Hikmah  

Hikmah Ramadhan (5) : Menelusuri Keluhuran Budi dan Mukjizat Sang Musthafa dalam Bait-Bait Maulid Diba’i

Hikmah Ramadhan 1447 H

Avatar photo
Kitab Maulid Ad-Diba'i

Tegal, Warta NU Tegal

Mengenal sosok Baginda Nabi Muhammad SAW bukan sekadar mengetahui tarikh kelahirannya, melainkan menyelami samudra keagungan sifat dan mukjizat yang melekat pada dirinya. Salah satu medium paling populer di kalangan Nahdliyin untuk memupuk mahabbah tersebut adalah melalui pembacaan Kitab Maulid Diba’i karya Imam Wajihuddin Abdu Ar-Rahman bin Muhammad ad-Diba’i asy-Syaibani.

Kitab ini bukan sekadar susunan prosa dan puisi biasa, melainkan rekaman spiritual yang memotret fisik dan batin Sang Nabi dengan begitu puitis. Dalam rutinan selawat, bait-bait ini sering kali menggetarkan hati jamaah, membawa imajinasi pada sosok yang dinaungi awan dan dicintai oleh alam semesta.

Berikut adalah kajian mendalam bait-bait Maulid Diba’i yang termaktub dalam naskah halaman 56 dan 57, mengupas tuntas karakteristik kenabian yang menjadi teladan abadi:

Kajian Per-Bait dan Makna Filosofis

Bait 1 : Asal Muasal

يُبْعَثُ مِنْ تِهَامَةَ بَيْنَ يَدَيِ الْقِيَامَةِ

“Ia diutus dari tanah Tihamah (Makkah) menjelang hari kiamat.”

Alinea ini menegaskan posisi Rasulullah saw sebagai Khatamul Anbiya (Penutup para Nabi) yang muncul dari jazirah Arab sebagai rahmat bagi semesta alam di akhir zaman.

Bait 2 : Tanda Kenabian

فِيْ ظَهْرِهِ عَلَامَةٌ تُظِلُّهُ الْغَمَامَةُ

“Di punggungnya terdapat tanda kenabian, dan awan senantiasa menaunginya.”

Penjelasan ini merujuk pada Khatamun Nubuwwah di antara pundak beliau dan mukjizat awan yang melindungi beliau dari terik matahari sejak masa belia.

Bait 3 : Ketaatan Alam

تُطِيْعُهُ السَّحَائِبُ

“Awan-awan pun patuh kepadanya.”

Kajian ini menunjukkan bahwa seluruh unsur alam, termasuk mendung dan hujan, tunduk pada kehendak Allah melalui doa dan isyarat sang Nabi.

Bait 4 : Ciri Fisik: Dahi dan Rambut

فَجْرِيُّ الْجَبِيْنِ لَيْلِيُّ الذَّوَائِبِ

“Dahinya laksana fajar yang terang, dan rambutnya hitam pekat bagaikan malam.”

Imam ad-Diba’i menggambarkan keelokan rupa Nabi yang proporsional, melambangkan keseimbangan antara cahaya petunjuk (fajar) dan ketenangan (malam).

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (8): Iri yang Bernilai Ibadah, Belajar dari Ahli Al-Qur’an dan Hamba yang Gemar Bersedekah

Bait 5 : Ciri Fisik: Hidung dan Mulut

أَلِفِيُّ الْأَنْفِ مِيْمِيُّ الْفَمِ

“Hidungnya mancung (seperti alif) dan mulutnya mungil indah (seperti huruf mim).”

Secara tekstual, ini menggambarkan kesempurnaan estetika wajah Rasulullah yang sangat berwibawa namun tetap lembut dipandang.

Bait 6 : Ciri Fisik: Alis dan Pendengaran

نُوْنِيُّ الْحَاجِبِ سَمْعُهُ يَسْمَعُ صَرِيْرَ الْقَلَمِ

“Alisnya melengkung (seperti huruf nun), dan pendengarannya mampu mendengar goresan kalam (di Lauhul Mahfudz).”

Ini menunjukkan ketajaman indra Nabi yang melampaui batas manusia biasa, menembus dimensi malakut.

Bait 7 : Ketajaman Pandangan

بَصَرُهُ إِلَى السَّبْعِ الطِّبَاقِ ثَاقِبٌ

“Pandangannya menembus hingga ke langit tujuh.”

Alinea ini mengacu pada peristiwa Isra’ Mi’raj, di mana penglihatan beliau tidak silau dan tidak menyimpang saat melihat kebesaran Allah.

Bait 8 : Kemuliaan Kaki

قَدَمَاهُ قَبَّلَهُمَا الْبَعِيْرُ فَأَزَالَتَا مَا اشْتَكَاهُ مِنَ الْمِحَنِ وَالنَّوَائِبِ

“Kedua kakinya dicium oleh unta, maka hilanglah kesusahan dan beban yang diadukan unta tersebut.”

Kajian ini menyinggung mukjizat hewan yang mengadu kepada Nabi atas perlakuan kasar pemiliknya, dan Nabi hadir sebagai penyayang binatang.

Bait 9 : Keimanan Hewan Melata

آمَنَ بِهِ الضَّبُّ وَسَلَّمَتْ عَلَيْهِ الْأَشْجَارُ

“Biawak padang pasir beriman kepadanya dan pepohonan pun mengucapkan salam kepadanya.”

Alam nabati dan hewani mengenali kenabian beliau, sebuah tamparan bagi manusia yang masih enggan beriman.

Bait 10 : Benda Mati Berbicara

وَخَاطَبَتْهُ الْأَحْجَارُ وَحَنَّ إِلَيْهِ الْجِذْعُ حَنِيْنَ حَزِيْنٍ نَادِبٍ

“Batu-batu berbicara kepadanya, dan batang pohon kurma merintih sedih (saat ditinggalkan beliau).”

Kisah Hananul Jidzi (tangisan batang kurma) adalah bukti betapa indahnya hubungan emosional Rasulullah dengan makhluk tak bernyawa.

Bait 11 : Barakah Tangan

يَدَاهُ تَظْهَرُ بَرَكَتُهُمَا فِي الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ

“Kedua tangannya nampak keberkahannya dalam makanan dan minuman.”

Seringkali dalam sirah Nabawiyah, makanan yang sedikit menjadi cukup untuk ratusan orang berkat sentuhan tangan beliau.

Baca Lainnya  KH Ali Mughni Mangli: Nikmat Iman, Islam, dan Sehat Wajib Disyukuri dengan Ngaji dan Sholat

Bait 12 : Kewaspadaan Hati

قَلْبُهُ لَا يَغْفُلُ وَلَا يَنَامُ وَلَكِنْ لِلْخِدْمَةِ عَلَى الدَّوَامِ مُرَاقِبٌ

“Hatinya tidak pernah lalai dan tidak tidur, melainkan selalu waspada untuk beribadah secara terus-menerus.”

Nabi saw tidur matanya, namun hatinya selalu tersambung (muraqabah) kepada Allah Swt.

Bait 13 : Keluhuran Akhlak

إِنْ أُوْذِيَ يَعْفُ وَلَا يُعَاقِبُ

“Jika beliau disakiti, beliau memaafkan dan tidak membalas dengan hukuman.”

Inilah inti dari kemuliaan akhlak. Nabi tidak pernah mendendam secara pribadi. Beliau adalah samudera maaf bagi mereka yang jahil sekalipun.

Bait 14 : Keteguhan dalam Debat

وَإِنْ خُوْصِمَ يَصْمُتُ وَلَا يُجَاوِبُ

“Jika didebat (dengan buruk), beliau diam dan tidak melayani (pertengkaran).”

Diamnya Nabi adalah hikmah. Beliau tidak menghabiskan energi untuk perdebatan yang tidak bermanfaat, melainkan menunjukkan kebenaran melalui perilaku.

Bait 15 : Puncak Kedudukan dan Keistimewaan Buraq

أَرْفَعُهُ إِلَى أَشْرَفِ الْمَرَاتِبِ فِي رَكْبَةٍ لَا تَنْبَغِي قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ لِرَاكِبٍ

“Aku (Allah) mengangkatnya ke derajat paling mulia, dengan kendaraan (Buraq) yang tidak layak bagi pengendara sebelum maupun sesudahnya.”

Perjalanan Mi’raj adalah legitimasi bahwa Nabi Muhammad memiliki kedudukan yang tak tertandingi oleh nabi-nabi sebelumnya maupun manusia setelahnya.

Bait 17 : Melampaui Seluruh Makhluk

فِيْ مَوْكِبٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ يَفُوْقُ عَلَى سَائِرِ الْمَوَاكِبِ

“Dalam iringan malaikat yang mengungguli seluruh iring-iringan lainnya.”

Rasulullah adalah panglima para nabi dan rasul, dikawal oleh penduduk langit menuju Sidratul Muntaha.

Bait 18 : Puncak Kedekatan

فَإِذَا ارْتَقَى عَلَى الْكَوْنَيْنِ وَانْفَصَلَ عَنِ الْعَالَمَيْنِ وَوَصَلَ إِلَى قَابَ قَوْسَيْنِ كُنْتُ لَهُ أَنَا النَّدِيْمُ وَالْمُخَاطِبُ

“Maka ketika beliau naik melampaui alam semesta dan sampai pada jarak dua busur panah, Allah berfirman: Akulah temannya dan yang berbicara kepadanya.”

Inilah maqam Qaba Qausain, puncak kedekatan makhluk dengan Sang Khalik yang hanya dicapai oleh Nabi Muhammad saw.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (19): Investasi Terbaik Orang Tua—Menyiapkan Generasi Saleh dalam Cahaya Al-Qur’an

Melalui 18 poin kajian di atas, kita disadarkan bahwa setiap jengkal fisik dan perilaku Rasulullah adalah ayat-ayat Allah yang nyata. Kesempurnaan fisik yang digambarkan dengan huruf alif, mim, dan nun, hingga mukjizat alam yang tunduk, semuanya bermuara pada satu simpulan: Muhammad saw adalah manusia paling sempurna yang pernah menginjakkan kaki di bumi.

Semoga dengan mendalami makna tiap bait ini, kecintaan kita kepada Rasulullah saw semakin kokoh, sehingga kita layak mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti. Wallahu a’lam bisshawab.

 Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *