Tegal, Warta NU Tegal
Di tengah beragam metode pembelajaran Al-Qur’an yang berkembang di Indonesia, Metode Tilawati menjadi salah satu sistem yang mendapat tempat di kalangan lembaga pendidikan Al-Qur’an. Metode yang lahir dari Kabupaten Tegal ini kini digunakan di berbagai daerah dan menjadi salah satu rujukan dalam pembelajaran baca Al-Qur’an yang sistematis, terukur, dan berorientasi pada kualitas.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa metode tersebut merupakan buah pemikiran seorang ulama dan pendidik Al-Qur’an dari Desa Pesayangan, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, yakni KH Imron Ahmadi. Sosok yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk pendidikan Al-Qur’an itu dikenal sebagai pribadi sederhana yang memiliki perhatian besar terhadap kualitas bacaan Al-Qur’an generasi muda.
Pada tahun 2005, beliau mulai memperkenalkan Metode Tilawati sebagai solusi atas berbagai persoalan yang selama ini dihadapi lembaga TPQ. Metode tersebut lahir dari pengalaman panjang beliau dalam mendampingi para guru Al-Qur’an dan mengamati kebutuhan riil pembelajaran di lapangan.
Tilawati hadir dengan pendekatan yang memadukan pembelajaran klasikal dan baca simak secara seimbang. Melalui sistem tersebut, santri tidak hanya belajar membaca secara individual, tetapi juga memperoleh penguatan materi secara bersama-sama melalui penggunaan alat peraga.
Salah satu ciri khas Metode Tilawati adalah penggunaan lagu Rost sebagai dasar pembelajaran membaca Al-Qur’an. Irama ini dipilih karena sederhana, mudah ditirukan, dan mampu membantu santri membaca Al-Qur’an secara tartil sesuai kaidah tajwid.
Metode Tilawati terdiri atas enam jilid pembelajaran yang dilengkapi materi gharib dan musykilat. Setiap jilid disusun secara sistematis agar santri dapat belajar secara bertahap sesuai kemampuan perkembangan mereka.
Selain buku jilid, setiap tingkatan dilengkapi alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran klasikal. Penggunaan peraga ini menjadi salah satu kekuatan Tilawati karena membantu proses pengulangan materi secara terus-menerus sehingga pemahaman santri menjadi lebih kuat.
Keunggulan lain Metode Tilawati adalah adanya pembinaan guru secara berkelanjutan. Seorang guru Tilawati tidak hanya dituntut mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga harus memahami metodologi pengajaran yang benar dan terstandar.
Setiap santri juga mengikuti munaqasyah atau evaluasi sebelum naik jilid. Sistem ini memastikan bahwa target pembelajaran benar-benar tercapai dan tidak sekadar mengejar penyelesaian buku.
Melalui perpaduan metode klasikal dan baca simak, seorang ustadz dapat mendampingi 15 hingga 20 santri secara efektif tanpa mengurangi kualitas pembelajaran. Model ini menjadi jawaban atas keterbatasan jumlah tenaga pengajar yang selama ini banyak dihadapi Lembaga TPQ.
Perencanaan pembelajaran dalam Tilawati juga dirancang secara terukur. Dengan jadwal yang konsisten, santri dapat menyelesaikan enam jilid Tilawati dalam waktu sekitar satu setengah tahun dan melanjutkan pembelajaran Al-Qur’an 30 juz secara bertahap.
Target utama yang ingin dicapai bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan penguasaan fashahah, tajwid, gharib, musykilat, serta kualitas suara dan irama dalam membaca Al-Qur’an.
KH Imron Ahmadi juga menyusun Kitab Tajwid Tilawati yang menggabungkan teori dan praktik secara seimbang. Materi tajwid disampaikan melalui pendekatan tanya jawab yang memudahkan anak-anak memahami hukum bacaan yang selama ini dianggap sulit.
Perpaduan antara logika pembelajaran, metode hafalan, praktik langsung, dan penggunaan nada dalam penyampaian materi menjadikan pembelajaran tajwid lebih ringan serta mudah dipahami oleh santri.
Di balik keberhasilan besar tersebut, KH Imron Ahmadi tetap dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan ikhlas. Beliau tidak pernah menjadikan Tilawati semata-mata sebagai sarana bisnis, melainkan sebagai jalan dakwah untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an umat Islam.
Salah satu dawuh beliau yang hingga kini terus dikenang para pegiat Tilawati adalah, “Saya tidak jual buku. Saya ingin anak-anak nanti ngajinya benar. Kalau saya jual buku, buat apa repot-repot membentuk koordinator, titipkan saja ke toko buku, selesai.” Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa orientasi utama Tilawati adalah kualitas pendidikan Al-Qur’an, bukan keuntungan materi.
Semangat keikhlasan itulah yang hingga hari ini terus diwarisi oleh para ustadz dan ustadzah Tilawati di berbagai daerah. Mereka tidak hanya mengajarkan cara membaca Al-Qur’an, tetapi juga melanjutkan perjuangan KH Imron Ahmadi dalam membangun generasi Qur’ani yang mencintai ilmu, dan berakhlak mulia.
Dari Pesayangan Talang, Kabupaten Tegal, jejak pengabdian KH Imron Ahmadi telah menjelma menjadi gerakan pendidikan Al-Qur’an yang manfaatnya dirasakan jutaan santri. Sebuah bukti bahwa keikhlasan seorang ulama dalam mengabdi kepada Al-Qur’an akan terus hidup dan mengalirkan manfaat sepanjang zaman.
Editor: Tahmid












