Jatinegara, Warta NU Tegal
Ketua Koordinator Metode Tilaawati Kecamatan Jatinegara dan Bojong, Kiai Muhemin Abdul Chalim, dalam sambutannya menegaskan bahwa perjuangan agama dari masa ke masa seharusnya semakin kuat, bukan justru kehilangan tokoh dan kader penerus. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam acara Haflah Akhir Sanah dan Khatmil Qur’an Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Miftahul Huda 2 Sitail Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal, Sabtu (31/1/2026).
“Perjuangan agama mestinya tambah ke sini tambah kuat, bukan malah kehilangan tokoh. Alhamdulillah, di mana-mana para kiai dan ustadz masih menghidupkan pendidikan agama seperti TPQ, madrasah diniyah, dan lembaga keislaman lainnya,” tutur Kiai Muhemin.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan agama merupakan benteng utama umat dari berbagai musibah dan azab Allah Swt. Menurutnya, banyak peristiwa bencana yang sejatinya menjadi peringatan agar umat tidak menjauh dari ilmu dan ibadah.
“Kulo nate maos setunggal kitab. Intinya disebutkan, bisa jadi satu desa, satu daerah, bahkan satu negara ditimpa azab karena orang alimnya tidak mau membuka pendidikan agama dan tidak mengajak masyarakatnya beribadah,” jelasnya.
Kiai Muhemin menegaskan bahwa sikap individualistis dalam beragama dapat mendatangkan murka Allah. Ilmu yang tidak diamalkan dan tidak diajarkan hanya untuk kepentingan pribadi dapat menjadi sebab turunnya laknat.
“Ilmu itu harus diamalkan dan diajarkan. Kalau hanya untuk diri sendiri, bisa mendatangkan azab. Maka penting bagi orang alim untuk mulang, bukan hanya nyimpen ilmu,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki kadar dan kemampuan masing-masing dalam mengajarkan ilmu agama. Tidak semua harus menguasai kitab besar, namun setiap kemampuan tetap bernilai ibadah.
“Sing pintere sak kedo, mulange ya sak kedo. Sing pintere sapikul, mulange ya sapikul. Insyaallah semua mendapatkan ridla Allah Swt,” ungkapnya.
Menurutnya, pembagian peran dalam dunia pendidikan agama merupakan sunnatullah. Ada yang bertugas mengaji, ada pula yang bertugas mengajar, dan semuanya saling melengkapi.
“Angger kabeh kudu mulang kitab gedhe kabeh Fathul Wahab, mboten saged. Ana sing tugas ngaji, ana sing tugas mulang,” katanya.
Ia kemudian mengajak jamaah merenung, antara jumlah orang yang mengaji dan orang yang mengajar, mana yang lebih banyak dan lebih dibutuhkan.
“Angger akeh sing mangkat ngaji, insyaallah bakal akeh sing mulang. Wong alim iku sithik, wong sing butuh ilmu iku akeh,” ujarnya.
Secara khusus, Kiai Muhemin menyapa para ibu-ibu yang hadir dan mengajak mereka untuk terus semangat dalam hadir di majlis ilmu.
“Ibu-ibu niku seneng mulang apa seneng ngaji? Ngaji. Temenan nggih, mugi-mugi istiqamah,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Muhemin juga menyampaikan apresiasi kepada para ustadz yang aktif menggerakkan Metode Tilaawati di wilayah Jatinegara dan Bojong.
“Saya menyambut atas nama Koordinator Tilaawati. Sing kerja niki Ust Tahmid, Ust Kosim, Ust Jabid. Kulo mung nderek mawon, ora olih gajian, wedus bae ana gajine, hehe,” ucapnya
Ia mendoakan seluruh rekan seperjuangan agar senantiasa diberi keselamatan dan keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat.
“Kanca-kanca kulo, mugi tansah pinaringan selamet dunya akhirat,” doanya.
Kiai Muhemin juga menyinggung peran Ust Tahmid yang aktif berkeliling dalam menggerakkan pendidikan agama di berbagai tempat.
“Sederek Ust Tahmid niki muter teng pundi-pundi, awit kabeh wong kudu ana ilmune,” katanya.
Dengan rendah hati, ia menyebut dirinya hanya berperan kecil dalam perjuangan tersebut.
“Kulo namung saged lungguh, nderek ndedonga,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan permohonan maaf apabila dalam memberikan pelayanan dalam ngurip ngurip Lembaga Al-Qur’an terdapat kekhilafan.
“Mbok bilih rencang-rencang kulo wonten sing kirang pas, nyuwun pangapunten. Mugi-mugi diparingi berkah dunya akhirat,” tuturnya.
Lebih lanjut, Kiai Muhemin menekankan pentingnya peran orang tua dalam pendidikan agama anak-anak.
“Bocah cilik ngaji penting, nanging wong tuwa ngaji luwih penting,” pesannya.
Di akhir tausiyah, Kiai Muhemin mengajak seluruh jamaah untuk terus belajar agama kepada para guru dan kiai yang sanad keilmuannya bersambung hingga Rasulullah Muhammad Saw.
“Monggo ngaji karo guru, karo kiai sing wusul ilmuné dumugi Nabi Muhammad Saw,” pungkasnya.
Editor : Tahmid












