lapsus  

Spirit Learning Recovery di Tengah Bencana, Santri Pesantren Al Adalah Padasari Bangkit Menata Harapan

Avatar photo
Spirit of the learning recovery, yakni upaya bangkit secara perlahan melalui pendidikan, ilmu, dan pembinaan ruhani, sebagaimana tampak di lingkungan Pesantren Al Adalah 2 Capar, Senin (9/2/2026).

Jatinegara. Warta NU Tegal

Bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, tidak hanya mengguncang rumah dan lingkungan warga, tetapi juga menggoyahkan ritme kehidupan, termasuk dunia pendidikan para santri.

Di tengah kondisi darurat tersebut, semangat belajar dan mengaji tetap dijaga oleh para santri Pondok Pesantren Al Adalah Padasari. Dengan segala keterbatasan, aktivitas pendidikan perlahan kembali dijalankan sebagai bagian dari ikhtiar pemulihan pascabencana.

Momentum ini menjadi cermin kuatnya daya tahan (resiliensi) pendidikan pesantren di tengah musibah. Pendidikan tidak berhenti, justru menjadi ruang penyembuhan dan penguatan mental bagi para santri.

Semangat tersebut dikenal dengan istilah spirit of the learning recovery, yakni upaya bangkit secara perlahan melalui pendidikan, ilmu, dan pembinaan ruhani, sebagaimana tampak di lingkungan Pesantren Al Adalah 2 Capar, Senin (9/2/2026).

Salah satu pengurus Pondok Pesantren Al Adalah Padasari, Ustadz Ahmad Fauzan, menyampaikan bahwa kegiatan belajar dan mengaji sengaja tetap diupayakan agar santri memiliki pegangan di tengah situasi sulit.

“Perlahan kami bangkit, membuka kembali buku-buku yang sempat tertutup oleh bencana. Di tengah keterbatasan, anak-anak tetap belajar dan tetap mengaji,” ujar Ustadz Ahmad Fauzan.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh terhenti meskipun dalam kondisi darurat. “Justru dari situasi seperti inilah masa depan para santri mulai disusun kembali,” tuturnya.

Menurutnya, suasana pascabencana menjadi pembelajaran hidup yang sangat berharga bagi para santri. “Mereka belajar sabar, belajar menerima, dan belajar bertahan dalam kondisi yang tidak mudah,” ungkapnya.

Dalam perspektif spiritual, Ustadz Ahmad Fauzan menyebut para santri sedang menjalani proses suluk. “Mereka berusaha tenang, tersenyum, hidup mengalir, dan tetap berada pada poros tengah,” katanya.

Baca Lainnya  Rencana Relokasi Korban Tanah Bergerak Padasari Mengarah ke Selatan Ponpes Al Adalah 2 Capar

Ia menjelaskan bahwa suluk dalam konteks ini adalah latihan mengendalikan diri. “Santri dilatih agar tidak mudah terseret oleh putaran roda kehidupan dan tetap anteng dalam menghadapi ujian,” jelasnya.

Ustadz Fauzan menilai pengalaman ini menjadi pembelajaran langka dan sangat bermakna. “Ini pelajaran yang tidak semua santri dapatkan, tentang mengelola setiap elemen dalam diri,” ujarnya.

Ia optimistis para santri akan tumbuh dengan kepribadian yang lebih matang. “Insyaallah mereka akan membawa keberkahan, baik bagi dirinya, keluarganya, maupun para guru,” katanya.

Menurutnya, ketenangan batin dan keteguhan iman menjadi modal utama para santri dalam menghadapi masa depan. “Perjuangan ini memang panjang, tetapi harus dijalani dengan penuh keyakinan,” imbuhnya.

Spirit pembelajaran di Pesantren Al Adalah menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan ketahanan spiritual.

Nilai-nilai ke-NU-an seperti tawakal, sabar, dan istiqamah tampak nyata dalam keseharian para santri yang tetap berpegang pada ilmu dan adab meski berada dalam situasi sulit.

Semangat bangkit melalui pendidikan ini menjadi penguat bahwa bencana tidak boleh mematikan harapan, melainkan menjadi titik tolak untuk tumbuh lebih kuat dan bermakna.

Dengan mengucap Bismillah, Pesantren Al Adalah Padasari dan para santrinya terus melangkah pelan namun pasti menuju pemulihan, menata kembali masa depan melalui ilmu, iman, dan keteguhan hati.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *