Tegal. Warta NU Tegal
Pendidikan merupakan pilar utama dalam membangun peradaban sebuah bangsa, terutama dalam membentuk karakter generasi muda yang berakhlakul karimah. Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak sejak dini menjadi tugas mulia yang tak boleh terabaikan oleh setiap orang tua dan pendidik.
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap proses pencarian ilmu dan pengasuhan anak. Sebagaimana pesan para ulama Nusantara, mendidik anak bukan sekadar memberi makan dan pakaian, melainkan memastikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa, serta menjadi tabungan amal jariyah di akhirat kelak.
Semangat Menuntut Ilmu: Ibarat Kumbang dan Bunga
“Semangatlah didalam menuntut berbagai ilmu, agar tercapai cita-cita. Janganlah sekali-sekali kamu berputus asa didalam menekuni satu ilmu saja serta jangan bermalas-malasan. Seekor Kumbang ketika kamu lihat sedang hinggap disetiap bunga yang merekah, darisana sang kumbang memperoleh dua mutiara yang amat berharga, yaitu lilin dan madu. Lilin dapat menerangi dikala malam tiba, sedang madu dengan ijin Allah dapat menyembuhkan berbagi penyakit.”
Pesan pembuka ini mengajarkan kita untuk pantang menyerah dalam belajar. Menuntut ilmu itu tidak boleh pilih-pilih atau malas, karena setiap ilmu memiliki manfaat yang berbeda-beda untuk masa depan kita.
Ibarat seekor kumbang yang rajin mendatangi bunga-bunga, ia tidak hanya sekadar hinggap. Ia bekerja keras untuk mengambil sarinya yang kemudian berubah menjadi lilin (propolis/malam) dan madu yang manis.
Lilin dalam perumpamaan ini melambangkan cahaya. Ilmu yang kita pelajari akan menjadi penerang dalam kegelapan ketidaktahuan, membantu kita melihat jalan yang benar saat hidup terasa sulit atau penuh keraguan.
Sedangkan madu adalah simbol kemanfaatan dan kesembuhan. Ilmu yang diamalkan tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi obat bagi masalah-masalah sosial di tengah masyarakat kita.
Ilmu sebagai Tanda Kebaikan dari Allah
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفْقِههُ فِي الدِّيْنِ
“Barang siapa dikehendaki Allah menjadi orang yang baik, diberilah pengetahuan tentang agama.” (Hadis Nabi)
Hadis ini menegaskan bahwa jika Allah sayang kepada seseorang dan ingin orang itu menjadi orang baik, maka cara pertama yang Allah lakukan adalah memudahkan orang tersebut untuk belajar agama.
Jadi, kalau kita merasa senang berangkat mengaji ke pesantren atau majelis taklim, itu tandanya Allah sedang menuntun kita menuju kebaikan yang hakiki. Pemahaman agama adalah pondasi dari segala perilaku.
Agama memberikan kompas moral. Tanpa pemahaman agama, kepintaran umum yang kita miliki bisa jadi salah arah. Maka, bersyukurlah mereka yang masih memiliki semangat untuk memperdalam kitab kuning dan ilmu syariat.
Kewajiban Menuntut Ilmu Bagi Semua
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ
“Mencari ilmu diwajibkan atas kaum muslimin laki-laki & perempuan”
Dalam Islam, tidak ada diskriminasi dalam pendidikan. Baik anak laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk belajar setinggi-mungkin agar tidak dibodohi oleh keadaan.
Menuntut ilmu adalah kewajiban mutlak (fardhu). Artinya, selama nyawa masih dikandung badan, proses belajar tidak boleh berhenti. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, kita mengenal prinsip belajar sepanjang hayat dari ayunan hingga liang lahat.
Ilmu membuat derajat manusia terangkat. Dengan ilmu, seorang muslim bisa beribadah dengan benar, dan dengan ilmu pula, seorang muslimah bisa mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang cerdas dan beriman.
Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi yang Kuat
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (Q.S : An Nisa’ : 9)
Ayat ini adalah pengingat keras bagi para orang tua. Kita dilarang meninggalkan generasi yang “lemah”, baik lemah secara ekonomi, lemah mental, apalagi lemah iman dan ilmu agamanya.
Kekhawatiran akan masa depan anak harus diwujudkan dengan usaha nyata. Jangan sampai anak-anak kita kelak menjadi beban masyarakat karena kita lalai mendidik mereka dengan nilai-nilai ketakwaan.
Cara terbaik menjaga anak adalah dengan bertakwa kepada Allah. Orang tua yang sholeh dan selalu menjaga lisannya dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan) akan memberikan pengaruh energi positif pada tumbuh kembang sang anak.
Harta dan Anak sebagai Perhiasan Dunia
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (Al-Kahfi: 46/dalam gambar tertulis 27)
Memang benar bahwa memiliki harta banyak dan anak yang lucu-lucu adalah kebanggaan di dunia. Namun, itu semua sifatnya sementara jika tidak dibarengi dengan amal sholeh.
Jangan sampai kita terlena hanya mengejar harta untuk warisan anak, tapi lupa membekali mereka dengan amal jariyah. Harta bisa habis, namun ilmu dan didikan yang baik akan terus mengalir pahalanya.
Ayat ini mengajak kita untuk menyeimbangkan antara urusan duniawi dan ukhrawi. Menjadikan anak sebagai “perhiasan” berarti mendidik mereka agar mempercantik catatan amal kita di hadapan Allah SWT.
Tiga Amalan yang Tak Terputus
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakannya.”
Inilah “pensiun” terbaik bagi seorang mukmin. Saat raga sudah masuk ke liang lahat dan kita tidak bisa lagi melakukan sholat atau puasa, tiga hal inilah yang akan terus mengirimkan “kiriman” pahala ke kubur kita.
Pertama, harta yang kita gunakan untuk membangun masjid atau madrasah. Kedua, ilmu yang pernah kita ajarkan kepada orang lain dan terus dipraktikkan. Ketiga, doa tulus dari anak yang kita didik secara sholeh.
Bayangkan betapa bahagianya orang tua di alam barzakh ketika setiap hari mendapatkan kiriman doa dari anaknya. Inilah alasan mengapa mendidik anak menjadi sholeh dan sholehah adalah investasi jangka panjang yang paling menguntungkan.
Anak yang sholeh tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari doa yang tak putus, keringat orang tua dalam mencari nafkah halal, dan kesabaran dalam mengenalkan mereka pada alif, ba’, ta’.
Sebagai warga Nahdliyin, mari kita jadikan momentum ini untuk kembali memperkuat komitmen kita dalam dunia pendidikan. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh tanpa bimbingan agama yang memadai di tengah gempuran teknologi saat ini.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan untuk terus menuntut ilmu dan membimbing putra-putri kita menjadi generasi yang membanggakan Rasulullah SAW. Mari kita jaga sanad ilmu dan tradisi luhur pesantren agar keberkahan selalu menaungi keluarga kita.
Editor : Tahmid












