Jatinegara. Warta NU Tegal
Bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, pada Selasa (3/2/2026) menyisakan duka mendalam. Sejak pagi hingga malam hari, kondisi di lapangan terus menunjukkan dampak serius, dengan banyak rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat pergerakan tanah yang masih berlangsung.
Pantauan Warta NU Tegal dari berbagai laporan warga dan kiriman video yang beredar di grup WhatsApp menunjukkan kondisi permukiman yang memprihatinkan. Dinding rumah retak, lantai ambles, hingga bangunan roboh menjadi pemandangan yang membuat hati siapa pun terenyuh.
Sejumlah warga mengungkapkan bahwa pergerakan tanah terjadi secara bertahap sejak sore hari, lalu semakin parah menjelang malam. Hingga Selasa malam, suara retakan tanah masih terdengar di beberapa titik, membuat warga hidup dalam kecemasan.

Salah satu bangunan yang terdampak cukup parah adalah Gedung Al Adalah yang dilaporkan roboh akibat tekanan pergerakan tanah. Kerusakan tersebut menambah panjang daftar fasilitas umum yang terdampak dalam musibah ini.
Ungkapan duka dan keprihatinan datang dari berbagai kalangan. Melalui pesan singkat WhatsApp, warga dan perantau asal Padasari menyampaikan kesedihan mendalam atas musibah yang menimpa kampung halaman mereka.
Seorang perantau asal Padasari yang kini bekerja di Jakarta, Mas Kauman, mengungkapkan kegundahannya melalui pesan pribadi. Ia mengaku terpukul melihat kondisi rumah orang tuanya yang rusak parah, sementara dirinya tidak bisa segera pulang untuk membantu secara langsung.
“Mbuh kayong terpukul pisan. Wong tua stres. Nyong kerja ning Jakarta ya ora bisa ngandenga. Ning jero umah wis pada mledak kabeh, kramik lan gypsum,” tulisnya dalam pesan yang diterima Warta NU Tegal, Rabu, (4/2/2026).

Ia juga mengungkapkan kebingungan dan kepasrahan menghadapi kondisi tersebut. “Nyong balike mengendi, Gusti,” lanjutnya, menggambarkan kepedihan batin yang dirasakan para perantau yang keluarganya terdampak bencana.
Demi menjaga keselamatan, masyarakat Desa Padasari telah dievakuasi dari rumah masing-masing. Pemerintah setempat menetapkan status darurat satu dan meminta warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman hingga kondisi dinyatakan stabil.

Proses evakuasi dilakukan dengan pendampingan relawan dan aparat terkait. Warga diminta tidak kembali ke rumah untuk sementara waktu mengingat pergerakan tanah masih berpotensi terjadi, terutama saat hujan turun.
Di tengah situasi darurat ini, solidaritas warga Nahdlatul Ulama tampak menguat. Sejumlah organisasi dan badan otonom NU bergerak untuk melakukan aksi kemanusiaan dan penggalangan donasi bagi para korban.
Ansor dan Banser Kecamatan Jatinegara, bersama Fatayat NU, Muslimat NU, Badko LPQ, IGRA Kecamatan Jatinegara, serta elemen masyarakat lainnya seperti Persatuan Koplak Cerih, menginisiasi gerakan Peduli Padasari.
Penggalangan donasi dilakukan secara terbuka sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama yang sedang tertimpa musibah. Bantuan yang dihimpun diharapkan dapat meringankan beban warga, terutama untuk kebutuhan mendesak para pengungsi.
Tokoh-tokoh NU setempat mengajak seluruh warga untuk saling menguatkan dan meningkatkan solidaritas. Bantuan sekecil apa pun dinilai sangat berarti bagi para korban yang kehilangan tempat tinggal dan rasa aman.
Selain bantuan material, doa bersama juga terus dipanjatkan agar warga Padasari diberi kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi ujian ini. Spirit ke-NU-an menjadi penguat moral di tengah duka yang melanda.

Bencana tanah bergerak ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan kepedulian sosial. NU, dengan tradisi gotong royong dan khidmahnya, hadir di tengah masyarakat untuk memastikan tidak ada yang berjalan sendiri dalam menghadapi musibah.
Pantauan Warta NU Tegal akan terus mengikuti perkembangan kondisi di Desa Padasari. Warga diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah serta relawan demi keselamatan bersama.
Semoga Allah SWT memberikan perlindungan, ketabahan, dan jalan keluar terbaik bagi seluruh warga Desa Padasari. Dari duka ini, semoga tumbuh kekuatan, solidaritas, dan harapan baru untuk bangkit bersama.
Editor : Tahmid

















