Tegal. Warta NU Tegal
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian materialistik, umat Islam seringkali terjebak dalam kompetisi kemewahan yang melelahkan hati. Namun, Rasulullah SAW memberikan kompas spiritual melalui lisan sucinya agar kita mampu menata prioritas kehidupan, yakni dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pendamping setia dan hanya menanamkan rasa iri pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Sang Khaliq.
Kajian kali ini akan membedah kandungan nubuwah yang termaktub dalam Kitab Al-Bayan, sebuah kitab yang memahami mutiara hadits. Melalui sanad yang tersambung hingga Baginda Nabi, kita diajak untuk memahami bagaimana teks suci bukan sekadar bacaan, melainkan pembela di hari pembalasan kelak.
Mari kita selami lebih dalam 18 butir hikmah yang terangkai dari dua hadits utama mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an dan batasan dalam rasa iri (hasad), sebagaimana yang lazim dikaji oleh para kiai dan masyayikh Nahdlatul Ulama dalam majelis-majelis ilmu.
Kajian Hadits Pertama: Al-Qur’an sebagai Penolong
Hadits pertama dibuka dengan perintah lugas dari Rasulullah SAW:
اقْرَؤُا القُرْآنَ
“Bacalah Al-Qur’an…”
Kalimat ini bukan sekadar anjuran, melainkan undangan kemuliaan bagi setiap Mukmin untuk berinteraksi dengan wahyu Allah.
Dalam tradisi pesantren, membaca Al-Qur’an adalah riyadhah (latihan) jiwa yang paling utama. Tidak hanya sekadar lisan yang bergerak, namun hati yang ikut bergetar.
Mengapa kita perlu membaca Al-Qur’an? Rasulullah SAW kemudian menjelaskan alasannya dengan penjelasan yang sangat mendasar dan penting bagi kehidupan kita :
فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا
“…karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat (penolong)…”
Syafaat adalah bantuan yang paling dibutuhkan manusia saat matahari sejengkal di atas kepala. Di saat tidak ada naungan selain naungan-Nya, Al-Qur’an hadir menjelma sebagai pembela.
Al-Qur’an digambarkan sebagai sosok yang akan berargumen di hadapan Allah untuk menyelamatkan pembacanya dari api neraka.
Syafaat ini dikhususkan bagi:
لِأَصْحَابِهِ
“…bagi para pembacanya (sahabat Al-Qur’an).”
Penggunaan kata “Ashab” (Sahabat) menunjukkan kedekatan. Seseorang disebut sahabat jika ia sering berinteraksi, mengenal dekat, dan tidak pernah meninggalkan yang ia sayangi.
Menjadi “Sahabat Al-Qur’an” berarti menjadikan tilawah sebagai wirid harian, bukan sekadar bacaan saat sempat, apalagi hanya saat dilanda kesusahan.
Dalam Kitab Al-Bayan, ditekankan bahwa huruf-huruf yang kita eja dengan terbata-bata sekalipun, akan bertransformasi menjadi cahaya di alam barzakh.
Kajian Hadits Kedua: Iri Hati yang Dibolehkan
Pindah ke pembahasan berikutnya, Rasulullah SAW memberikan rambu-rambu mengenai penyakit hati melalui hadits:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ
“Tidak boleh iri hati (hasad), kecuali kepada dua macam orang.”
Secara umum, hasad adalah penyakit kronis yang menghapuskan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Namun, Islam memberikan pengecualian yang bersifat edukatif.
Pengecualian pertama adalah iri kepada orang yang dianugerahi harta oleh Allah, lalu ia habiskan di jalan kebenaran. Ini adalah Ghibthah (iri yang positif).
Pengecualian kedua adalah iri kepada orang yang diberikan ilmu (Al-Qur’an dan Hikmah), lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.
Mengapa hanya dua hal ini? Karena harta yang digunakan di jalan Allah dan ilmu yang diamalkan adalah dua pilar tegaknya peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Hadits ini mengajarkan kita untuk berkompetisi dalam kebaikan (fastabiqul khairat), bukan iri pada kedudukan duniawi atau kemewahan yang semu.
Warga NU diajarkan untuk menghormati para ahli ilmu. Jika kita melihat seorang ulama yang alim, rasa iri yang muncul harusnya memicu semangat kita untuk juga belajar, bukan untuk menjatuhkan.
Begitu pula dengan harta. Kekayaan dalam pandangan nahdliyin adalah sarana untuk berkhidmat kepada umat, membangun pesantren, dan menyantuni anak yatim.
Sinkronisasi kedua hadits ini adalah: Al-Qur’an sebagai pedoman (Hadits 1) harus didukung dengan semangat pengabdian dan kedermawanan tanpa rasa dengki (Hadits 2).
Sebagai simpulan, dua hadits dalam Kitab Al-Bayan ini merupakan satu kesatuan kurikulum kehidupan. Membaca Al-Qur’an memberikan kita jaminan keselamatan di akhirat, sementara mengelola hati dari hasad memberikan kita ketenangan selama hidup di dunia.
Kiai-kiai kita sering berpesan bahwa keberkahan hidup tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan seberapa sering lisan kita basah oleh kalamullah dan seberapa bersih hati kita dari penyakit iri terhadap pencapaian orang lain.
Semoga Allah SWT menggolongkan kita sebagai Ahlul Qur’an yang kelak mendapatkan syafaat di hari kiamat, serta menjauhkan hati kita dari sifat hasad yang tercela, sehingga kita bisa hidup berdampingan dalam harmoni iman dan ukhuwah Islamiyah. Wallahu a’lam bisshawab.
Editor : Tahmid












