Jatinegara, Warta NU Tegal
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, keluarga besar Nahdlatul Ulama Kabupaten Tegal bergerak cepat merampungkan pembangunan mushalla darurat di lokasi pengungsian korban bencana tanah bergerak Desa Padasari Kecamatan Jatinegara.
Pembangunan mushalla tersebut berada di bawah koordinasi NU Peduli PCNU Kabupaten Tegal, sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan fasilitas ibadah yang layak bagi para pengungsi.
Pada Senin (16/2/2026), jajaran Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kabupaten Tegal bersama para Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Kasatkoryon) Bojong, Jatinegara, Bumijawa, serta anggota Bagana turut bergotong royong menyelesaikan pembangunan mushalla tersebut.
Ketua LPBI PCNU Kabupaten Tegal, Imam Kusyairi, menegaskan bahwa keberadaan mushalla menjadi kebutuhan mendesak di tengah situasi darurat.
“Maka mushalla menjadi kebutuhan penting, apalagi menjelang bulan suci Ramadhan agar para pengungsi tetap bisa beribadah dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan mushalla darurat tersebut bersumber dari donasi NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah.
“Alhamdulillah, pembangunan ini merupakan hasil sumbangsih dari NU Peduli PWNU Jawa Tengah yang diperuntukkan bagi warga terdampak,” jelasnya.
Menurut Imam, mushalla darurat tersebut dirancang dengan ukuran 10 x 12 meter agar mampu menampung jamaah pengungsi.
“Mushalla ini dibangun dengan rangka baja ringan, dinding galvalum, serta dilengkapi lantai agar lebih kokoh dan nyaman,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa proses pembangunan ditargetkan rampung dalam waktu tiga hari.
“Kami kebut pengerjaannya agar segera selesai, sehingga bisa digunakan secepatnya,” katanya.
Imam berharap mushalla tersebut sudah dapat difungsikan pada malam pertama tarawih.
“Insyaallah besok sudah bisa ditempati. Kami berharap mushalla ini sudah bisa digunakan saat malam pertama tarawih,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti bahwa hunian sementara kemungkinan masih membutuhkan waktu cukup lama.
“Mengingat hunian sementara kemungkinan masih lama, maka mushalla ini sangat dibutuhkan untuk menjaga semangat ibadah warga,” pungkasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kasatkorcab Banser Kabupaten Tegal, M. Zaenudin, menginstruksikan seluruh jajaran Banser untuk turut serta dalam penyelesaian mushalla tersebut.
“Kepada jajaran Satkorcab dan Kasatkoryon se-Kabupaten Tegal, mari bersama-sama merampungkan mushalla di pengungsian NU Peduli,” tegasnya.
Ia menyebut keterlibatan Banser sebagai bagian dari pengabdian kepada umat dan jam’iyah.

“Ini adalah bentuk khidmat Banser kepada NU dan masyarakat yang sedang tertimpa musibah,” ujarnya.
Zaenudin berharap seluruh personel diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
“Semoga sahabat-sahabat semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan diberikan kesehatan selalu,” doanya.
Ia juga menegaskan pentingnya kebersamaan dalam kerja-kerja sosial NU.
“Gotong royong seperti ini adalah tradisi Nahdliyin. Kita hadir tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga membantu kebutuhan spiritual masyarakat,” katanya.
Menurutnya, mushalla darurat ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol harapan dan keteguhan iman para pengungsi.
“Mushalla ini menjadi pusat kekuatan batin warga agar tetap sabar dan istiqamah menghadapi ujian,” imbuhnya.
Pembangunan mushalla darurat ini menjadi bukti nyata sinergi antara LPBI NU, Banser, dan NU Peduli dalam merespons bencana secara menyeluruh—baik aspek kemanusiaan maupun spiritual.
Di tengah keterbatasan akibat bencana, semangat gotong royong warga Nahdliyin terus menyala, memastikan para pengungsi tetap dapat menyambut Ramadhan dengan khusyuk dan penuh harapan.
Semoga ikhtiar ini menjadi amal jariyah bagi seluruh pihak yang terlibat serta menghadirkan keberkahan bagi warga terdampak, sehingga Ramadhan tetap menjadi bulan penuh rahmat meski di tengah ujian.
Editor : Tahmid
Kontributor : Marzuki













Mantapp