Tegal. Warta NU Tegal
Menghadiri majelis ilmu bukan sekadar rutinitas mingguan atau pengisi waktu luang di sela kesibukan dunia. Bagi warga Nahdliyin, duduk bersimpuh di hadapan para kiai dan masyayikh adalah jalur utama untuk menjemput rida Allah serta menghidupkan kemanusiaan kita yang sering kali kering diterjang badai materi.
Ilmu adalah cahaya, dan majelis ilmu adalah taman surga di bumi. Tanpa sentuhan nasihat agama, hati manusia akan mengeras bahkan mati, meski raga tetap berjalan gagah di atas bumi. Inilah saripati kajian mendalam mengenai keutamaan ilmu yang disarikan dari kitab-kitab turats, membawa kita menyelami betapa berharganya setiap detik yang kita habiskan untuk belajar
Duduk di Majelis Ilmu: Sebuah Kemuliaan
Masuk pada bait pertama yang sangat masyhur di kalangan santri:
جُلُوْسُكَ سَاعَةً فِيْ مَجْلِسِ الْعِلْمِ لَا تَمَسُّ قَلَمًا وَلَا تَكْتُبُ حَرْفًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِتْقِ اَلْفِ رَقَبَةٍ
“Dudukmu satu jam di majlis taklim (majlis pengajian) walaupun tidak membawa alat tulis untuk menulis (hanya mendengarkan saja), itu lebih baik dari pada memerdekakan 1.000 budak.”
Bayangkan betapa besarnya pahala memerdekakan satu orang budak, lalu kalikan seribu. Ternyata, hanya dengan duduk diam mendengarkan ceramah kiai selama satu jam, pahalanya melampaui itu. Ini menunjukkan bahwa Allah sangat menghargai niat dan kehadiran fisik kita di tempat yang baik.
Memandang Wajah Guru Adalah Ibadah
وَنَظَرُكَ اِلَى وَجْهِ الْعَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ اَلْفِ فَرَسٍ تَصَدَّقْتَ بِهَا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ
“Memandangmu ke wajah alim ulama’, itu lebih baik daripada shodaqoh 1.000 kuda untuk sabililllah.”
Kenapa memandang wajah ulama begitu besar pahalanya? Karena wajah orang alim mengingatkan kita kepada Allah. Menatap mereka dengan rasa hormat memberikan ketenangan batin yang lebih mahal daripada menyumbangkan ribuan kuda untuk perjuangan.
Salam kepada Ulama yang Penuh Berkah
وَسَلَامُكَ عَلَى الْعَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِبَادَةِ اَلْفِ سَنَةٍ
“Ucapan salammu pada orang alim itu lebih baik daripada ibadah sunat 1.000 tahun.”
Memberi salam kepada guru atau ulama adalah bentuk adab. Di dalam NU, adab (tata krama) diletakkan di atas ilmu. Penghormatan kecil melalui salam ternyata bisa mendatangkan pahala yang setara dengan ibadah sunnah yang dikerjakan selama seribu tahun tanpa henti.
Penyesalan Terbesar di Hari Kiamat
اَشَدُّ النَّاسِ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ اَمْكَنَهُ طَلَبُ الْعِلْمِ فِي الدُّنْيَا فَلَمْ يَطْلُبْهُ
“Lebih sengsaranya manusia di hari kiamat, yaitu seseorang yang diberi kesempatan untuk mencari ilmu, tapi kesempatan itu disia-siakan.”
Nanti di hari kiamat, banyak orang akan menangis menyesal. Mereka punya waktu luang, punya fisik sehat, dan ada pengajian di dekat rumahnya, tapi mereka memilih tidak datang. Penyesalan ini sangat pedih karena waktu yang hilang tidak bisa diputar kembali.
Ilmu yang Tidak Diamalkan
وَرَجُلٌ عَلَّمَ عِلْمًا فَانْتَفَعَ بِهِ سَمِعَهُ مِنْهُ دُوْنَهُ
“Yang kedua seseorang yang diberi ilmu yang dapat dimanfaatkan orang lain, tapi dia sendiri tidak memanfaatkannya (tidak mau mengamalkan).”
Ini adalah sindiran bagi kita yang suka berbagi nasihat di media sosial tapi diri sendiri tidak melaksanakannya. Seperti lilin yang menerangi ruangan tapi dirinya sendiri hancur terbakar. Orang lain masuk surga karena ilmu kita, tapi kita sendiri merugi karena tidak mengamalkannya.
Rahasia Belajar di Masa Kecil
مَثَلُ الَّذِيْ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ فِيْ صِغَرِهِ كَالنَّقْشِ عَلَى الْحَجَرِ
“Perumpamaan orang yang belajar di waktu kecil, itu bagaikan mengukir di atas batu (bisa berhasil).”
Anak kecil memorinya sangat kuat. Apa yang diajarkan saat kecil akan melekat sampai tua, persis seperti pahatan di batu yang tidak akan hilang meski terkena hujan dan panas. Inilah pentingnya memasukkan anak-anak ke Madrasah Diniyah atau TPQ sejak dini.
Tantangan Belajar di Masa Tua
وَمَثَلُ الَّذِيْ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ فِيْ كِبَرِهِ كَالَّذِيْ يَكْتُبُ عَلَى الْمَاءِ
“Sedangkan perumpamaan orang yang belajar di saat sudah dewasa, itu laksana mengukir di atas air (tidak jadi-jadi / sulit).”
Orang dewasa pikirannya sudah banyak, memikirkan cicilan, pekerjaan, dan keluarga. Belajar di masa tua memang sulit, seperti menulis di air yang langsung hilang. Namun, ini bukan alasan untuk berhenti, melainkan pengingat agar kita lebih sabar dan telaten dalam mengaji.
Nasihat Emas Imam Syafi’i
قَالَ الشَّافِعِي : اِحْرِصْ عَلَى كُلِّ عِلْمٍ تَبْلُغُ الْاَمَلَ
“Berkata Imam Syafi’i: Bersungguh-sungguhlah pada setiap ilmu agar engkau mencapai cita-cita.”
Imam Syafi’i mengajarkan bahwa kunci kesuksesan adalah kesungguhan. Tidak ada ilmu yang didapat dengan santai-santai. Jika ingin impian terwujud, maka belajar harus menjadi prioritas utama.
Larangan Menjadi Pemalas
وَلَا تَمُوْتَنَّ بِعِلْمٍ وَاحِدٍ كَسَلًا
“Dan janganlah engkau mati (berhenti) dengan hanya memiliki satu ilmu karena rasa malas.”
Kita diingatkan untuk jangan cepat merasa puas. Dunia ini luas, ilmu Allah tidak terbatas. Jangan sampai kita berhenti belajar hanya karena sudah merasa “pintar” atau karena malas mengaji lagi.
Belajar dari Filosofi Lebah
النَّحْلُ لَمَّا رَاَتْ مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ
“Lebah itu, ketika ia melihat (mencari) dari segala macam buah-buahan…”
Lebah adalah contoh santri yang baik. Ia tidak pilih-pilih dalam mengambil kebaikan. Ia hinggap di bunga apa saja yang memiliki nektar untuk dikelola menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Menghasilkan Madu yang Manis
اَبْدَتْ لَنَا الْجَوْهَرَيْنِ السَّمْعَ وَالْعَسَلَا
“Maka ia menampakkan bagi kita dua permata, yaitu lilin (penerang) dan madu.”
Hasil dari kerja keras lebah adalah sesuatu yang sangat berguna bagi manusia. Begitu juga orang yang belajar, ia harus menghasilkan “madu” (kebaikan) bagi masyarakat sekitarnya.
Pentingnya Mendengarkan Nasihat
فَالسَّمْعُ فِي اللَّيْلِ ضَوْءٌ يُسْتَضَاءُ بِهِ
“Maka pendengaran (terhadap ilmu) di waktu malam adalah cahaya yang dijadikan penerang.”
Mendengarkan nasihat agama di tengah kegelapan dunia laksana membawa obor di malam hari. Kita tidak akan tersesat karena ada cahaya ilmu yang menuntun langkah kaki kita.
Ilmu Sebagai Obat Penawar
وَالشُّهْدُ يَبْرَى بِاِذْنِ الْبَارِئِ الْعِلَلَا
“Dan madu (ilmu yang diamalkan) itu dapat menyembuhkan penyakit dengan izin Allah Sang Pencipta.”
Sebagaimana madu fisik bisa menyembuhkan sakit badan, maka ilmu yang diamalkan dengan ikhlas bisa menyembuhkan penyakit hati seperti sombong, iri, dan dengki. Semuanya terjadi atas izin Allah.
Maka, jelaslah bagi kita bahwa tholabul ilmi adalah urat nadi kehidupan seorang mukmin. Tidak ada kata terlambat untuk kembali ke majelis taklim, bersimpuh di pojok masjid mendengarkan petuah kiai, atau sekadar menyimak kajian kitab kuning secara istikamah.
Mari kita niatkan kembali langkah kaki kita. Jangan biarkan diri kita menjadi “mayat hidup” yang berjalan tanpa arah di atas bumi. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan untuk terus belajar, mengamalkan, dan mencintai para ulama hingga akhir hayat kita.
Wallahu a’lam bisshawab.
Editor : Tahmid












