Tegal, Warta NU Tegal
Memasuki hari pertama Ramadhan 1447 H, umat Islam menyambut bulan suci dengan penuh khidmat dan pengharapan. Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, melainkan ruang penyucian jiwa serta penguatan hubungan dengan Allah Swt.
Di tengah tradisi masyarakat Nahdliyin, Ramadhan tidak diramaikan dengan perayaan berlebihan. Justru sebaliknya, bulan suci dihidupkan dengan pengajian, tadarus, serta penguatan nilai-nilai keilmuan dan mahabbah kepada Rasulullah Saw.
Salah satu bentuk penghayatan tersebut adalah mengaji Kitab Maulid Ad-Diba’i, bukan dalam rangka seremoni, tetapi sebagai telaah makna dan hikmah yang terkandung dalam setiap baitnya. Pembacaan awal “Yuqro Qoblal Maulid” menjadi pintu masuk tadabbur spiritual.
Kitab Maulid Ad-Diba’i yang disusun oleh Imam Abdurrahman ad-Diba’i telah lama menjadi bagian dari tradisi keilmuan dan amaliyah warga Nahdlatul Ulama. Di bulan Ramadhan, kandungan doanya terasa semakin relevan sebagai bekal ruhani.
Pada awal pembacaan, basmalah “Bismillahirrahmanirrahim” ditegaskan sebagai fondasi niat. Ramadhan mengajarkan keikhlasan, dan basmalah menjadi peneguh bahwa seluruh ibadah semata-mata karena Allah Swt.
Shalawat “Ya Robbi Sholli ‘Alaihi Wasallim” dimaknai sebagai permohonan agar rahmat dan keselamatan senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. Di awal Ramadhan, shalawat menjadi cahaya yang menerangi perjalanan ibadah sebulan penuh.
Bait “Ya Robbi Sholli ‘Alaa Muhammad” menegaskan kembali pentingnya loyalitas iman kepada Rasulullah. Cinta kepada Nabi bukan sekadar ungkapan lisan, tetapi komitmen mengikuti sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Doa “Ya Robbi Khush-shoh Bil Fadhilah” mengandung harapan agar umat memperoleh keutamaan melalui wasilah Rasulullah. Ramadhan adalah bulan penuh fadilah, sehingga doa ini menjadi sangat kontekstual.
Dalam lafaz “Ya Robbi Balligh-hul Wasilah”, umat memohon agar Allah menganugerahkan derajat tertinggi bagi Nabi Muhammad Saw. Ini mengajarkan adab, bahwa kemuliaan umat terikat dengan kemuliaan Rasulnya.
Bacaan “Ya Robbi Wardlo ‘Anis Shohabah” mengingatkan pentingnya mencintai para sahabat Nabi. Ramadhan menjadi momentum meneladani kesungguhan dan pengorbanan generasi terbaik umat Islam tersebut.
Doa “Ya Robbirham Walidaina” mengajarkan birrul walidain atau bakti kepada kedua orang tua. Di bulan Ramadhan, doa kepada orang tua menjadi bagian dari amalan yang mendatangkan keberkahan.
Dalam “Ya Robbirham Kulla Muslim”, cakupan doa diperluas untuk seluruh kaum muslimin. Ramadhan mendidik hati agar tidak egois, melainkan peduli dan mendoakan sesama.
Permohonan “Ya Robbi Hifdzhoonaa Wa Amaanak” menjadi doa agar Allah menjaga iman dan keselamatan umat. Di tengah berbagai ujian zaman, Ramadhan adalah madrasah penjagaan diri.
Adapun penutup awal bacaan, “Ya Robbi Nakhtim Bil Musyafaa”, berisi harapan agar akhir kehidupan ditutup dengan husnul khatimah serta memperoleh syafaat Rasulullah Saw. Ramadhan sejatinya adalah latihan menuju akhir yang baik.
Mengaji Maulid Ad-Diba’i di hari pertama Ramadhan 1447 H menjadi ikhtiar menata hati sebelum melangkah lebih jauh dalam ibadah. Tradisi ini menunjukkan bahwa amaliyah Nahdliyin sarat dengan kedalaman makna, bukan sekadar lantunan.
Ramadhan tidak perlu diramaikan dengan gemerlap seremonial, tetapi dihidupkan dengan ilmu, doa, dan shalawat. Dari kajian inilah tumbuh kesadaran bahwa cinta kepada Nabi adalah energi spiritual yang menggerakkan ibadah.
Semoga awal Ramadhan ini menjadi titik tolak pembaruan iman, memperkuat mahabbah kepada Rasulullah Saw, serta menghadirkan keberkahan bagi umat. Dengan ilmu dan adab, Ramadhan dijalani penuh kekhusyukan hingga meraih derajat takwa.
Editor : Tahmid












