tahun HUT RI tahun 2045, NU Warureja telah semakin kokoh, mandiri, dan berdaya guna. “Semoga apa yang kita tanam hari ini, kelak dipetik oleh generasi NU yang lebih kuat iman, ilmu, dan amalnya,” pungkasnya.
Ketua Tanfidziyah MWCNU Warureja, Abdul Salam, dalam sambutannya menegaskan bahwa usia 100 tahun NU harus menjadi titik kedewasaan jam’iyah dalam bersikap dan berkhidmah. Menurutnya, NU tidak cukup hanya besar secara jumlah, tetapi harus semakin matang dalam kontribusi nyata di berbagai bidang kehidupan.
“Di usia satu abad ini, NU harus lebih dewasa dan lebih berdaya guna. NU sudah memiliki lembaga-lembaga yang siap berperan, seperti LP Ma’arif NU di bidang pendidikan, LKNU di bidang kesehatan, LPPNU di bidang pertanian, dan lembaga-lembaga lainnya,” ujar Abdul Salam.
Ia menambahkan bahwa kehadiran lembaga-lembaga tersebut harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. NU, kata dia, tidak boleh berjalan di tempat, melainkan harus terus beradaptasi dengan kebutuhan umat, tanpa meninggalkan nilai-nilai ke-NU-an dan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah.

Abdul Salam juga menjelaskan bahwa “Kaleng Waktu” merupakan simbol harapan kolektif warga NU Warureja. Doa dan harapan yang ditulis mencakup tiga aspek utama, yakni untuk diri dan keluarga, untuk MWCNU Warureja, serta untuk Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa warga NU memiliki kepedulian yang seimbang antara urusan pribadi, jam’iyah, dan kebangsaan.
Menurutnya, tradisi menulis harapan dan doa ini mengajarkan warga NU untuk berpikir jauh ke depan. “Kita ingin NU Warureja tidak hanya hidup hari ini, tetapi juga terus memberi manfaat hingga puluhan tahun ke depan,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi antusiasme jamaah yang membawa kado ulang tahun sebagai bentuk cinta kepada NU. Tradisi ini, kata dia, mencerminkan rasa memiliki (handarbeni) warga terhadap jam’iyah, sehingga NU tidak hanya dirawat oleh pengurus, tetapi juga oleh seluruh warganya.
Abdul Salam berharap, semangat Harlah ke-100 ini dapat menjadi energi baru bagi seluruh pengurus dan warga NU Warureja untuk terus berkhidmah dengan ikhlas, sabar, dan istiqamah. “NU besar karena keikhlasan para pendahulu, dan akan terus besar jika kita menjaga semangat itu,” tandasnya.
Selain rangkaian doa dan refleksi, peringatan Harlah NU ke-100 Masehi di Warureja juga diwarnai dengan penyerahan tumpeng, makan bersama, serta pembukaan kado ulang tahun. Suasana kekeluargaan begitu terasa, menegaskan bahwa NU tumbuh dari budaya guyub rukun dan kebersamaan.
Dari kegiatan tersebut, MWCNU Warureja menerima berbagai kado yang bermanfaat untuk keperluan organisasi dan kegiatan keagamaan, di antaranya sajadah 10 buah, mukena 5 buah, kitab Al-Barzanji 5 buah, tasbih 5 buah, perlengkapan mandi, keset 5 buah, kaos dan gamis 10 buah, Minyak sayur 4 buah, pembersih lantai 3 buah, alat pel 1 buah, perabot dapur 3 buah hingga peralatan rumah tangga lainya.
Kado-kado tersebut menjadi simbol dukungan moral dan material warga NU terhadap keberlangsungan kegiatan MWCNU Warureja. Hal ini menunjukkan bahwa NU tidak hanya dirayakan secara seremonial, tetapi juga dirawat melalui partisipasi nyata warganya.
Dengan semangat satu abad NU, warga Nahdliyin Warureja berharap jam’iyah ini semakin kokoh dalam akidah, luas dalam khidmah, dan konsisten menjadi perekat umat serta penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Editor : Tahmid












