KH. Ahmad Sa’idi: Bentengi Pondok Pesantren dengan Ibadah, Ilmu, dan Persatuan Umat

Avatar photo
Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syekh Armia Cikura Bojong, KH Ahmad Sa'idi, membuka acara Haul ke-94 Syekh Armia di Ponpes Attauhidiyyah Cikura Bojong, Senin (13/7/2026).

Bojong, Warta NU Tegal

Rangkaian Haul ke-94 Almaghfurlah Syech Armia bin Kurdi di Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cikura, Bojong, Kabupaten Tegal, Senin (13/7/2026), berlangsung penuh khidmat. Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati kompleks pesantren untuk mengikuti doa bersama, pengajian umum, serta memetik hikmah dari para ulama yang hadir.

Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syech Armia Cikura Bojong, KH Ahmad Sa’idi, menyampaikan tausiyah yang menitikberatkan pada pentingnya meluruskan niat hidup, menjaga marwah pesantren, memperkokoh persatuan Nahdlatul Ulama, serta meningkatkan semangat menuntut ilmu agama hingga akhir hayat.

Menurut KH Ahmad Sa’idi, tujuan utama manusia hidup di dunia adalah beribadah kepada Allah SWT. Seluruh aktivitas hendaknya diarahkan sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya, bukan semata-mata mengejar kepentingan duniawi.

“Kita sebenarnya tujuan hidup apa? Hanya ibadah kepada Allah SWT. Semua yang kita lakukan harus diniatkan untuk mengabdi kepada-Nya,” tuturnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa di tengah perkembangan zaman terdapat berbagai upaya yang secara tidak langsung menjauhkan generasi muda dari dunia pesantren. Menurutnya, berbagai pemberitaan negatif tentang pesantren kerap diulang-ulang sehingga menimbulkan prasangka di tengah masyarakat.

“Banyak usaha agar orang tidak mondok. Ketika ada satu kesalahan kecil di pesantren, beritanya diulang berkali-kali. Tujuannya agar masyarakat enggan mengaji dan menjauh dari pesantren,” ungkapnya.

KH Ahmad Sa’idi menegaskan bahwa masyarakat hendaknya melihat persoalan secara adil. Menurutnya, berbagai persoalan moral yang jauh lebih besar justru banyak terjadi di luar pesantren, sementara lembaga pendidikan Islam sering menjadi sasaran pemberitaan yang tidak proporsional. Karena itu, umat diminta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.

Dalam tausiyahnya, beliau juga mengingatkan pentingnya memperkuat ibadah sebagai benteng menghadapi godaan setan. Ia mencontohkan kebiasaan sederhana seperti membaca basmalah sebelum makan sebagai bentuk perlindungan diri.

Baca Lainnya  Haul Mbah Adipati Bojong, Gus Muwafiq: Merawat Sejarah Leluhur Berarti Menjaga Jati Diri Bangsa

“Jangan meremehkan ibadah yang sederhana. Ketika manusia lalai mengingat Allah, di situlah setan berusaha masuk dan menggoda hati manusia agar jauh dari ketaatan,” jelasnya.

Lebih lanjut, KH Ahmad Sa’idi mengingatkan bahwa salah satu strategi setan adalah memecah belah persatuan umat Islam, termasuk di lingkungan Nahdlatul Ulama. Menurutnya, fitnah, prasangka, serta adu domba sering digunakan untuk merusak ukhuwah di antara para kiai, habaib, ustadz, maupun warga Nahdliyyin. Karena itu, seluruh jamaah diminta senantiasa menjaga tabayun, husnuzan, dan persaudaraan.

Beliau kemudian membagikan pengalaman pribadi ketika masih muda yang pernah dihadapkan pada sebuah fitnah. Atas izin Allah SWT serta kehati-hatian keluarga dan pesantren, persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui pemeriksaan yang objektif sehingga tidak menimbulkan mudarat. Kisah itu menjadi pelajaran bahwa setiap persoalan harus disikapi dengan tabayun, kehati-hatian, dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

KH Ahmad Sa’idi juga mengingatkan bahwa tidak semua orang yang datang ke pesantren memiliki niat yang sama. Karena itu, seluruh pengasuh, guru, dan santri diminta tetap waspada, menjaga akhlak, memperkuat sistem pendidikan, sekaligus tidak mudah terpancing oleh berbagai provokasi yang dapat merusak nama baik lembaga pendidikan Islam.

“Kita jangan mudah terpancing. Di luar seolah-olah kita diadu domba, padahal sesungguhnya kita tetap bersaudara,” pesannya.

Menutup tausiyahnya, KH Ahmad Sa’idi mengajak seluruh jamaah untuk terus mencintai pesantren, memperbanyak mengaji, dan istiqamah menuntut ilmu hingga akhir hayat sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW.

“Jangan lupa mondok, jangan berhenti mengaji sampai mati. Semua ini kita lakukan sebagai bentuk membela agama Allah dan mencintai Rasulullah SAW. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga para ulama, pesantren, dan seluruh umat Islam,” pungkasnya.

Baca Lainnya  KH. Muslim Komari Pemalang Ajak Jamaah Memahami Karomah Wali dan Menjaga Marwah Nahdlatul Ulama

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *