Tokoh  

KH Hasyim Djamhari Danawarih: Ulama Kharismatik, Penjaga Tradisi Pesantren dan Penggerak Nahdlatul Ulama di Kabupaten Tegal

Avatar photo
Foto Romo KH. Hasyim Djamhari Danawrih Balapulang Tegal.

Balapulang, Warta NU Tegal

Dalam khazanah ulama Nahdlatul Ulama di Kabupaten Tegal, nama Almaghfurlah KH Hasyim Djamhari menempati posisi yang istimewa. Beliau dikenal sebagai ulama kharismatik, pendidik pesantren, penggerak organisasi NU, sekaligus figur yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat. Jejak perjuangannya hingga kini masih hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi Nahdliyin di Kabupaten Tegal.

KH Hasyim Djamhari lahir di Dukuh Kandang, Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, pada Sabtu Legi, 28 Jumadil Tsani 1359 H atau bertepatan dengan 3 Agustus 1940 M. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Djamhari dan Hj. Fatimah, keluarga yang dikenal saleh, mencintai ulama dan habaib, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap kaum dhuafa. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan religius yang menanamkan kedisiplinan ibadah, kecintaan terhadap ilmu agama, dan penghormatan kepada para guru.

Dalam silsilah keluarganya, KH Hasyim Djamhari disebut memiliki garis keturunan yang bersambung hingga Syaikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), salah satu Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Nusantara. Tradisi keilmuan dan perjuangan dakwah itulah yang kemudian mewarnai perjalanan hidup beliau.

Pendidikan dasar ditempuh di Sekolah Rakyat (SR) Danawarih dan Balapulang. Namun, sebagaimana tradisi keluarga pesantren pada masa itu, pendidikan formal berjalan beriringan dengan pendidikan diniyah. Sejak kecil beliau telah belajar agama secara intensif dan dikenal sebagai anak yang rajin, tawadhu, berbakti kepada orang tua dan guru, serta memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu.

Selepas menempuh pendidikan dasar, KH Hasyim Djamhari melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke sejumlah pesantren besar di Pulau Jawa. Beliau pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka yang memiliki hubungan historis kuat dengan Nahdlatul Ulama. Di lingkungan pesantren tersebut, beliau mendalami berbagai disiplin ilmu agama dan memperkuat tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah.

Baca Lainnya  Syekh KH Armia bin KH Kurdi: Wali Lereng Gunung Slamet yang Menyalakan Cahaya Tauhid dari Cikura

Selain belajar di Tambakberas, beliau juga memperdalam ilmu di lingkungan pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Setelah itu, perjalanan menuntut ilmunya berlanjut ke Pondok Pesantren APIK Kaliwungu Kendal yang diasuh KH Ahmad Ru’yat serta Pesantren Pungkuran Kendal. Perjalanan panjang tersebut membentuk karakter beliau sebagai ulama yang matang dalam ilmu, kuat dalam khidmah, dan teguh dalam menjaga tradisi pesantren.

Sekembalinya ke kampung halaman, KH Hasyim Djamhari tidak memilih hidup dalam kenyamanan pribadi. Beliau justru mengabdikan diri untuk membangun pendidikan Islam di tengah masyarakat. Berbekal amanah dari para guru dan pengalaman panjang di pesantren, beliau mulai membina masyarakat Danawarih melalui pengajian dan pendidikan agama.

Puncak pengabdian beliau ditandai dengan berdirinya Madrasah Diniyah Takmiliyah Nurul Huda Al-Hasyimiyyah pada tahun 1977. Setahun kemudian, beliau mendirikan majelis taklim yang berkembang menjadi Pondok Pesantren Nurul Huda Al-Hasyimiyyah, dan secara resmi menjadi pesantren pada tahun 1984. Sejak saat itu, pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak santri dan kader dakwah di wilayah Kabupaten Tegal dan sekitarnya.

Di mata masyarakat, KH Hasyim Djamhari dikenal sebagai sosok yang alim, arif, santun, serta memiliki keteladanan hidup yang kuat. Dalam mengajar, beliau tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan akhlak, kedisiplinan, dan kecintaan kepada ulama. Sikap tawadhu dan kesederhanaan menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari beliau.

Selain berkiprah di dunia pendidikan, KH Hasyim Djamhari juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Kiprah beliau di lingkungan NU cukup panjang dan strategis. Pada periode 1983–1988, beliau dipercaya sebagai Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal. Selanjutnya, pada periode 1988–1998, beliau mengemban amanah sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal selama dua periode.

Baca Lainnya  Mbah Dongkol dan Mbah Munjul: Kisah Para Pembuka Alas di Balik Peradaban Sitail dan Sumbarang

Peran beliau tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan. Bersama sejumlah ulama dan tokoh masyarakat, beliau turut berkontribusi dalam pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Bakti Negara (STAIBN) serta berbagai lembaga sosial keumatan yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

Di kalangan santri dan masyarakat, KH Hasyim Djamhari juga dikenal memiliki kedalaman spiritual yang kuat. Berbagai kisah keteladanan, khidmah kepada guru, serta pengalaman spiritual beliau diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari pelajaran tentang adab, keikhlasan, dan kecintaan kepada ilmu. Namun demikian, sebagaimana tradisi pesantren NU, yang lebih utama dari berbagai kisah tersebut adalah keteladanan beliau dalam berkhidmah kepada agama, guru, dan umat.

Dalam kehidupan keluarga, KH Hasyim Djamhari dikenal sebagai sosok ayah yang penuh kasih sayang sekaligus tegas dalam mendidik. Dari pernikahannya dengan Nyai Hj. Ma’muroh dan kemudian Nyai Hj. Maesaroh serta Nyai Solikhah, lahirlah putra-putri yang banyak melanjutkan perjuangan dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada Kamis, 28 Februari 2008, KH Hasyim Djamhari berpulang ke rahmatullah dalam usia 68 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, sahabat, dan masyarakat luas. Ribuan jamaah mengantarkan kepergian ulama yang selama hidupnya menjadi panutan dalam ilmu, akhlak, dan perjuangan.

Hingga hari ini, nama KH Hasyim Djamhari tetap hidup dalam ingatan warga Nahdliyin Kabupaten Tegal. Pondok Pesantren Nurul Huda Al-Hasyimiyyah yang beliau dirikan terus melanjutkan estafet pendidikan pesantren, sementara nilai-nilai perjuangan, kecintaan kepada ilmu, penghormatan kepada guru, dan pengabdian kepada Nahdlatul Ulama tetap menjadi warisan berharga bagi generasi penerus. Sosok beliau menjadi bukti bahwa ulama tidak hanya mengajar di ruang-ruang pengajian, tetapi juga membangun peradaban melalui pendidikan, organisasi, dan keteladanan hidup yang istiqamah.

Baca Lainnya  KH Abdullah Jamil: Perjalanan Seorang Kyai Pejuang

(Sumber: Biografi KH Hasyim Djamhari karya Ustadz Ahzam Shodiq | Editor: Tahmid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *