Hikmah  

Hikmah Ramadhan (15): Jangan Mencela Ulama, Menjaga Kemuliaan Pewaris Nabi agar Hati Tak Mati

Avatar photo

Tegal, Warta NU Tegal

Ulama bukan sekadar sosok yang menguasai teks-teks klasik, melainkan sosok yang membawa cahaya kenabian di tengah umat. Menghormati mereka bukan bentuk pengkultusan, melainkan wujud takzim kepada ilmu yang mereka emban. Sebaliknya, merendahkan martabat ulama dianggap sebagai tindakan yang dapat mendatangkan konsekuensi spiritual yang fatal, yakni kematian hati sebelum raga berpisah dari nyawa.

Dalam tradisi pesantren, kita sering mendengar bahwa daging ulama itu beracun (luhumul ulama masmuma). Hal ini bukan sekadar kiasan, melainkan peringatan keras agar setiap Muslim menjaga lisan dan sikapnya. Berikut adalah kajian mendalam mengenai kedudukan ulama sebagai kekasih Allah serta risiko bagi mereka yang berani melecehkannya, merujuk pada mutiara hikmah dalam kitab Al-Bayan.

Ulama sebagai Kekasih Allah

وَالْعُلَمَاءُ إِنْ لَمْ يَكُوْنُوْا أَوْلِيَاءَ

“Dan para ulama itu, jika mereka bukan wali-wali Allah…”

Kalimat ini menegaskan kedudukan tinggi para ulama. Wali Allah adalah orang yang sangat dekat dengan Sang Pencipta. Ulama, dengan kedalaman ilmunya, berada di baris terdepan dalam kedekatan ini.

فَإِنَّهُ لَيْسَ وَلِيٌّ لِلَّهِ

Artinya: “…maka sungguh Allah tidak memiliki wali.”

Ini adalah bentuk kalimat pengandaian (syarth) yang sangat kuat. Jika orang yang paling paham tentang syariat dan hakikat Allah (ulama) saja tidak disebut wali, maka mustahil ada manusia lain yang bisa menyandang gelar tersebut.

Refleksi Imam Abu Hanifah: Sebagaimana dikutip dalam keterangan diatas, Imam Abu Hanifah menekankan bahwa eksistensi kewalian di muka bumi ini melekat pada sosok ulama yang mengamalkan ilmunya.

Refleksi Imam Syafi’i: Senada dengan itu, Imam Syafi’i memandang bahwa tanpa ulama, dunia kehilangan mercusuar spiritualnya. Ulama adalah representasi kasih sayang Allah kepada umat.

Baca Lainnya  Rijalul Ansor Slaranglor Teguhkan Sabar dan Syukur, Ustadz Bagus Santoso: Itulah Ciri Mukmin Sejati

Ulama sebagai Penunjuk Jalan: Kita sering tersesat dalam memahami teks agama yang rumit. Di sinilah peran ulama sebagai penerjemah kehendak Allah melalui ilmu istinbath yang mereka miliki.

Cinta Allah pada Ulama: Karena ulama menghabiskan usianya untuk menjaga agama Allah, maka Allah pun menjadikan mereka sebagai orang kepercayaan-Nya di bumi.

Ulama Muta’abbid: Tidak sembarang orang berilmu disebut wali, melainkan mereka yang memadukan ilmu dengan ibadah dan akhlakul karimah.

Makna Wali: Wali artinya “yang dekat” atau “penolong”. Ulama menolong agama Allah, maka Allah pun menolong dan memuliakan mereka.

Transmisi Ilmu: Keberadaan ulama memastikan bahwa rantai keilmuan (sanad) dari Nabi Muhammad SAW tetap terjaga hingga akhir zaman.

Ancaman Kematian Hati bagi Pembenci Ulama

مَنْ يُطْلِقَنَّ لِسَانَهُ بِالتَّلْبِ

Artinya: “Barangsiapa yang melepaskan lisannya dengan cercaan/cacian…”

Lisan adalah pisau bermata dua. Menggunakannya untuk mencaci ulama berarti sedang memotong tali keberkahan dalam hidup sendiri.

فِي الْعُلَمَاءِ ابْتَلَى بِمَوْتِ الْقَلْبِ

Artinya: “…kepada para ulama, maka ia akan diberi cobaan dengan matinya hati.”

Penyakit paling berbahaya bukanlah penyakit fisik, melainkan matinya hati (mautul qalb). Hati yang mati tidak akan mampu menerima cahaya hidayah dan nasihat.

Peringatan Ibnu Asakir: Al-Imam Al-Hafidh Abul Qosim Ibnu Asakir ra. mengingatkan bahwa Allah akan menimpakan bencana berupa kematian hati sebelum kematian fisik tiba bagi penghina ulama.

Sifat “Bala’ Ati”: Dalam bahasa Jawa diistilahkan sebagai “Bala’ Ati”, sebuah musibah di mana seseorang merasa benar dalam kesesatannya karena hatinya telah tertutup.

Daging Ulama Beracun: Mengutip pesan masyhur, mencela ulama sama seperti memakan daging beracun yang akan menghancurkan sistem spiritual seseorang.

Mengapa Hati Mati? Karena ulama adalah wasilah (perantara) kita kepada Allah. Memutus hubungan dengan wasilah berarti memutus akses menuju ridha Allah.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (6): Perumpamaan Orang Munafik Membaca Al-Qur’an dalam Kitab Al-Bayan, Harum di Lisan namun Hampa di Hati

Gejala Mati Hati: Sulit menangis saat ibadah, merasa bangga saat melakukan maksiat, dan hilangnya rasa hormat kepada simbol-simbol agama.

Etika Berbeda Pendapat: NU mengajarkan bahwa kita boleh berbeda pendapat dengan ulama secara ilmiah, namun tetap wajib menjaga adab dan tidak boleh melecehkan pribadi mereka.

Pentingnya Husnuzan: Berbaik sangka kepada ulama adalah modal keselamatan. Di balik tindakan atau fatwa mereka, terdapat pertimbangan ilmu yang dalam.

Marilah kita senantiasa membasahi lisan kita dengan doa-doa kebaikan untuk para guru dan kyai kita. Menghormati ulama adalah jalan pintas mendapatkan keberkahan ilmu. Jangan sampai ambisi politik atau fanatisme buta membuat kita berani merendahkan mereka yang telah menjaga agama ini dengan tetesan keringat dan air mata.

Semoga Allah SWT menjaga hati kita agar tetap hidup, lembut, dan senantiasa mencintai para ulama. Sebab, mencintai mereka adalah bagian dari mencintai Rasulullah SAW, dan mencintai Rasulullah adalah pintu utama menuju cinta Sang Khaliq. Wallahu a’lam bisshawab.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *