Hikmah  

Hikmah Ramadhan (3): Kedalaman Tauhid dan Nur Muhammad dalam Lantunan Maulid Diba’i

Hikmah Ramadhan 1447 H

Avatar photo
Kitab Maulid Ad-Diba'i

Tegal. Warta NU Tegal

Pembacaan bait-bait awal Kitab Maulid Diba’i sebagaimana tampak dalam manuskrip klasik yang beredar di kalangan pesantren, selalu diawali dengan pujian agung kepada Allah SWT. Susunan kalimat Arabnya indah, berbingkai hamdalah dan tasbih, memancarkan keagungan tauhid sebelum memasuki pembahasan tentang kemuliaan Rasulullah SAW.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, teks ini tidak hanya dibaca, tetapi juga dikaji. Majelis maulid menjadi ruang transmisi ilmu dan cinta Nabi, di mana setiap bait ditadabburi maknanya agar tidak berhenti pada lantunan, melainkan meresap dalam keyakinan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman ad-Diba’i, penyusunan hamdalah panjang di awal maulid bertujuan meneguhkan fondasi tauhid sebelum menyebut kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Berikut adalah uraian mendalam mengenai kandungan bait-bait dalam kitab Maulid Diba’i sebagaimana tertera dalam naskah, yang membedah kemahakuasaan Allah dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Bait 1: Pembuka Tauhid

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْقَوِيِّ الْغَالِبِ، اَلْوَلِيِّ الطَّالِبِ

“Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Menang, Yang Maha Melindungi lagi Maha Menuntut.”

Alinea ini menegaskan bahwa segala pujian hanya milik Allah yang kekuatan-Nya tak tertandingi dan perlindungan-Nya meliputi segala sesuatu.

Bait 2: Eksistensi Allah

اَلْبَاعِثِ الْوَارِثِ الْمَانِحِ السَّالِبِ، عَالِمِ الْكَائِنِ وَالْبَائِنِ وَالزَّائِلِ وَالذَّاهِبِ

“Yang membangkitkan, yang mewarisi, yang memberi, yang mencabut; Yang Mengetahui segala yang ada, yang terpisah, yang sirna, dan yang pergi.”

Di sini, penulis menekankan sifat Ilmu Allah yang meliputi segala dimensi waktu dan keberadaan.

Bait 3: Tasbih Alam Semesta

يُسَبِّحُهُ الْأَفِلُ وَالْمَائِلُ وَالطَّالِعُ وَالْغَارِبُ، وَيُوَحِّدُهُ النَّاطِقُ وَالصَّامِتُ وَالْجَامِدُ وَالذَّائِبُ

“Bertasbih kepada-Nya yang terbenam, yang condong, yang terbit, dan yang tenggelam. Dan mengesakan-Nya yang berbicara, yang diam, yang beku, dan yang cair.”

Segenap unsur alam, baik biotik maupun abiotik, secara hakiki tunduk dan bersaksi atas keesaan-Nya.

Bait 4: Keadilan dan Anugerah

يَضْرِبُ بِعَدْلِهِ السَّاكِنَ، وَيُسْكِنُ بِفَضْلِهِ الضَّارِبَ، لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ

“Dia menggerakkan yang diam dengan keadilan-Nya, dan mendiamkan yang bergerak dengan anugerah-Nya. Tiada Tuhan selain Allah.”

Sebuah gambaran betapa dinamisnya qudrat Allah yang mengatur setiap zarah di alam semesta ini.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (7): Meraih Syafaat dan Menumbuhkan Iri yang Terpuji

Bait 5: Hikmah dalam Ciptaan

اَللهُ حَكِيْمٌ اَظْهَرَ بَدِيْعَ حِكَمِهِ وَالْعَجَائِبِ، فِيْ تَرْتِيْبِ تَرْكِيْبِ هٰذِهِ الْقَوٰالِبِ

“Allah Maha Bijaksana, yang menampakkan keindahan hikmah dan keajaiban-Nya dalam susunan struktur raga (tubuh) ini.”

Kitab Diba’i mengajak kita melakukan tadabbur atas anatomi manusia sebagai bukti kehebatan sang Khalik.

Bait 6: Detail Penciptaan Manusia

خَلَقَ مُخًّا وَعَظْمًا وَعَضَدًا وَعُرُوْقًا وَلَحْمًا وَجِلْدًا وَشَعْرًا وَدَمًا

“Dia menciptakan otak, tulang, lengan, urat nadi, daging, kulit, rambut, dan darah.”

Penjelasan ini menunjukkan bahwa setiap elemen dalam tubuh kita adalah “ayat” yang harus dibaca.

Bait 7: Keharmonisan Organ

بِنَظْمٍ مُؤْتَلِفٍ مُتَرَاكِبٍ، مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ

“Dengan susunan yang harmonis dan berlapis, dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”

Ini adalah rujukan puitis terhadap proses biologis manusia yang sesuai dengan isyarat Al-Qur’an.

Bait 8: Karomah Ilahi

لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ، كَرِيْمٌ بَسَطَ لِخَلْقِهِ بِسَاطَ كَرَمِهِ وَالْمَوَاهِبِ

“Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Mulia yang membentangkan hamparan kemuliaan dan pemberian bagi makhluk-Nya.”

Allah digambarkan sebagai tuan rumah yang sangat dermawan bagi seluruh penghuni bumi.

Bait 9: Seruan di Waktu Malam

يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ اِلٰى السَّمَاءِ الدُّنْيَا وَيُنَادِيْ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ هَلْ مِنْ تَائِبٍ

“Dia turun setiap malam ke langit dunia dan memanggil: Adakah yang memohon ampun? Adakah yang bertaubat?”

Alinea ini memotivasi hamba-Nya untuk menghidupkan malam (Qiyamul Lail) dan menjemput rahmat.

Bait 10: Pintu Hajat yang Terbuka

هَلْ مِنْ طَالِبِ حَاجَةٍ فَاُنَيْلَهُ الْمَطَالِبَ

“Adakah yang memiliki hajat, maka akan Aku kabulkan permintaannya?”

Sebuah janji Ilahi yang memberikan harapan bagi setiap insan yang sedang dalam kesulitan.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadan (2): Kemenangan Sejati dan Spirit Salawat dalam Kajian Maulid Diba’i

Bait 11: Gambaran Para Kekasih Allah

فَلَوْ رَاَيْتَ الْخُدَّامَ قِيَامًا عَلَى الْاَقْدَامِ وَقَدْ جَادُوْا بِالدُّمُوْعِ السَّوَاكِبِ

“Maka andaikata engkau melihat para hamba yang berdiri tegak di atas kaki mereka, sungguh mereka telah mengucurkan air mata yang deras.”

Kajian ini menyentuh sisi tasawuf, menggambarkan kerinduan para wali Allah saat bermunajat.

Bait 12: Antara Takut dan Harap

وَالْقَوْمُ بَيْنَ نَادِمٍ وَتَائِبٍ، وَخَائِفٍ لِنَفْسِهِ يُعَاتِبُ

“Kaum itu berada di antara rasa menyesal dan taubat, serta rasa takut yang mencela dirinya sendiri.”

Sifat Khauf (takut) dan Raja’ (harap) adalah sayap yang membawa mukmin menuju pencerahan spiritual.

Bait 13: Lari Menuju Allah

وَاٰبِقٍ مِنَ الذُّنُوْبِ اِلَيْهِ هَارِبٍ، فَلَا يَزَالُوْنَ فِي الْاِسْتِغْفَارِ

“Dan orang yang lari dari dosa-dosanya menuju kepada-Nya. Maka mereka senantiasa dalam keadaan beristighfar.”

Tak ada tempat lari dari Allah kecuali kembali bersimpuh di haribaan-Nya.

Bait 14: Penantian Fajar Rahmat

حَتّٰى يَكُفَّ كَفُّ النَّهَارِ ذُيُوْلَ الْغَيَاهِبِ، فَيَعُوْدُوْنَ وَقَدْ فَازُوْا بِالْمَطْلُوْبِ

“Hingga tangan siang melipat ekor kegelapan, maka mereka kembali dengan membawa kemenangan atas apa yang mereka cari.”

Keberhasilan spiritual diraih melalui ketekunan di kegelapan malam.

Bait 15: Kebahagiaan Mendapat Ridha

وَاَدْرَكُوْا رِضَى الْمَحْبُوْبِ وَلَمْ يَعُدْ اَحَدٌ مِنَ الْقَوْمِ وَهُوَ خَائِبٌ

“Mereka meraih ridha Sang Kekasih (Allah), dan tak seorang pun dari kaum itu yang kembali dengan tangan hampa.”

Ridha Allah adalah puncak dari segala pencapaian manusia di dunia.

Bait 16: Asal-Muasal Nur Muhammad

لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ، فَسُبْحَانَهُ تَعَالٰی مِنْ مَلِكٍ اَوْجَدَ نُوْرَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نُوْرِهِ قَبْلَ اَنْ يَخْلُقَ اٰدَمَ مِنَ الطِّيْنِ اللَّازِبِ

“Tiada Tuhan selain Allah. Maha Suci Dia, Raja yang menciptakan cahaya Nabi-Nya, Muhammad SAW, dari cahaya-Nya sebelum Dia menciptakan Adam dari tanah yang liat.”

Inilah inti dari Maulid Diba’i: keyakinan tentang Nur Muhammad sebagai ciptaan pertama yang menjadi wasilah terciptanya alam semesta.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (10): Al-Qur’an sebagai Kalamullah, Cahaya Tertinggi dan Penguat Jiwa di Bulan Ramadhan

Bait 17: Keunggulan Rasulullah di Alam Malakut

وَعَرَضَ فَخْرَهُ عَلَى الْاَشْيَاءِ وَقَالَ هٰذَا سَيِّدُ الْاَنْبِيَاءِ وَاَجَلُّ الْاَصْفِيَاءِ وَاَكْرَمُ الْحَبَائِبِ

“Dan Allah menampakkan kebanggaannya atas segala sesuatu dan berfirman: Inilah pemimpin para nabi, yang paling agung di antara orang-orang suci, dan kekasih yang paling mulia.”

Pengakuan universal dari Sang Pencipta atas otoritas dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Mengenal Kitab Maulid Diba’i

Kitab ini disusun oleh Al-Imam Wajihuddin Abdu Ar-Rahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Diba`i (866 H – 944 H). Beliau adalah seorang ulama hadits besar dari Zabid, Yaman. Keistimewaan kitab ini terletak pada untaian syairnya yang memiliki rima yang indah (saja’) serta akurasi riwayat sejarah yang bersumber dari kitab-kitab hadits mu’tabar.

Bagi kaum Nahdliyin, membaca Diba’i bukan sekadar mengingat sejarah, tapi “menghadirkan” ruh perjuangan Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kitab ini, kita diajarkan bahwa mencintai Nabi adalah sepaket dengan mengesakan Allah (Tauhid).

Sebagai penutup, mari kita jadikan momentum pembacaan Maulid sebagai sarana memperbaiki akhlak. Sebagaimana bait terakhir di atas, jika Allah saja bangga kepada Nabi Muhammad, maka sudah sepatutnya kita sebagai umatnya menjaga martabat beliau dengan perilaku yang santun dan menebar rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin).

Wallahu a’lam bisshawab.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *