Tarub. Warta NU Tegal
Di sebuah desa kecil bernama Karangjati, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal, lahirlah seorang anak laki-laki pada 23 April 1951. Anak bungsu dari sembilan bersaudara ini diberi nama Abdullah Jamil. Masyarakat sekitar akrab memanggilnya Kyai Dulloh. Ia tumbuh dalam keluarga religius; ayahnya bernama H. Abdul Jamil dan ibunya Hj. Shofwah. Konon, darah keberanian dan kealiman mengalir dalam dirinya, karena silsilah keluarganya tersambung ke Ki Bangkit, tokoh legendaris yang konon menaklukkan buaya putih di Kali Rambut dengan keris buatan sendiri.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMEP, Kyai Dulloh muda memulai pengembaraan ilmunya ke Buntet Pesantren di Cirebon. Di sana, ia menimba ilmu dari banyak ulama besar, di antaranya KH. Khowi bin KH. Anwar Buntet, seorang muqaddam Thariqah Tijaniyah. Ia juga belajar kepada ulama lain seperti KH. Mustahdi Abbas dan KH. Abdullah Abbas. Perjalanan intelektual dan spiritualnya terus berkembang, termasuk berguru kepada para ulama Tegal seperti KH. Miftach Kajen dan KH. Syatori Blendung.
Dari perjalanannya di Buntet, takdir membawanya bertemu dengan seorang perempuan salehah, Nyai Farkhiyyah, yang kelak menjadi istrinya. Ia adalah cucu ulama besar Cirebon, Kyai Abdul Qohar, yang memiliki garis keturunan langsung ke Sunan Gunung Jati dari jalur laki-laki dan Sunan Ampel dari jalur perempuan. Dari pernikahan itu, lahirlah lima anak: Muhammad Fahmi Mubarok, Ummu Izzi Khanani, Muhammad Syamsul Azhar, Ahmad Bujayromi Ahda, dan Farah Hanum Isfandiyari. Cucu-cucunya kemudian turut mewarnai warisan keluarga yang penuh semangat ilmu dan perjuangan.
Mengabdi Lewat Organisasi
Sejak muda, Kyai Dulloh aktif di Nahdlatul Ulama (NU). Di akhir 1970-an, ia mempelopori berdirinya IPNU dan IPPNU di Tarub. Ia menjadi sekretaris MWC NU Tarub (1971–1984), kemudian memegang peran penting di PC GP Ansor Kabupaten Tegal Tahun 1984 bidang kaderisasi, setelah khittah NU, ia menjadi wakil Rois Syuriah MWC NU Tarub periode 1971-1984, memperkuat arah perjuangan NU di jalur dakwah, pendidikan, dan sosial.
Tahun 1998, Kyai Dulloh ikut mendeklarasikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kabupaten Tegal. Namun, ketika terjadi perpecahan di tubuh PKB, ia memilih bergabung dengan kubu Gus Dur dan menjadi deklarator Gerakan Kebangkitan Rakyat (GATARA). Ia juga sempat menjadi wakil ketua Tanfidziyah dan wakil Rois Syuriah PCNU Kabupaten Tegal. Tak hanya itu, beliau aktif di YAUMI dan menjabat Ketua I MUI Kabupaten Tegal.
Beliau juga menjadi saksi sekaligus penggerak pro Gus Dur pada saat Muktamar NU ke-29 di Tasikmalaya yangitu ada “campur tangan” pemerintah yang menjagokan Abu Hasan sebagai calon Ketua Tanfidziyah PBNU. Sementara beliau memilih mendukung Gus Dur bersama dengan barisan KH. Abdullah Abbas Buntet, KH. Fuad Hasyim, dan KH. Ilyas Rukyat.
Pejuang Pendidikan
Pasca muktamar NU Situbondo tahun 1984, Kyai Dulloh dan tiga tokoh lainnya K. Abdullah Jamil, KH. Ismail Makmun, K. Masyhudi, dan K. Abdullah Nawawi, mengadakan musyawarah di rumah beliau yang berlokasi di Jl. Karangjati No.25 3/1 Tarub (sekarang menjadi alamat bersama semua lemabaga pendidikan di bawah naungan BPPMNU Tarub / eks Yayasan Hasyim Asy’ari Tarub) untuk membahas kelanjutan perjuangan MWC NU Tarub yang mengalami kevakuman, kerena sebagian tokohnya aktif dalam politik praktis (di PPP). Dan hasilnya adalah keempat tokoh tersebut sepakat untuk memilih salah satu dari dua opsi, yaitu memutuskan untuk memilih tetap aktif dalam politik praktis atau, memilih untuk aktif berjuang dalam kegiatan MWC NU Tarub. Selanjutnya KH. Ismail Makmun, dan K. Abdullah Nawawi memutuskan aktif dalam politik praktis (dalam PPP), sementara K. Abdullah Jamil dan K. Masyhudi memilih tetap berjuang membesarkan MWC NU Tarub.
Pada tahun 1984 diadakanlah Koneferensi MWC NU Tarub, yang di antara hasilnya mengamantakan Kyai Masyhudi sebagai Rosi Syuriyah, dan Kyai Ahmad sebagai Ketua Tanfidziah. Namun Kyai Masyhudi tidak lama menjabat sebagai Rois Syuriyah MWC NU Tarub, hanya bertahan satu tahun, kemudian memilih mundur karena tekanan dari Partai Orde Baru, dan digantikan oleh Kyai Abdullah Jamil.
Beliau bersama para tokoh NU dan Aghniya kemudian mendirikan lembaga pendidikan diberi nama Yayasan Hasyim Asy’ari, dan sekolah yang pertama berdiri adalah MTs NU Hasyim Asy’ari Tarub pada tahun pelajaran ajaran 1986-1987. Ada lima tokoh yang berjuang dalam mendirikan Yayasan Hasyim Asy’ari dengan Akta Notaris Rini Sumintapura tertanggal 20 Oktober 1986 yaitu: K. Abdullah Jamil, H. Ahmad Khaerudin, H. Ahmad, H. Kasnudi dan Drs. Farikhi, dan didaftarkan pada Panitera Pengadilan Negeri Slawi pada tanggal 22 Oktober 1986.
Lembaga Pendidikan pertama yang berdiri adalah MTs NU Hasyim Asy’ari pada tahun ajaran 1986–1987. Yayasan ini kemudian berkembang pesat dengan mendirikan Lembaga Pendidikan secara berurutan yaitu SMA, SLTP, SMK, Pondok Pesantren, hingga Panti Sosial Asuhan Anak. Cita-cita besarnya adalah mendirikan perguruan tinggi, meskipun belum sempat terwujud.
Kyai Dulloh juga menjadi penggerak pendidikan Al-Qur’an. Pada tahun 1990, ia mempelopori berdirinya lebih dari 470 TK-TPQ se-Kabupaten Tegal. Ia menjadi pembina guru TK/TP Al-Qur’an selama dua dekade. Ia juga mencetuskan metode baca tulis Al-Qur’an “As Syifa”, yang hingga kini digunakan oleh mayoritas TPQ di Tegal.
Akhir Hayat Seorang Pejuang
Pada malam Selasa, 18 Mei 2010, di usia 59 tahun, Kyai Dulloh menghembuskan napas terakhirnya. Seminggu sebelumnya, ia masih menerima tamu Ulama dari Afrika Selatan, Syeikh Hasyim Barrodah. Ia wafat dalam keadaan masih aktif memimpin pesantren, yayasan, organisasi keagamaan, dan pembinaan umat.
Kyai Dulloh meninggalkan warisan yang tak ternilai: lembaga pendidikan, kader-kader NU, metode pengajaran Qur’an, dan semangat perjuangan yang membara. Ia bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang pejuang yang tulus, yang hidupnya diabdikan untuk umat dan agama.
Al-Fatihah…
Sumber :
Dari Gus Muhammad Azhar putra dari KH Abdullah Jamil
