Hikmah  

Hikmah Ramadhan (12): Al-Qur’an sebagai Jamuan Ilahi, Sumber Ketenteraman Hati dan Kabar Gembira bagi Para Pecintanya

Avatar photo

Tegal. Warta NU Tegal

Di tengah hiruk batin dan kerasnya hantaman zaman, setiap Muslim sejatinya memiliki tempat bernaung yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Tempat itu bukanlah gedung megah atau benteng baja, melainkan untaian firman Allah SWT yang terangkum dalam mushaf Al-Qur’anul Karim.

Dalam tradisi pesantren, Al-Qur’an tidak sekadar dibaca sebagai ritual, namun dihayati sebagai ma’dubatullah—hidangan atau jamuan istimewa dari Sang Pencipta. Layaknya tamu yang dijamu oleh Raja Diraja, mereka yang masuk ke dalamnya akan merasakan keamanan, kenyamanan, dan ketentraman yang tidak bisa digantikan oleh materi apa pun di dunia ini.

Kitab Al-Bayan merangkum mutiara-mutiara hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan betapa krusialnya interaksi seorang hamba dengan Al-Qur’an. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai tiga hadits utama yang menjadi fondasi keselamatan hati bagi setiap mukmin:

Al-Qur’an sebagai Penjaga Hati

Hadits pertama menekankan pada perintah membaca dan jaminan Allah terhadap hati yang menjaga Al-Qur’an.

قَالَ اقْرَأُوا الْقُرْآنَ إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ الْقَلْبَ وَعَاهُ ذَا جَلَى

(Qalaq ro’ul qur’ana innallaha la yu’adzdzibul qolba wa’ahu dza jala)

Artinya: “Bacalah Al-Qur’an, sebab Allah tidak menyiksa hati yang menjaga (menghafal/menghayati) Al-Qur’an dengan seksama.”

Al-Qur’an adalah cahaya. Jika cahaya itu bersemayam di dalam hati, maka kegelapan azab dan keresahan tidak akan mampu menembusnya.

Menjaga di sini bukan hanya tentang hafal di lisan, tapi “Woconen” (bacalah) hingga meresap ke dalam sanubari.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa hati manusia itu berkarat, dan Al-Qur’an adalah penggosok karat tersebut.

Ketika seseorang disibukkan dengan Al-Qur’an, maka Allah akan menyibukkan malaikat untuk menjaga keselamatan hatinya.

Hati yang kosong dari Al-Qur’an diibaratkan seperti rumah yang runtuh, rapuh dan tak berpenghuni.

Baca Lainnya  Rijalul Ansor Slaranglor Teguhkan Sabar dan Syukur, Ustadz Bagus Santoso: Itulah Ciri Mukmin Sejati

Maka, mulailah dengan membaca secara istiqomah, meskipun hanya satu lembar setiap harinya.

Al-Qur’an sebagai Jamuan (Ma’dubah) Allah

Hadits kedua memberikan metafora yang sangat indah, yakni Al-Qur’an sebagai sebuah perjamuan besar.

وَإِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ، فَمَنْ دَخَلَ فِيْهِ فَهُوَ آمِنٌ

(Wa inna hadzal qur’ana ma’dubatullah, faman dakhola fiihi fahuwa amin)

Artinya : “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah jamuan Allah. Maka siapa yang masuk ke dalamnya, maka ia aman.”

Bayangkan Anda diundang ke pesta seorang tokoh besar. Anda merasa aman karena dilindungi oleh sang tuan rumah. Begitupun dengan Al-Qur’an.

“Masuk ke dalamnya” berarti mempelajari maknanya, mengikuti petunjuknya, dan menjadikannya pedoman hidup.

Keamanan yang dijanjikan meliputi keamanan di dunia dari kesesatan, dan keamanan di akhirat dari ketakutan dahsyat.

Di dalam jamuan ini, tersedia berbagai “menu” hikmah: hukum untuk keadilan, kisah untuk teladan, dan doa untuk ketenangan.

Menurut para ulama NU, Al-Qur’an adalah shifa (obat). Jamuan ini sekaligus menjadi penyembuh bagi penyakit fisik maupun mental.

Siapa yang merasa terancam oleh masalah hidup, kembalilah ke meja perjamuan Allah ini.

Rasa aman yang timbul adalah rasa aman yang “ten-tram,” sebuah kondisi psikologis yang stabil meski badai menerjang.

Kabar Gembira bagi Para Pecinta

Hadits ketiga merupakan muara dari segala interaksi dengan Al-Qur’an, yaitu cinta.

وَمَنْ أَحَبَّ الْقُرْآنَ فَلْيُبَشِّرْ. وَمَنْ أَحَبَّهُ فَهُوَ مُبَشِّرُ كُوْنُوْا بَقَارِئِيْنَ قَدْ تَدَبَّرُوا

(Waman ahabbal qur’ana falyubasysyir. Waman ahabba fahuwa mubasysyiru, kunu biqo’ri’ina qod tadabbaru)

Artinya: “Dan siapa yang mencintai Al-Qur’an, maka berilah ia kabar gembira. Sungguh Allah memberi kabar gembira bagi orang yang mencintainya.”

Cinta adalah kunci. Jika kita sudah cinta, membaca satu ayat pun akan terasa manis, bukan sebuah beban.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (5) : Menelusuri Keluhuran Budi dan Mukjizat Sang Musthafa dalam Bait-Bait Maulid Diba’i

Kabar gembira (bisyarah) ini bisa berupa keberkahan dalam rezeki, keturunan yang shalih, hingga syafaat di alam kubur.

Kunu biqo’ri’ina qod tadabbaru“—Jadilah pembaca yang merenungi (tadabbur). Cinta menuntut pemahaman, bukan sekadar lewat di lisan.

Mencintai Al-Qur’an berarti juga mencintai Sang Pemilik Al-Qur’an dan mencintai pembawa risalahnya, Baginda Nabi Muhammad SAW.

Rasa cinta ini akan membuat seseorang merasa selalu ditemani, sehingga ia tidak akan pernah merasa kesepian (lonely).

Kabar gembira ini bersifat pasti (haqqul yaqin), karena Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya kepada para hamba-Nya yang setia.

Membumikan Wahyu

Akhirnya, mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai bestie (sahabat karib) dalam keseharian kita. Jangan biarkan mushaf di rumah berdebu, karena itu adalah tanda hati yang mulai kehilangan jamuan Tuhan.

Melalui semangat ngaji yang menjadi tradisi kental di lingkungan Nahdlatul Ulama, mari kita perkuat tadabbur dan amaliyah kita terhadap ayat-ayat suci ini demi keselamatan bangsa dan agama.

Semoga kita termasuk golongan yang hatinya dijaga, jiwanya diamankan, dan wajahnya dipenuhi kabar gembira karena cinta yang tulus kepada Al-Qur’anul Karim. Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *