Jatinegara. Warta NU Tegal
Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Sitail bersama badan otonom (Banom) menyalurkan bantuan hasil donasi masyarakat Sitail kepada korban bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Ahad (8/2/2026).
Penyaluran bantuan dilakukan pada hari ketujuh pascabencana melalui Posko Bencana MWCNU Kecamatan Jatinegara yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Adalah 2, Desa Capar.
Setelah menyerahkan bantuan kepada petugas dapur umum Posko Bencana MWCNU Jatinegara, rombongan PRNU Sitail dan Banom terdorong untuk meninjau langsung lokasi terdampak bencana di wilayah atas Desa Padasari.
Rasa kepedulian dan keingintahuan membawa rombongan tidak hanya berhenti di posko, tetapi berusaha melihat langsung kondisi warga dan lingkungan yang terdampak bencana tanah bergerak.
Dalam perjalanan menuju lokasi atas dari area Pondok Pesantren Al Adalah 2, rombongan menaiki mobil bak terbuka. Sepanjang perjalanan, tampak lalu lalang kendaraan roda dua dan roda empat yang mengangkut bantuan maupun barang-barang milik warga.
Setibanya di titik tertentu, beberapa pengendara motor menyampaikan imbauan agar rombongan tidak melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan karena akses jalan macet parah.
“Jangan naik ke atas, Mas. Di atas macet, banyak mobil. Lebih baik parkir di sini saja, panjenengan semua jalan kaki,” ujar salah seorang warga kepada rombongan.
Mendengar imbauan tersebut, rombongan PRNU Sitail dan Banom memutuskan turun dari mobil bak terbuka dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju lokasi terdampak.
Dalam perjalanan menanjak, rombongan banyak berpapasan dengan para relawan dari berbagai unsur, seperti Banser, Pramuka, serta warga yang bahu-membahu membawa barang-barang untuk diselamatkan.

Warga sekitar juga menyampaikan bahwa kendaraan tertutup sebaiknya tidak naik ke lokasi atas, sementara kendaraan bak terbuka masih memungkinkan digunakan untuk mengangkut barang-barang evakuasi.
Setibanya di lokasi bencana, rombongan PRNU Sitail dan Banom terdiam menyaksikan kondisi permukiman warga yang porak-poranda akibat tanah bergerak.
Fasilitas umum seperti Balai Desa Padasari dan masjid yang baru ditasyakuri tahun lalu dengan menghadirkan Habib Syech tampak miring, retak parah, dan tidak lagi dapat digunakan.
Rombongan juga menyempatkan diri menuju lokasi Pondok Pesantren Al Adalah. Akses jalan menuju lokasi tersebut telah berubah menyerupai galengan sawah dengan kedalaman lebih dari satu meter akibat pergeseran tanah.
Pemandangan ini mengingatkan rombongan pada Aula Pondok Pesantren Al Adalah yang pernah menjadi lokasi Konferensi GP Ansor Kecamatan Jatinegara, namun kini telah roboh rata dengan tanah.
Rumah KH Tasrifin Salim, pengasuh Pondok Pesantren Al Adalah, juga tampak roboh, meninggalkan rasa duka mendalam bagi rombongan yang menyaksikannya secara langsung.
Tidak hanya menyaksikan, PRNU Sitail bersama Banom turut ambil bagian dalam proses evakuasi dengan membantu memindahkan peralatan musholla di samping Balai Desa Padasari.

Peralatan yang dievakuasi antara lain sound system, karpet, perabot rumah tangga milik warga, jam dinding, dan jam digital, yang kemudian dibawa ke lokasi aman di bagian bawah.
Kehadiran PRNU Sitail dan Banom tidak sekadar simbolik, tetapi menjadi wujud nyata khidmah NU dalam situasi darurat kemanusiaan.
Editor : Tahmid












