Jatinegara. Warta NU Tegal
“Nikmat iman lan nikmat Islam kuwi paling abot disyukuri,” tutur KH Ali Mughni Mangli dari Pemalang dalam tausiyahnya pada acara Haflah Akhir Sanah TPQ Miftahul Huda Sitail, Senin (2/2/2026). Di hadapan wali santri dan jamaah, KH Ali Mughni menegaskan bahwa nikmat iman dan Islam merupakan karunia paling agung dari Allah SWT yang sering kali luput dari rasa syukur manusia, padahal keduanya menjadi penentu keselamatan hidup dunia dan akhirat.
Menurut KH Ali Mughni, selain iman dan Islam, nikmat sehat dan nikmat sempat juga merupakan anugerah besar yang sering dianggap biasa. Ia menuturkan bahwa ketika seseorang sehat, semua kenikmatan hidup dapat dirasakan dengan sempurna, mulai dari makan, beribadah, hingga beraktivitas sehari-hari. Namun sebaliknya, ketika sehat dicabut oleh Allah SWT, maka kenikmatan sekecil apa pun tidak lagi terasa membahagiakan. “Yen ora sehat, mangan apa wae ora kepenak. Mangan bebek sing enak wae ora iso dirasakake,” ujarnya
KH Ali Mughni mengajak jamaah untuk senantiasa mengucapkan Alhamdulillah atas nikmat sehat yang diberikan Allah SWT. Sebab dengan kesehatan, manusia masih diberi kesempatan untuk menikmati hidup, beribadah, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Terlebih lagi nikmat iman dan Islam yang wajib dijaga serta disyukuri dengan amal nyata.
Ia mencontohkan betapa berharganya kesehatan dengan analogi sederhana. “Nyuwun sewu, mangan bebek kuwi enak merga sehat. Nek sehat dicabut dening Allah, ora iso ngrasakake apa-apa,” tuturnya
Dalam tausiyahnya, KH Ali Mughni juga menyampaikan bahwa masih diberinya kesempatan untuk menghadiri majelis ilmu merupakan tanda kasih sayang Allah SWT. “Ibu-ibu saged mlampah ngaji, Alhamdulillah. Iki nikmat sing agung,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa ada manusia yang seolah-olah tidak pernah sakit, namun hal tersebut justru bisa menjadi ujian. Ia menyebut kisah kaum Fir’aun sebagai pelajaran bahwa kesehatan yang diberikan Allah SWT sejatinya adalah sarana agar manusia mau bertafakur dan selalu ingat kepada Allah SWT.
KH Ali Mughni menekankan pentingnya ngaji yang meskipun singkat, tetapi mampu meresap ke dalam hati. “Ngaji cendek nanging mlebu kabeh, luwih apik tinimbang dawa nanging mung mlebu separo. Milih sing endi?” tanyanya.
Ia juga mengungkapkan keutamaan majelis ilmu dibandingkan ibadah sunnah semata. Menurutnya, menghadiri majelis ngaji lebih utama karena di dalamnya terdapat ilmu yang menjadi cahaya kehidupan. “Majelis ilmu kuwi taman-taman swarga,” tegasnya.
KH Ali Mughni menambahkan bahwa orang yang istiqamah mengikuti ngaji akan merasakan perubahan dalam dirinya. Dosa-dosanya diampuni, sifat buruknya perlahan hilang, dan semangat ibadahnya semakin meningkat. “Sing bodho ilang bodhone, sing apik tambah apik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa niat ngaji saja sudah bernilai ibadah. “Niat ngaji dosane diampuni, pahalane diobral,” tuturnya.
Dalam tausiyah tersebut, KH Ali Mughni juga menjelaskan makna bulan-bulan istimewa dalam kalender hijriah. Menurutnya, Rajab adalah bulannya Allah SWT untuk memperbanyak istighfar dan pembersihan diri, Sya’ban adalah bulannya Nabi Muhammad SAW untuk memperbanyak shalawat dan pembersihan hati, sedangkan Ramadhan adalah bulannya umat Nabi Muhammad SAW untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Ia mengingatkan bahwa pahala ngaji nilainya sangat besar, bahkan melebihi harta dunia. “Ngaji pahalane miliaran, tapi nek udan lan banjir isih gelem mangkat ora? Nanging nek ana duit siji miliar, udan lan banjir yo tetep mangkat,” sindirnya.
KH Ali Mughni juga menyebut keutamaan puasa di bulan Rajab. Menurutnya, orang yang berpuasa di bulan tersebut akan mendapatkan anugerah berupa minuman dari surga yang disebut Bengawan Rajab, sebagai bentuk kemuliaan dari Allah SWT.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa inti dari seluruh kehidupan adalah sholat. “Urip sing penting sholat,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa tidak semua kebaikan akan menjadi baik jika tidak dibiasakan. “Kebaikan kuwi kudu dibiasakake,” ujarnya.
Dalam penutup tausiyahnya, KH Ali Mughni menekankan bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua. Jika orang tua tidak mampu mengajarkan sendiri, maka wajib menyerahkan pendidikan anak kepada ustadz dan ustadzah agar anak-anak mendapatkan bimbingan agama yang benar.
“Mendidik anak adalah kewajiban orang tua. Jika tidak mampu mengajarkan sendiri, maka serahkanlah kepada ustadz dan ustadzah agar anak-anak mendapatkan bimbingan agama yang benar dan lurus,” pungkas KH Ali Mughni.
Editor : Tahmid












