Hikmah  

KH Khoirul Amin: Malam Nishfu Syaban Momentum Membersihkan Diri dan Mendekat kepada Allah

Avatar photo
KH Khoirul Amin dalam tausiyahnya pada Pengajian Akhirussanah TPQ dan MDTU/W Nurul Ittihad, yang digelar di Masjid Jami’ Nurul Ittihad, Adiwerna, Kabupaten Tegal, Sabtu malam Ahad (31/1/2026)

Adiwerna, Warta NU Tegal

“Malam Nishfu Syaban adalah malam yang sangat istimewa. Pada malam ini, Allah SWT membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin kembali dan memperbaiki diri,” tutur KH Khoirul Amin dalam tausiyahnya pada Pengajian Akhirussanah TPQ dan MDTU/W Nurul Ittihad, yang digelar di Masjid Jami’ Nurul Ittihad, Adiwerna, Kabupaten Tegal, Sabtu malam Ahad (31/1/2026).

KH Khoirul Amin menjelaskan bahwa para ulama Ahlussunnah wal Jamaah telah lama menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan malam Nishfu Syaban dengan berbagai amalan utama sebagai bentuk kesiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

“Malam Nishfu Syaban bukan malam biasa. Ia adalah kesempatan besar untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT sebelum memasuki bulan Ramadhan,” ungkapnya.

Ia menuturkan bahwa salah satu amalan utama yang sangat dianjurkan pada malam Nishfu Syaban adalah melaksanakan shalat malam dengan penuh kekhusyukan.

“Shalat malam menjadi sarana paling utama untuk bermunajat kepada Allah, memohon ampunan, dan mengadukan segala persoalan hidup,” jelasnya.

Selain shalat malam, KH Khoirul Amin juga menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an sebagai bentuk penyucian hati dan peneguhan iman.

“Al-Qur’an adalah cahaya. Membacanya pada malam Nishfu Syaban akan menerangi hati dan menjadi bekal spiritual menghadapi hari-hari ke depan,” tuturnya.

Menurutnya, istighfar dan doa juga menjadi amalan yang tidak boleh ditinggalkan, karena malam Nishfu Syaban merupakan waktu mustajab untuk memohon ampunan kepada Allah SWT.

“Perbanyak istighfar, akui kesalahan, dan mohon ampunan kepada Allah. Jangan menunda taubat, karena kita tidak pernah tahu sampai kapan umur kita,” pesannya.

KH Khoirul Amin menegaskan bahwa amalan pada malam Nishfu Syaban hendaknya dilanjutkan dengan puasa sunnah pada siang harinya sebagai bentuk kesungguhan ibadah.

Baca Lainnya  Kiai Muhemin: Pendidikan Agama Penyangga Keselamatan Umat, Jangan Tinggalkan Ngaji

“Puasa sunnah Nishfu Syaban adalah latihan spiritual sekaligus bentuk ketaatan kita dalam mengikuti tuntunan para ulama,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak sedekah dan berbuat kebaikan kepada sesama sebagai wujud keimanan yang nyata.

“Ibadah tidak hanya hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Sedekah dan berbuat baik adalah bukti keimanan yang hidup,” jelasnya.

Dalam tausiyahnya, KH Khoirul Amin menekankan bahwa amalan-amalan tersebut hendaknya dilakukan dengan niat yang ikhlas dan tidak sekadar menggugurkan tradisi.

“Yang Allah nilai bukan banyaknya amalan, tetapi keikhlasan dan kesungguhan hati kita dalam beribadah,” tegasnya.

Ia mengajak para santri, wali santri, dan jamaah yang hadir untuk menjadikan malam Nishfu Syaban sebagai sarana muhasabah diri.

“Mari kita introspeksi diri, memperbaiki niat, dan membersihkan hati dari sifat-sifat buruk yang selama ini mungkin melekat dalam diri kita,” ajaknya.

KH Khoirul Amin juga mengingatkan peran orang tua dalam menanamkan kecintaan terhadap ibadah sejak dini kepada anak-anak.

“Anak-anak harus dibiasakan mencintai ibadah. Orang tua menjadi teladan utama dalam membimbing mereka,” katanya.

Menurutnya, kegiatan keagamaan seperti pengajian akhirussanah memiliki peran strategis dalam membangun karakter religius generasi muda.

“TPQ dan madrasah diniyah adalah benteng utama dalam menjaga akidah dan akhlak anak-anak kita,” ujarnya.

Ia berharap para santri yang telah menempuh pendidikan di TPQ dan MDTU/W Nurul Ittihad dapat mengamalkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

“Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang shalih dan shalihah,” doanya.

Menutup tausiyahnya, KH Khoirul Amin mengajak seluruh jamaah untuk menjaga istiqamah dalam beribadah, tidak hanya pada momen-momen tertentu.

“Jangan hanya semangat di malam Nishfu Syaban. Jadikan ibadah sebagai kebutuhan hidup sehari-hari,” pungkasnya.

Baca Lainnya  Kajian Ramadhan: Menyelami Hikmah “Yuqro Qoblal Maulid” dalam Kitab Maulid Ad-Diba’i

Pengajian Akhirussanah TPQ dan MDTU/W Nurul Ittihad ini dihadiri oleh para santri, wali santri, tokoh masyarakat, dan jamaah Masjid Jami’ Nurul Ittihad. Kegiatan berlangsung dengan khidmat sebagai bentuk rasa syukur atas proses pendidikan Al-Qur’an yang telah dilalui.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *