Bojong, Warta NU Tegal
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama Kecamatan Bojong menggelar kegiatan Mudzakarah bersama Muslimat NU sekaligus konsolidasi organisasi pada Ahad Kliwon (3/5/2026) di Ranting Cikura, Dukuh Pekandangan.
Acara yang dihadiri oleh jajaran Pembina, Dewan Kehormatan, hingga ratusan kader Fatayat se-Anak Cabang Bojong ini menjadi momentum penguatan ideologi di tengah tantangan zaman yang kian kompleks bagi kaum perempuan muda NU.
Rois Syuriyah MWCNU Kecamatan Bojong, KH. Muhammad Ircham, dalam tausiyahnya menegaskan bahwa umat saat ini harus memiliki kecerdasan dalam memilih rujukan agama dengan mengenal tiga golongan ulama: ‘alim billah, ‘alim ummah, dan ‘alim daulah.
“Ulama itu ada tiga macam. Ada yang hatinya tembus ke langit, ada yang hidupnya habis untuk rakyat, dan ada pula yang agamanya habis terjual demi kepentingan duniawi,” buka Kiai Ircham di hadapan jamaah.
Beliau menjelaskan golongan pertama adalah Ulama Billah atau Ulama Akhirat, yakni sosok Waliyullah yang benar-benar ya’rifullah (mengenal Allah) secara mendalam dan menjadi suluh bagi kegelapan hati.
“Ciri utamanya adalah lam yathlubid dunya bi ‘ilmihi, mereka tidak pernah menjual ayat-ayat Allah atau martabat agama hanya untuk mengejar kemewahan dunia yang fana ini,” tegasnya.
Kiai Ircham menambahkan bahwa Ulama Billah memiliki aura spiritual yang kuat, di mana siapapun yang melihat wajahnya, maka hatinya akan seketika teringat kepada Allah SWT (idza ra-aytahu dzakkartallaha).
“Hati mereka sangat lembut. Ulama jenis ini akan meneteskan air mata (yabki) ketika diceritakan tentang dahsyatnya hari akhirat, karena fokus hidupnya memang bukan di sini, tapi di sana,” lanjutnya.
Beliau berpesan kepada kader Fatayat agar senantiasa mencari keberkahan lewat jalur ini: “Carilah ulama yang seperti ini. Di sinilah letak sanad keberkahan yang akan menyelamatkan kita semua.”
Berlanjut ke golongan kedua, Kiai Ircham memaparkan profil Ulama Ummah atau Ulama Pergerakan, yakni mereka yang ya’isyu ma’al ummah atau hidup dan bernapas bersama denyut nadi umat.
“Mereka adalah para kiai dan nyai yang yahmilu humuma al-muslimin, yakni mereka yang memikul beban penderitaan umat, bukan justru menambah beban bagi jamaahnya,” tuturnya.
Menurut beliau, Ulama Ummah tidak pernah memiliki rasa takut terhadap celaan manusia selama mereka berdiri di jalan Allah (la yakhafu fi llahi laumata la-im).
“Segala gerakannya didasari oleh bihusnin niyyah, niat yang baik dan tulus karena Allah, bukan demi mengejar popularitas atau agar kontennya menjadi viral di media sosial,” sindirnya halus.
Kiai Ircham mencontohkan sosok nyata di Bojong, seperti pengurus MWCNU, Ibu Nyai Muslimat, hingga Ketua Fatayat yang rela blusukan dari Karanganyar, Dihung, hingga Babakan demi organisasi.
“Inilah ulama yang wajib kita bela dan kita ikuti gerakannya. Jika Ulama Ummah ini kuat, maka jam’iyah Nahdlatul Ulama akan tetap kokoh menjaga benteng kedaulatan umat,” pesannya.
Namun, Kiai Ircham juga memberikan peringatan keras terkait golongan ketiga, yakni Ulama Daulah atau Ulama Dunia yang sangat membahayakan bagi keutuhan iman jamaah.
“Na’udzubillah, mereka ini adalah golongan yang yabi’u dinahu bi dunya ghairihi, atau menjual agamanya hanya untuk kepentingan dunia orang lain atau penguasa,” jelasnya.
Ciri yang paling nampak, menurut Kiai Ircham, adalah sikap diam seribu bahasa saat melihat kedzaliman (sakata ‘anil haq) hanya karena rasa takut kehilangan akses atau fasilitas dari pihak tertentu.
“Fatwanya tidak lagi berdasarkan dalil yang objektif, melainkan yufti bima yurdhi man yadfa’, yakni mengeluarkan fatwa pesanan yang menyenangkan pihak yang membayar mereka,” ungkapnya.
Beliau menyayangkan jika pikiran seorang tokoh agama hanya dipenuhi oleh urusan mi’watu wal manshib atau sekadar memikirkan isi amplop dan jabatan struktural semata.
“Akibatnya fatal. Umat menjadi bingung, dan amal sholeh yang seharusnya menjadi bekal akhirat justru tergerus menjadi sekadar amal dunia. Habis waktunya, habis pula pahalanya,” lanjutnya
Kepada jamaah, beliau memberikan imbauan tegas: “Terhadap yang seperti ini, mereka sebenarnya sedang merusak agama dari dalam. Umat harus berani meninggalkan dan jangan dijadikan rujukan.”
Kiai Ircham kemudian memberikan analogi tajam: “Ulama Billah itu ibarat sumur yang jernih dan menghilangkan dahaga; Ulama Ummah bagai sungai yang mengairi sawah; sedangkan Ulama Daulah tak ubahnya comberan yang berbau dan najis.”
Di akhir tausiyahnya, beliau mengajak para kader Fatayat untuk memperkuat niat berkhidmat di NU agar tidak terjebak dalam kepentingan sesaat yang merugikan di hari akhir.
“Jangan mudah terpukau dengan yang sekadar viral di panggung, tapi terpukaulah kepada mereka yang istiqomah dalam sujud dan pengabdian tanpa pamrih,” pungkasnya
Editor : Tahmid
Kontributor : Ustadz Moh. Sopan












