Keutamaan Majelis Ilmu menurut Imam Abu Laits: Duduk Bersama Ulama Mendatangkan Kemuliaan.

Avatar photo
Kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Tegal. Warta NU Tegal

Tradisi menghadiri majelis ilmu telah lama mengakar kuat di tengah warga Nahdlatul Ulama. Pengajian, halaqah, dan majelis ta’lim bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga wadah pembinaan akhlak dan spiritualitas umat.

Dalam pandangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah, keberkahan majelis ilmu tidak hanya dirasakan oleh mereka yang mampu memahami dan menghafal pelajaran, tetapi juga oleh siapa saja yang hadir dengan niat ikhlas.

Hal ini ditegaskan oleh Imam Abu Laits rahimahullah, seorang ulama besar yang banyak memberikan nasihat tentang adab dan keutamaan menuntut ilmu, sebagaimana termaktub dalam salah satu petuahnya.

Imam Abu Laits menjelaskan bahwa seseorang yang duduk di samping ulama, meskipun tidak mampu menghafal sedikit pun dari ilmu yang disampaikan, tetap akan memperoleh berbagai kemuliaan dari Allah SWT.

Dalam keterangannya, Imam Abu Laits berkata:

قَالَ أَبُوْ اللَّيْثِ: مَنْ جَلَسَ عِنْدَ عَالِمٍ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى حِفْظِ شَيْءٍ مِنَ الْعِلْمِ نَالَ سَبْعَ كَرَامَاتٍ

Telah berkata Imam Abu Laits: Barang siapa yang duduk disamping ulama dan ia tidak mampu menghafal sedikitpun dari ilmu maka dia tetap akan memperoleh tujuh kemuliaan

Petuah tersebut menegaskan bahwa kehadiran di majelis ilmu sudah menjadi pintu datangnya keberkahan, meskipun secara zahir seseorang merasa belum mampu menangkap isi pelajaran secara sempurna.

Imam Abu Laits merinci sebagian kemuliaan itu, di antaranya mendapatkan keutamaan orang-orang yang menuntut ilmu, terjaganya diri dari perbuatan dosa, serta turunnya rahmat Allah SWT sejak seseorang keluar dari rumahnya menuju majelis ilmu.

Sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan nasihat beliau:

فَضْلَ الْمُتَعَلِّمِيْنَ وَحَبْسَهُ عَنِ الذُّنُوْبِ وَنُزُوْلَ الرَّحْمَةِ عَلَيْهِ حَالَ خُرُوْجِهِ مِنْ بَيْتِهِ وَإِذَا نَزَلَتِ الرَّحْمَةُ عَلَى أَهْلِ الْحَلَقَةِ حَصَلَ لَهُ نَصِيْبٌ وَيُكْتَبُ لَهُ طَاعَةً مَا دَامَ مُسْتَمِعًا

 Mendapat keutamaan orang-orang yang mengaji dan ditahannya orang itu dari berbuat dosa dan turun rahmat kepadanya ketika dia keluar dari rumah orang alim dan ketika rahmat turun kepada jamaah pengajian pasti hasil baginya pahala dan dicatat baginya sebagai ketaatan selama dia mendengarkan

Imam Abu Laits juga menjelaskan bahwa selama seseorang mendengarkan pengajian, ia tetap dicatat sebagai orang yang taat, meskipun belum memahami sepenuhnya apa yang disampaikan oleh guru.Lebih jauh, beliau menyinggung kondisi batin penuntut ilmu yang merasa sesak karena belum memahami pelajaran. Perasaan tersebut justru memiliki nilai spiritual yang tinggi.

Baca Lainnya  Malam Nisfu Sya’ban 1447 H Jatuh pada Senin Malam Selasa Ini

Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam petuah berikut:

وَإِذَا ضَاقَ قَلْبُهُ لِعَدَمِ الْفَهْمِ صَارَ غَمُّهُ وَسِيْلَةً إِلَى حَضْرَةِ اللّٰهِ تَعَالَى

Dan ketika terasa sesak hatinya karena tidak paham maka jadilah kesusahannya sebagai wasilah menuju kehadirat Allah

Menurut Imam Abu Laits, kegelisahan karena tidak paham dapat menjadi wasilah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, selama disertai kesabaran dan keikhlasan.

Selain itu, kehadiran di majelis ilmu akan menumbuhkan kesadaran tentang kemuliaan ulama dan kehinaan perilaku fasik, sehingga hati seseorang perlahan condong kepada ilmu dan ketaatan.

Sebagaimana ditegaskan dalam lanjutan nasihat beliau:

وَيَرَى عِزَّ الْعَالِمِ وَذِلَّ الْفَاسِقِ فَيَمِيْلُ طَبْعُهُ إِلَى الْعِلْمِ وَيَرُدَّ قَلْبَهُ عَنِ الْفِسْقِ

dan ia melihat kemuliaan ulama dan hinanya orang fasik sehingga condong tabiatnya kepada ilmu dan ia dapat menolak hatinya dari kefasikkan.

Nasihat Imam Abu Laits ini menjadi penguat bagi warga NU agar tidak minder menghadiri pengajian, meskipun merasa kemampuan memahami ilmu masih terbatas.

Justru dengan istiqamah hadir di majelis ilmu, hati akan terus ditempa, akhlak diperbaiki, dan perlahan Allah SWT membukakan pintu pemahaman.

Inilah semangat keilmuan yang terus dirawat Nahdlatul Ulama, yakni menghidupkan majelis ilmu sebagai jalan ibadah, pembentukan akhlak, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *