Bojong, Warta NU Tegal
Jamaah Thoriqoh Naksabandiah di Kebagusan kembali menggelar pengajian rutin malam Ahad di rumah Ketua MWCNU Kecamatan Bojong, Ustad Slamet, Sabtu malam (9/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahim dan penguatan ukhuwah antarjamaah sekaligus sarana memperdalam ilmu thoriqoh dan dzikir.
Pengajian yang berlangsung itu menghadirkan Mustasyar MWCNU Kecamatan Bojong, KH. Solikhin. Dalam tausiyahnya, beliau membahas makna talqin dalam pemahaman thoriqoh serta pentingnya menjaga istiqamah dzikir lailahaillallah dalam kehidupan sehari-hari.
KH. Solikhin menjelaskan bahwa talqin dalam tradisi thoriqoh bukan sekadar mengucapkan dzikir secara lisan, melainkan proses membimbing hati agar senantiasa dekat kepada Allah SWT.
“Talqin dalam pemahaman thoriqoh bermakna mengajarkan dzikir khusus lafadz lailahaillallah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujarnya.
Menurutnya, dzikir lailahaillallah memiliki kedudukan penting dalam perjalanan spiritual seorang salik karena menjadi inti penguatan tauhid dalam hati.
“Kalimat lailahaillallah bukan hanya bacaan di lisan, tetapi harus masuk ke dalam hati dan menjadi cahaya dalam kehidupan seseorang,” katanya.
Ia mengingatkan jamaah agar istiqamah mempelajari dan mengamalkan dzikir sehingga hati senantiasa terikat dengan Allah SWT.
“Dengan selalu istiqamah mempelajari dan mengamalkan dzikir, semoga ketika sakaratul maut dimudahkan oleh Allah SWT untuk mengucapkan lafadz lailahaillallah,” tuturnya.
KH. Solikhin menjelaskan bahwa talqin secara khusus lebih utama diberikan kepada orang yang masih sehat dan kuat agar mampu menjalani proses pembinaan ruhani secara maksimal.
“Talqin yang afdol adalah diberikan ketika seseorang masih sehat, sehingga dzikir itu benar-benar tertanam kuat dalam hati dan kehidupannya,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa dalam tradisi thoriqoh, tidak semua orang dapat mengajarkan dzikir secara ruhani tanpa bimbingan mursyid yang memiliki sanad keilmuan jelas.
“Dalam thoriqoh, yang mengajarkan dzikir tidak boleh sembarangan. Harus melalui mursyid yang memiliki sanad dan pemahaman ruhani,” ujarnya.
Menurutnya, dzikir lailahaillallah harus diajarkan tidak hanya melalui ucapan lisan, tetapi juga melalui sentuhan hati dan ruh.
“Kalimat lailahaillallah itu bukan hanya diajarkan di mulut saja, tetapi diajarkan dari hati dan ruh,” katanya.
Ia mengibaratkan hubungan hati dan dzikir seperti gula dengan rasa manis yang menyatu dan tidak terpisahkan satu sama lain.
“Guru mursyid mengajarkan agar ruh, hati, dan dzikir lailahaillallah benar-benar melekat menjadi satu kesatuan yang utuh,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Solikhin juga memberikan penjelasan tentang lapisan hati atau qalbu dalam perspektif thoriqoh.
“Hati manusia itu berlapis-lapis, diibaratkan seperti kelapa yang memiliki bagian-bagian tersendiri,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa dalam kajian thoriqoh terdapat beberapa tingkatan hati, mulai dari qalbu, fuad, lubb, hingga sirr yang merupakan inti rasa terdalam manusia.
“Yang paling dalam disebut sirr atau rasa. Dari sanalah seorang hamba bisa benar-benar merasakan kedekatan dengan Allah SWT,” pungkasnya.
Editor: Tahmid
Kontributor: M. Maftukhi












