Hikmah  

Hikmah Ramadhan (4): Nur Muhammad sebagai Poros Kenabian dan Puncak Kemuliaan dalam Untaian Maulid Diba’i

Hikmah Ramadhan 1447 H

Avatar photo
Kitab Maulid Ad-Diba'i

 Tegal, Warta NU Tegal

Tradisi pembacaan Maulid Diba’i bagi warga Nahdliyin bukan sekadar rutinitas musiman, melainkan manifestasi cinta yang mendalam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Di balik lantunan iramanya yang khas, terdapat narasi teologis yang kuat mengenai posisi Rasulullah sebagai poros sejarah para nabi terdahulu.

Melalui bait-bait puitis karya Imam Al-Jalil Abdurrahman ad-Diba’i, umat diajak memahami bahwa kemuliaan para Nabi, mulai dari Adam AS hingga Isa AS, sesungguhnya bersumber dan bermuara pada Nur Muhammad. Hal ini menjadi fondasi spiritual yang memperkokoh mahabbah dan keimanan seorang mukmin.

Maulid Diba’i adalah khazanah literatur yang menggabungkan ketelitian sejarah (sirah) dengan keindahan sastra (balaghah). Memahami makna di balik bait-baitnya akan membawa pembaca pada perenungan tentang jati diri manusia dan hakikat kenabian.

Uraian berikut menyajikan kajian bait-bait dari naskah Maulid Diba’i, yang secara spesifik menyoroti dialog metafisik antara para Nabi mengenai sosok “Sang Kekasih” yang akan datang membawa risalah penyempurna.

Kajian Bait dan Filosofi Kenabian

Bait 1: Kemuliaan di Sisi Nabi Adam AS

قِيْلَ هُوَ اٰدَمُ؟ قَالَ اٰدَمُ بِهٖ اَنَيْلُهُ اَعْلَى الْمَرَاتِبِ

“Ditanyakan: Apakah dia (cahaya itu) adalah Adam? Allah berfirman: Melalui dia (Muhammad), Aku memberikan Adam derajat yang paling tinggi.”

Alinea ini menjelaskan bahwa martabat mulia yang disandang Nabi Adam AS sebagai bapak manusia tidak lepas dari keberkahan cahaya Muhammad SAW yang telah diciptakan sebelumnya.

Bait 2: Penyelamat di Zaman Nabi Nuh AS

قِيْلَ هُوَ نُوْحٌ؟ قَالَ نُوْحٌ بِهٖ يَنْجُوْ مِنَ الْغَرَقِ وَيُهْلِكُ مَنْ خَالَفَهُ مِنَ الْاَهْلِ وَالْاَقَارِبِ

“Ditanyakan: Apakah dia Nuh? Allah berfirman: Melalui dia, Nuh selamat dari tenggelam dan binasalah orang-orang yang menyelisihinya dari keluarga dan kerabatnya.”

Kajian ini menegaskan bahwa wasilah cahaya Nabi Muhammad menjadi sebab turunnya keselamatan bagi Nabi Nuh AS dan kehancuran bagi para penentang kebenaran.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (9): Rindu yang Mengetuk Pintu Langit, Menyelami Kedalaman Cinta dalam Maulid Diba’i

Bait 3: Hujjah bagi Nabi Ibrahim AS

قِيْلَ هُوَ اِبْرَاهِيْمُ؟ قَالَ اِبْرَاهِيْمُ بِهٖ تَقُوْمُ حُجَّتُهُ عَلَى عُبَّادِ الْاَصْنَامِ وَالْكَوَاكِبِ

“Ditanyakan: Apakah dia Ibrahim? Allah berfirman: Melalui dia, tegaklah hujjah (argumentasi) Ibrahim atas para penyembah berhala dan bintang.”

Kemampuan retorika dan ketajaman logika Nabi Ibrahim AS dalam mendebat kaum musyrik merupakan pancaran dari kemuliaan Muhammad SAW.

Bait 4: Muhammad dan Nabi Musa AS

قِيْلَ هُوَ مُوسَى؟ قَالَ مُوسَى اَخُوْهُ وَلَكِنْ هٰذَا حَبِيْبٌ وَمُوْسَى كَلِيْمٌ وَمُخَاطِبٌ

“Ditanyakan: Apakah dia Musa? Allah berfirman: Musa adalah saudaranya, namun ini (Muhammad) adalah Kekasih, sedangkan Musa adalah orang yang diajak bicara (oleh Allah).”

Di sini terlihat distingsi maqam: Nabi Musa AS sebagai Kalimullah (yang diajak bicara), sementara Rasulullah SAW sebagai Habibullah (Kekasih Allah).

Bait 5: Kabar Gembira dari Nabi Isa AS

قِيْلَ هُوَ عِيْسَى؟ قَالَ عِيْسَى يُبَشِّرُ بِهٖ وَهُوَ بَيْنَ يَدَيْ نُبُوَّتِهٖ كَالْحَاجِبِ

“Ditanyakan: Apakah dia Isa? Allah berfirman: Isa memberi kabar gembira tentangnya, dan keberadaan Isa di hadapan kenabiannya bagaikan seorang pengawal/ajudan.”

Nabi Isa AS diposisikan sebagai pembuka jalan (mubasysyir) yang mengumumkan kedatangan sang nabi akhir zaman.

Bait 6: Identitas Sang Kekasih Mulia

قِيْلَ فَمَنْ هٰذَا الْحَبِيْبُ الْكَرِيْمُ الَّذِيْ اَلْبَسْتَهُ حُلَّةَ الْوَقَارِ

“Ditanyakan: Maka siapakah Kekasih yang mulia ini, yang telah Engkau pakaikan kepadanya jubah kewibawaan?”

Sebuah pertanyaan retoris yang menggugah rasa penasaran mahluk langit akan keagungan sosok Muhammad SAW.

Bait 7: Mahkota Kewibawaan

وَتَوَّجْتَهُ بِتِيْجَانِ الْمَهَابَةِ وَالْاِفْتِخَارِ وَنَشَرْتَ عَلَى رَأْسِهِ الْعَصَائِبَ

“Dan Engkau mahkotai dia dengan mahkota kewibawaan dan kebanggaan, serta Engkau bentangkan panji-panji di atas kepalanya?”

Simbol mahkota dan panji menggambarkan kepemimpinan mutlak Rasulullah atas seluruh umat manusia.

Baca Lainnya  Kajian Ramadhan: Menyelami Hikmah “Yuqro Qoblal Maulid” dalam Kitab Maulid Ad-Diba’i

Bait 8: Pengumuman Nama dan Nasab

قَالَ هُوَ نَبِيٌّ اسْتَخْرَجْتُهُ مِنْ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبٍ

“Allah berfirman: Dia adalah seorang Nabi yang Aku keluarkan dari keturunan Lu’ay bin Ghalib.”

Ini merujuk pada silsilah suci Rasulullah yang terjaga kemuliaannya melalui garis keturunan kaum Quraisy.

Bait 9: Yatim yang Terpilih

يَمُوْتُ اَبُوْهُ وَاُمُّهُ وَيَكْفُلُهُ جَدُّهُ ثُمَّ عَمُّهُ الشَّقِيْقُ اَبُوْ طَالِبٍ

“Ayah dan ibunya wafat, kemudian dia diasuh oleh kakeknya, lalu oleh paman kandungnya, Abu Thalib.”

Garis takdir sebagai anak yatim menunjukkan bahwa Rasulullah dididik langsung oleh Allah (ad-dabani rabbi) tanpa ketergantungan pada manusia.

Bait 10: Puncak Kedekatan dengan Sang Pencipta

Seluruh rangkaian dialog antar nabi di atas bermuara pada kesimpulan bahwa Muhammad SAW adalah ciptaan paling dicintai. Kedudukan beliau melampaui batas-batas kemanusiaan biasa, menjadi jembatan rahmat bagi seluruh alam sesuai firman Allah: Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin.

Penutup: Membumikan Nilai Diba’i

Penting untuk ditegaskan bahwa pembacaan Maulid Diba’i dalam tradisi Nahdliyin adalah upaya untuk terus menyambung sanad kecintaan kepada Nabi. Dengan memahami bahwa setiap Nabi pun “merindukan” dan “mengakui” keutamaan Muhammad SAW, maka sudah sepatutnya kita sebagai umatnya merasa bangga dan berkomitmen mengikuti sunnahnya.

Oleh karena itu, kajian atas bait-bait Diba’i ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas spiritualitas kita. Jangan sampai selawat hanya berhenti di tenggorokan, namun harus meresap ke dalam sanubari dan terwujud dalam perilaku sosial yang santun, moderat, dan penuh kasih sayang.

Semoga keberkahan dari untaian sejarah suci ini senantiasa mengalir pada kita, keluarga, dan bangsa Indonesia, sehingga kita semua kelak mendapatkan syafaat dari Sang Kekasih Mulia, Nabi Muhammad SAW, di hari kiamat nanti.

Baca Lainnya  KH Ali Mughni Mangli: Nikmat Iman, Islam, dan Sehat Wajib Disyukuri dengan Ngaji dan Sholat

Wallahu a’lam bisshawab.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *