Hikmah  

Hikmah Ramadhan (13): Memuliakan Ahli Al-Qur’an dan Orang Tua sebagai Cermin Ketakwaan dalam Syiar Allah

Avatar photo

Tegal, Warta NU Tegal

Memuliakan sesama manusia, terutama mereka yang memiliki kedudukan khusus di sisi Allah seperti para penghafal Al-Qur’an dan orang tua yang istiqamah dalam Islam, bukanlah sekadar etika sosial biasa. Dalam tradisi pesantren dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), penghormatan ini merupakan manifestasi langsung dari rasa takzim kepada Sang Pencipta. Menghormati mereka yang dicintai Allah adalah bagian tak terpisahkan dari mengagungkan syiar-syiar agama.

Hal ini menjadi benang merah dalam kajian kitab Al-Bayan yang mengupas tuntas derajat kemuliaan Ahli Qur’an dan urgensi menjaga adab kepada para sesepuh. Melalui sanad keilmuan yang terjaga, para ulama NU senantiasa menekankan bahwa tazim (penghormatan) adalah kunci keberkahan ilmu dan ketenangan hidup.

Berikut adalah uraian mendalam kajian hadits dan ayat Al-Qur’an yang terangkum dalam 34 alinea, menyelisik makna pengagungan terhadap Allah melalui penghormatan kepada hamba-hamba-Nya yang mulia:

Landasan Qur’ani: Mengagungkan Syiar Allah

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kajian kita awali dengan memahami bahwa setiap tindakan menghormati kebaikan adalah bentuk ibadah. Di dalam kitab Al-Bayan, ditekankan bahwa hati yang bertakwa akan selalu terpanggil untuk memuliakan apa pun yang disucikan oleh Allah SWT.

Sahabat Warta NU Tegal yang budiman, mari kita selami bait demi bait hikmah ini. Kita akan belajar bahwa menghormati seorang guru ngaji atau orang tua yang rambutnya telah memutih dalam Islam, memiliki bobot pahala yang sejajar dengan upaya kita mengagungkan kebesaran Allah itu sendiri.

Firman Allah SWT dalam QS. Al-Hajj ayat 32 menjadi pembuka :

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.”

Ayat ini menegaskan bahwa “Syiar Allah” bukan hanya berupa ritual ibadah seperti haji atau salat, tetapi juga segala sesuatu yang menjadi simbol keagungan agama-Nya. Menghormati ulama dan penjaga Al-Qur’an termasuk dalam kategori mengagungkan syiar tersebut.

Jika hati seseorang bersih dan dipenuhi rasa takut kepada Allah (takwa), maka secara otomatis ia akan merasa segan dan hormat terhadap segala hal yang berkaitan dengan tuhannya. Sebaliknya, meremehkan simbol agama adalah tanda keroposnya iman.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (8): Iri yang Bernilai Ibadah, Belajar dari Ahli Al-Qur’an dan Hamba yang Gemar Bersedekah

Hal ini mengingatkan kita bahwa akhlak lahiriyah merupakan cerminan dari kondisi batiniah. Seseorang tidak mungkin bisa bersikap sopan dan tawadhu jika hatinya penuh dengan kesombongan.

Dalam bait selanjutnya, ditekankan kembali mengenai pentingnya memuliakan apa yang telah dimuliakan oleh Allah:

وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

“Dan barangsiapa mengagungkan sesuatu yang terhormat (hurumat) di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Hajj: 29)

Kata hurumat merujuk pada segala sesuatu yang memiliki kehormatan dan kesucian. Menjaga kehormatan seorang Muslim, apalagi mereka yang membawa Al-Qur’an di dadanya, adalah kewajiban yang mendatangkan kebaikan besar di akhirat.

Allah menjanjikan bahwa “itu lebih baik baginya”. Artinya, pahala dan keberkahan bagi mereka yang tahu cara menghormati sesama akan dilipatgandakan melebihi ekspektasi manusia itu sendiri.

Dalam konteks kemasyarakatan NU, prinsip ini diterjemahkan ke dalam budaya ngalap barokah dan mushafahah (bersalaman) dengan para kiai, yang sejatinya adalah bentuk pengagungan terhadap ilmu yang mereka bawa.

Kita diajak untuk memiliki “standard penilaian” yang sama dengan Allah. Jika Allah memuliakan orang yang berilmu, maka tidak pantas bagi kita untuk merendahkannya hanya karena perbedaan status sosial.

Hadits Nabi: Manifestasi Nyata Mengagungkan Allah

Selanjutnya, kajian beralih pada sabda Rasulullah SAW yang sangat menyentuh hati mengenai definisi mengagungkan Allah secara praktis melalui perilaku sosial:

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ تَعَالَى إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ…

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah Ta’ala adalah menghormati orang tua yang muslim…” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini memberikan perspektif yang luar biasa. Jika kita ingin menunjukkan rasa hormat kepada Allah yang Maha Gaib, maka tunjukkanlah dengan menghormati makhluk-Nya yang tampak, khususnya mereka yang telah lama mengabdi dalam Islam (orang tua).

Orang tua yang rambutnya telah memutih dalam keadaan Muslim memiliki kedudukan istimewa. Setiap uban yang tumbuh saat beribadah kepada Allah akan menjadi cahaya di hari kiamat, maka menghormati mereka adalah keharusan.

Baca Lainnya  KH Khoirul Amin: Malam Nishfu Syaban Momentum Membersihkan Diri dan Mendekat kepada Allah

Selanjutnya, hadits tersebut menyebutkan golongan kedua yang wajib dimuliakan:

…وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ…

“…dan pengkaji Al-Qur’an (penghafal) yang tidak melampaui batas dan tidak menyimpang darinya…”

Hamilul Qur’an (pembawa Al-Qur’an) adalah keluarga Allah di bumi. Namun, hadits ini memberi catatan penting: mereka yang dihormati adalah yang “moderat”. Tidak ekstrem (ghali) hingga melampaui batas, dan tidak pula mengabaikan (jafi) hukum-hukumnya.

Di sinilah letak relevansi ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah yang senantiasa mengedepankan sikap tawassuth (moderat). Penghafal Al-Qur’an yang berakhlak mulia dan tidak radikal adalah permata bagi umat.

Memuliakan mereka berarti mendukung kelestarian wahyu Allah. Sebab, melalui lisan dan hafalan merekalah, Al-Qur’an terjaga kemurniannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Golongan ketiga yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah:

…وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

“…serta menghormati penguasa yang adil.”

Stabilitas sebuah bangsa bergantung pada kepemimpinan. Menghormati pemimpin yang adil adalah bentuk syukur atas kedamaian yang dirasakan umat. Islam melarang anarki dan menghargai ketertiban hukum.

Keadilan penguasa adalah payung bagi tegaknya syariat. Oleh karena itu, mendoakan dan menghormati pemimpin yang mengayomi rakyat adalah bagian dari pengagungan kepada Allah yang memberikan kekuasaan tersebut.

Nadhom kitab Al-Bayan merangkum hadits panjang ini ke dalam bait yang indah:

Inna minal ijlali lillahi ‘ala, ikroma dzisy syaibati aslama qila.

“Termasuk mengagungkan Allah, memuliakan orang tua yang beragama Islam.”

Inti dari ibadah kita bukan hanya sujud di atas sajadah, tapi juga bagaimana kita menundukkan ego saat berhadapan dengan orang yang lebih tua.

Menghormati orang tua bukan sekadar tradisi ketimuran, melainkan perintah agama yang bersifat teologis. Durhaka kepada mereka berarti mengundang kemurkaan Allah.

Dalam bait selanjutnya, penekanan kembali pada Ahli Qur’an:

Termasuk me-ngagungkanNya, menghormati kepada orang tua yang muslim pasti.

Kalimat “muslim pasti” dalam bait ini merujuk pada keteguhan iman seseorang. Orang tua yang istiqamah dalam Islam meskipun didera tantangan zaman adalah pahlawan iman yang patut diteladani.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (3): Kedalaman Tauhid dan Nur Muhammad dalam Lantunan Maulid Diba’i

Penting bagi generasi muda NU untuk menyadari bahwa kecerdasan intelektual tidak ada artinya tanpa adab. Ilmu tanpa adab laksana pohon yang tidak berbuah, bahkan bisa menjadi racun bagi pemiliknya.

Mengapa pengkaji Qur’an tidak boleh “melampaui batas”? Karena Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi rahmat, bukan alat untuk menghakimi atau mengkafirkan sesama tanpa dasar yang benar.

Sebagaimana ajaran para kiai kita, Al-Qur’an harus dipahami dengan sanad yang jelas. Menghormati Ahli Qur’an berarti juga menghormati guru-guru yang mengajarkannya hingga sampai kepada kita.

Terakhir, mengenai pemimpin yang adil. Di lingkungan NU, kita diajarkan untuk menjadi warga negara yang baik (hubbul wathan minal iman). Menghormati otoritas yang sah adalah kunci kehidupan sosial yang harmonis.

Mengikat Hikmah dalam Laku

Sebagai penutup, kajian kitab Al-Bayan ini mengingatkan kita bahwa jalan menuju Allah bisa ditempuh lewat pintu “menghormati hamba-Nya”. Jangan sampai kita merasa paling beriman, namun lisan dan sikap kita justru menyakiti hati para penjaga wahyu atau merendahkan orang tua kita sendiri.

Mari kita jadikan nilai-nilai ketakwaan hati ini sebagai kompas dalam berinteraksi. Semoga Allah senantiasa membimbing kita agar menjadi pribadi yang ringan dalam menghormati, tulus dalam memuliakan, dan istiqamah dalam jalan moderasi (wasathiyah) sebagaimana yang dicontohkan oleh para masyayikh Nahdlatul Ulama.

Wallahu a’lam bisshawab.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *