Tegal, Warta NU Tegal
Membaca Al-Qur’an bukan sekadar menggugurkan kewajiban atau mencari pahala personal. Lebih dari itu, Al-Qur’an adalah tali penyambung keberkahan yang mampu mengangkat derajat keluarga, bahkan menjadi “investasi” kemuliaan bagi orang tua di akhirat kelak.
Pesan ini menjadi inti sari dari pengajaran kitab Al-Bayan, yang menekankan bahwa interaksi seorang hamba dengan kalamullah tidak akan pernah sia-sia. Setiap huruf yang dibaca dan setiap ayat yang diamalkan laksana bibit pohon yang buahnya akan dipetik oleh orang-orang tercinta di hari pembalasan.
Bagaimana mungkin seorang anak yang saleh tega membiarkan orang tuanya meraba dalam kegelapan akhirat, sementara ia memiliki kesempatan untuk mempersembahkan mahkota cahaya melalui istiqamah dalam mengaji?
Kajian Hadits Pertama: Keutamaan Membaca dan Mengamalkan
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Baginda Nabi Muhammad SAW memberikan kabar gembira yang sangat luar biasa bagi para penghafal dan pengamal Al-Qur’an.
Bunyi potongan pertama hadits tersebut adalah:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيْهِ
(Man qara’al qur’āna wa ‘amila bimā fīhi)
“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya…”
Kalimat ini menekankan pentingnya sinergi antara lisan dan perbuatan. Tidak cukup hanya fasih membaca, namun nilai-nilai Al-Qur’an harus mendarah daging dalam akhlak sehari-hari.
Balasan yang dijanjikan Allah bukan hanya untuk si pembaca, melainkan juga untuk kedua orang tuanya:
أَلْبَسَ اللهُ وَالِدَيْهِ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
(Albasallāhu wālidayhi tājan yaumal qiyāmah)
“…maka Allah akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya di hari kiamat.”
Bayangkan kemuliaan ini. Orang tua yang mungkin di dunia hanya orang biasa, tiba-tiba di hadapan seluruh makhluk, diberikan kehormatan tertinggi oleh Allah SWT.
Cahaya mahkota tersebut digambarkan sangat spesifik oleh Rasulullah SAW:
ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا
(Dhou’uhu ahsanu min dhou’is syamsi fī buyūtid dunyā)
“Sinar mahkotanya lebih bagus (indah) daripada sinar matahari di rumah-rumah dunia.”
Jika matahari yang jaraknya jutaan mil saja bisa menerangi bumi, bayangkan keindahan cahaya yang bersumber langsung dari rida Allah atas syafaat Al-Qur’an.
Kiai-kiai kita sering berpesan bahwa ini adalah bentuk bakti yang paling sejati dari seorang anak kepada orang tuanya.
Kemudian muncul sebuah pertanyaan retoris dalam hadits tersebut:
فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا؟
(Famā dhou nukum billadzī ‘amila bihādzā?)
“Maka bagaimana tanggapanmu (hebatnya pahala) terhadap orang yang mengamalkan ini?”
Jika orang tuanya saja mendapatkan mahkota, tentu si pelaku (pembaca Al-Qur’an) akan mendapatkan derajat yang jauh lebih tinggi lagi di sisi Allah.
Penjelasan ini mengingatkan kita pada bait syair Jawa dalam gambar tersebut: “Wong moco Qur’an lan ngamalno isine, Allah paring kupluk (mahkota) wong tuo lorone.”
Keindahan ajaran ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi institusi keluarga dan bakti kepada orang tua (birrul walidain).
Kajian Hadits Kedua: Hati yang Terjaga dari Siksa
Berlanjut pada poin selanjutnya, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai perisai batin agar tidak tersentuh oleh azab.
Hadits dari Imam Ad-Daromi menyebutkan perintah lugas:
اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ
(Iqra’ul Qur’ān)
“Bacalah Al-Qur’an.”
Perintah ini bersifat umum, baik bagi yang sudah lancar maupun yang masih terbata-bata, karena setiap usaha mendekat kepada Al-Qur’an dinilai pahala.
Alasan di balik perintah ini sangat menyentuh:
فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يُعَذِّبُ قَلْبًا وَعَى الْقُرْآنَ
(Fa innallāha ta’ālā lā yu’adzdzibu qalban wa’al qur’ān)
“Sebab Allah Ta’ala tidak akan menyiksa hati yang menghayati (menghafal/memahami) Al-Qur’an.”
Kata wa’a (وعى) berarti menghimpun atau menyimpan. Hati yang di dalamnya tersimpan ayat-ayat Allah menjadi “tanah suci” yang tidak pantas disentuh api neraka.
Hal ini selaras dengan logika bahwa Allah tidak akan menghinakan wadah yang berisi firman-Nya yang mulia.
Dalam nasehat Al-Bayan disebutkan, orang yang di dalam hatinya tidak ada Al-Qur’an diibaratkan seperti rumah yang roboh (koyo omah suwung kang rusak).
Rumah yang kosong dan rusak akan menjadi sarang kotoran dan hewan pengganggu, sebagaimana hati yang kosong dari Al-Qur’an akan mudah dirasuki was-was setan.
Sebaliknya, hati yang diisi Al-Qur’an akan menjadi rumah yang kokoh, bercahaya, dan memberikan ketenangan bagi penghuninya.
Menghayati Al-Qur’an berarti membiarkan ayat-ayat tersebut meresap, menggetarkan perasaan, dan membimbing logika berpikir kita.
Inilah rahasia mengapa para ulama salafus shalih sanggup menghabiskan waktu berjam-jam bersama Al-Qur’an tanpa merasa jenuh.
Bagi warga Nahdliyin, tradisi semaan dan khataman adalah manifestasi untuk menjaga agar “rumah batin” kita dan lingkungan kita tetap terjaga dari “kerobohan” spiritual.
Keberkahan Al-Qur’an bersifat meluas (mutta’adi), dari hati ke perilaku, dari anak ke orang tua, dan dari individu ke masyarakat.
Merawat Cahaya di Dalam Dada
Mari kita renungkan kembali bahwa Al-Qur’an adalah hudan (petunjuk) yang hidup. Membacanya adalah dialog dengan Sang Pencipta, dan mengamalkannya adalah bukti cinta yang paling nyata.
Jangan biarkan hari-hari kita berlalu tanpa satu ayat pun yang singgah di lisan dan hati. Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai kurikulum tetap dalam keluarga kita, agar kelak kita bisa melihat orang tua kita tersenyum mengenakan mahkota cahaya di padang mahsyar.
Semoga Allah SWT menggolongkan kita semua sebagai Ahlul Qur’an, keluarga Al-Qur’an yang diakui oleh Allah sebagai hamba-hamba istimewa-Nya. Wallahu a’lam bisshawab.
Editor : Tahmid












