Hikmah  

Kajian Kitab Safinatun Najah (1): Menelusuri Makna dan Keberkahan dalam Mukadimah Karya Syaikh Salim bin Sumair

Avatar photo

Tegal, Warta NU Tegal

Mempelajari agama bukan sekadar mengisi kepala dengan informasi, melainkan upaya menjemput hidayah agar hidup lebih terarah. Di kalangan nahdliyin, kitab Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami telah lama menjadi “pintu masuk” utama bagi santri pemula untuk memahami syariat. Namun, seringkali kita terburu-buru masuk ke bab wudu tanpa meresapi bait-bait mukadimah yang justru mengandung filosofi tauhid dan adab yang sangat mendalam.

Keberkahan ilmu bermula dari bagaimana seorang hamba memuji Tuhannya dan berselawat kepada Nabinya di awal kitab. Mukadimah ini bukan sekadar formalitas kepenulisan, melainkan sebuah pernyataan sikap seorang hamba yang faqir di hadapan Allah SWT. Berikut adalah ulasan mendalam bait demi bait dari naskah klasik tersebut untuk kita jadikan pedoman hidup sehari-hari.

Mukadimah dan Filosofi Kehidupan

Pembukaan Utama (Hadits Nabi)

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.”

Alinea ini merupakan jaminan dari Rasulullah SAW bahwa indikator seseorang dicintai Allah bukanlah hartanya yang melimpah, melainkan rasa haus dan fahamnya ia terhadap ilmu agama.

Implementasi Kefahaman Agama

Memahami agama (tafaqquh) bukan berarti harus menjadi mufti, melainkan tahu mana yang halal dan haram dalam pekerjaan kita. Contohnya, seorang pedagang yang faham agama tidak akan mengurangi timbangan karena ia faham hukumnya.

Memulai dengan Nama Sang Pencipta

بِسْمِ اللهِ

“Dengan menyebut nama Allah.”

Segala sesuatu yang besar harus dimulai dari yang Maha Besar. Mengucapkan Bismillah sebelum makan atau menyalakan motor adalah bentuk pengakuan bahwa kita tidak bisa apa-apa tanpa izin-Nya.

Sifat Kasih Sayang Allah yang Luas

الرَّحْمَنِ

“Yang Maha Pengasih.”

Sifat Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah yang diberikan kepada seluruh makhluk di dunia, baik yang beriman maupun tidak. Contohnya, oksigen yang kita hirup gratis adalah bentuk Rahman-Nya Allah.

Kasih Sayang Khusus di Akhirat

الرَّحِيمِ

“Yang Maha Penyayang.”

Berbeda dengan sebelumnya, Ar-Rahim adalah kasih sayang khusus untuk hamba-Nya yang beriman di akhirat kelak. Ini memotivasi kita untuk tetap istiqamah agar mendapatkan tiket kasih sayang eksklusif ini.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (4): Nur Muhammad sebagai Poros Kenabian dan Puncak Kemuliaan dalam Untaian Maulid Diba’i

Puncak Segala Pujian

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ

“Segala puji bagi Allah.”

Kalimat ini adalah benteng dari sifat sombong. Jika kita berprestasi, ingatkan hati bahwa pujian itu milik Allah. Kita hanyalah “kurir” yang menyampaikan kebaikan yang Allah titipkan.

Allah Sang Pemelihara Semesta

رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Tuhan semesta alam.”

Kata Rabb bermakna mendidik dan memelihara. Sebagaimana seorang ibu merawat bayinya, Allah merawat seluruh alam ini. Hal ini mengajarkan kita untuk tidak perlu khawatir berlebihan soal rezeki.

Sandaran di Tengah Kesulitan

وَبِهِ نَسْتَعِينُ

“Dan kepada-Nya kami memohon pertolongan.”

Dalam kehidupan sosial yang makin keras, manusia sering merasa sendiri. Bait ini mengingatkan bahwa ada tempat bersandar yang tidak pernah mengecewakan, yaitu Allah SWT.

Urusan Dunia yang Tertata

عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا

“Atas urusan-urusan dunia.”

Mencari nafkah, mengurus anak, dan bersosialisasi adalah urusan dunia yang melelahkan. Memohon pertolongan Allah dalam hal ini akan mengubah lelah dunia menjadi lillah (karena Allah).

Urusan Agama sebagai Prioritas

وَالدِّينِ

“Dan urusan agama.”

Ibadah membutuhkan taufiq. Banyak orang sehat tapi berat melangkah ke masjid. Kita butuh pertolongan Allah agar hati kita “ringan” untuk menjalankan perintah-Nya.

Keseimbangan (Tawassuth) ala NU

Penyebutan dunia dan agama secara berurutan mengajarkan kita untuk tidak jomplang. Warga NU dididik untuk sukses di sawah atau kantor, namun tetap terjaga salat berjamaahnya.

Selawat sebagai Tanda Cinta

وَصَلَّى اللهُ

“Dan semoga Allah memberikan rahmat.”

Selawat adalah investasi langit. Membaca selawat saat menghadapi masalah pelik seringkali mendatangkan jalan keluar yang tidak disangka-sangka (min haitsu la yahtasib).

Keselamatan bagi Baginda Nabi

وَسَلَّمَ

“Dan salam sejahtera.”

Memohonkan keselamatan bagi Nabi sebenarnya kembali kepada kita sendiri. Satu kali berselawat, Allah balas dengan sepuluh kali rahmat.

Adab dalam Menyebut Nama Nabi

عَلَى سَيِّدِنَا

“Kepada junjungan kita.”

Warga NU menggunakan kata Sayyidina sebagai bentuk etika (adab). Ibarat memanggil pejabat dengan “Bapak”, apalagi kepada kekasih Allah, tentu harus dengan sebutan yang paling mulia.

Muhammad: Sang Pembawa Risalah

مُحَمَّدٍ

“Nabi Muhammad.”

Beliau adalah wasilah kita mengenal Islam. Tanpa bimbingan beliau yang tertuang dalam hadits-hadits, kita tidak akan tahu bagaimana cara menyembah Allah dengan benar.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (19): Investasi Terbaik Orang Tua—Menyiapkan Generasi Saleh dalam Cahaya Al-Qur’an

Penutup Para Nabi (Khatamun Nabiyyin)

خَاتَمِ النَّبِيِّينَ

“Penutup para Nabi.”

Prinsip ini sangat krusial di era sekarang. Ini menegaskan bahwa tidak ada kebenaran mutlak dari orang yang mengaku nabi baru. Umat Islam harus waspada terhadap ajaran menyimpang.

Doa untuk Keluarga Nabi

وَآلِهِ

“Dan atas keluarganya.”

Keluarga Nabi (dzurriyatun nabi) adalah perahu keselamatan. Mencintai para habaib yang lurus adalah bagian dari menjalankan wasiat Nabi yang tersirat dalam doa ini.

Doa untuk Para Sahabat

وَصَحْبِهِ

“Dan para sahabatnya.”

Sahabat adalah teladan dalam kesetiaan. Dalam kehidupan berorganisasi di NU, kita meneladani sahabat dalam hal ketaatan kepada pimpinan dan perjuangan membela agama.

Persatuan dalam Doa

أَجْمَعِينَ

“Semuanya.”

Kalimat ini inklusif. Kita tidak membeda-bedakan sahabat. Ini mengajarkan kita untuk tidak menjadi pribadi yang suka memecah belah dan membenci kelompok lain secara membabi buta.

Menyadari Ketiadaan Daya Manusia

وَلَا حَوْلَ

“Dan tiada daya.”

Maksudnya adalah tidak ada daya untuk menghindari kemaksiatan. Jika kita terhindar dari judi atau narkoba, itu bukan karena kita hebat, tapi karena Allah yang menjauhkan kita.

Menyadari Ketiadaan Kekuatan Manusia

وَلَا قُوَّةَ

“Dan tiada kekuatan.”

Kekuatan untuk sedekah atau mengaji adalah murni “pinjaman” dari Allah. Kesadaran ini mematikan benih sombong di dalam hati santri.

Hakikat Kalimat Hawqalah

إِلَّا بِاللهِ

“Kecuali dengan pertolongan Allah.”

Inilah puncak kepasrahan. Kalimat ini sering dibaca warga NU saat menghadapi bencana atau musibah sebagai bentuk penyerahan total kepada kehendak Ilahi.

Allah yang Maha Tinggi

الْعَلِيِّ

“Yang Maha Tinggi.”

Ketika kita merasa rendah karena kemiskinan atau status sosial, ingatlah bahwa kita punya Tuhan yang Maha Tinggi. Jangan pernah merasa rendah di hadapan sesama manusia.

Allah yang Maha Agung

الْعَظِيمِ

“Yang Maha Agung.”

Keagungan Allah menelan segala kehebatan dunia. Hal ini membuat seorang muslim tetap tenang meski menghadapi penguasa yang zalim sekalipun.

Pentingnya Sanad Keilmuan

Kitab ini memiliki makna antarlini (makna gandul). Ini adalah ciri khas pesantren. Mengaji kitab dengan makna seperti ini memastikan kita tidak “salah tafsir” karena didampingi penjelasan guru.

Kejujuran Penulis (Al-Faqir)

Baca Lainnya  Kiai Muhemin: Pendidikan Agama Penyangga Keselamatan Umat, Jangan Tinggalkan Ngaji

Di bagian akhir tertulis Al-Faqir Ahmad bin Hajar. Penulis menyebut dirinya miskin (ilmu). Ini teladan agar kita tidak pernah merasa pintar dan selalu merasa butuh akan tambahan ilmu.

Islam adalah Agama Ilmu

Seluruh mukadimah ini bernuansa ilmu. Dalam hidup, jangan bertindak tanpa ilmu. Membangun rumah butuh ilmu teknik, membangun akhirat butuh ilmu fiqih.

Pentingnya Menjaga Lisan

Mukadimah yang penuh zikir ini mengajarkan kita agar lisan selalu basah dengan pujian kepada Allah, bukan dengan gibah atau fitnah di media sosial.

Optimisme dalam Beragama

Judul Safinatun Najah (Perahu Keselamatan) memberikan harapan. Seburuk apa pun masa lalu seseorang, jika ia mau “naik ke perahu” ilmu agama, ia akan selamat.

Niat yang Ikhlas

Semua kata dalam mukadimah ini ditujukan untuk mencari rida Allah. Dalam setiap pekerjaan, jika niatnya sudah benar (Bismillah dan Alhamdulillah), maka hasilnya akan membawa berkah bagi keluarga.

Ilmu yang Menghidupkan Hati

Sebagai penutup kajian, kita diingatkan bahwa memahami isi kitab Safinatun Najah adalah langkah awal menuju kebahagiaan hakiki. Sebagaimana pesan para kiai sepuh, “Ilmu itu untuk diamalkan, bukan sekadar dipajang di rak buku.” Mukadimah ini adalah pondasi mental kita sebelum memasuki hukum-hukum syariat yang lebih kompleks.

Mari kita jaga tradisi mengaji kitab kuning ini di lingkungan masing-masing. Di era informasi yang simpang siur, kembali ke tuntunan kitab salaf yang mu’tabar adalah pilihan paling aman. Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi hamba-hamba yang faqih fiddin dan selamat di dunia hingga akhirat. Amin ya rabbal ‘alamin.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *