Warta  

Sambut Tahun Baru Hijriah 1448 H, Warga Kademangaran Dukuhturi Gelar Semaan Al-Qur’an dan Dzikir Ghofilin Mantab

Avatar photo
Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, masyarakat Desa Kademangaran Dukuhturi menggelar Semaan Al-Qur'an dan Dzikir Ghofilin Mantab di Komplek Gedung NU Ranting Kademangaran, Selasa (16/6/2026).

Dukuhturi, Warta NU Tegal

Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, masyarakat Desa Kademangaran Kecamatan Dukuhturi menggelar kegiatan Semaan Al-Qur’an dan Dzikir Ghofilin Mantab di Komplek Gedung NU Ranting Kademangaran, Selasa (16/6/2026). Kegiatan yang telah menjadi tradisi tahunan tersebut diikuti puluhan jamaah dari berbagai kalangan masyarakat.

Acara dimulai sejak pukul 05.00 WIB dengan semaan Al-Qur’an 30 juz yang dibacakan secara bergiliran oleh para hafidz dan hafidzah. Setelah khataman Al-Qur’an selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Dzikir Ghofilin Mantab yang dipimpin Ustadz Muhammad Ridwan, dilanjutkan mauidlah hasanah oleh KH Lutful Hakim serta doa bersama untuk keselamatan bangsa, keberkahan desa, dan kemaslahatan umat.

Dalam mauidhoh hasanahnya, KH. Lutful Hakim menjelaskan bahwa Dzikir Ghofilin memiliki peran penting sebagai sarana membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT di tengah berbagai kesibukan dunia.

“Dzikir Ghofilin yang diawali dengan semaan Al-Qur’an memiliki fungsi sebagai obat bagi penyakit hati. Sebab manusia tidak hanya memiliki penyakit jasmani, tetapi juga penyakit rohani yang sering kali luput dari perhatian,” ungkapnya.

Menurutnya, penyakit jasmani umumnya lebih mudah dikenali karena dirasakan terlebih dahulu oleh diri sendiri sebelum diketahui orang lain. Berbeda dengan penyakit hati yang justru sering terlihat oleh orang lain terlebih dahulu.

“Penyakit jasmani biasanya diketahui oleh diri sendiri lebih dahulu, kemudian baru diketahui oleh orang lain. Sedangkan penyakit hati sering kali diketahui orang lain terlebih dahulu, sementara pemiliknya belum menyadari kondisi dirinya,” jelasnya.

KH. Lutful Hakim menambahkan bahwa kesombongan, iri hati, dengki, riya, dan kurangnya rasa syukur merupakan bagian dari penyakit hati yang harus diwaspadai oleh setiap Muslim.

“Banyak orang merasa dirinya baik-baik saja, padahal hatinya sedang sakit. Karena itu dzikir menjadi salah satu jalan untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT,” tuturnya.

Baca Lainnya  Ribuan Kader NU Surokidul Pagerbarang Ikuti Kirab Harlah ke-103, Teguhkan Khidmah dan Aswaja

Ia juga mengajak jamaah untuk menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana muhasabah diri agar kehidupan ke depan menjadi lebih baik dan penuh keberkahan.

“Pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka, tetapi kesempatan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki ibadah, dan meningkatkan kualitas akhlak dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kekuatan umat tidak hanya dibangun melalui kecerdasan dan kemampuan materi, tetapi juga melalui kebersihan hati dan kedekatan spiritual kepada Allah SWT.

“Jika hati bersih, insyaallah kehidupan akan lebih tenang, hubungan sosial lebih baik, dan keberkahan akan hadir dalam keluarga maupun masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Ustadz Miftahus Sobirin menyampaikan bahwa kegiatan Semaan Al-Qur’an dan Dzikir Ghofilin Mantab merupakan tradisi yang terus dijaga oleh warga Kademangaran sebagai bentuk kecintaan kepada Al-Qur’an dan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah.

“Alhamdulillah, kegiatan ini telah menjadi agenda rutin masyarakat Kademangaran setiap menjelang dan menyambut bulan Muharram. Ini adalah ikhtiar bersama untuk menjaga tradisi yang baik dan penuh keberkahan,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus menjadi media pembinaan spiritual masyarakat di tengah tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks.

“Kami ingin menjadikan Kademangaran sebagai kampung yang dekat dengan Al-Qur’an, dekat dengan dzikir, dan selalu hidup dalam suasana kebersamaan serta keberkahan,” katanya.

Menurutnya, antusiasme masyarakat yang terus meningkat setiap tahun menunjukkan bahwa tradisi keagamaan masih memiliki tempat yang kuat di tengah kehidupan warga Nahdliyin.

“Kehadiran jamaah dari berbagai kalangan menjadi bukti bahwa semangat mencintai Al-Qur’an dan majelis dzikir masih tumbuh dengan baik di tengah masyarakat,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, donatur, dan jamaah yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut sehingga dapat berjalan dengan lancar dan penuh khidmat.

Baca Lainnya  Terbang Jawa Menggema, Obor Menyala Sambut Tahun Baru Hijriah 1448 H di Slaranglor

“Semoga seluruh amal kebaikan para panitia, donatur, dan jamaah diterima Allah SWT serta menjadi sebab turunnya rahmat dan keberkahan bagi Desa Kademangaran,” imbuhnya.

Menutup sambutannya, Ustadz Miftahus Sobirin berharap tradisi semaan dan dzikir dapat terus dilestarikan sebagai warisan spiritual yang memperkuat keimanan generasi muda Nahdliyin.

“Kami berharap kegiatan ini terus istiqamah dilaksanakan dan menjadi sarana menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an serta amaliyah Nahdlatul Ulama kepada generasi penerus,” tandasnya.

Editor : Tahmid
Kontributor : Ustadz. Akhie Subekhi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *