Warta  

Gerakan Ekonomi dalam Tradisi Welasan Desa Penyalahan, Warisan Ulama yang Terus Menguatkan Solidaritas Warga

Avatar photo
Tradisi Welasan yang masih lestari di Desa Penyalahan, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, digelar di kediaman Bapak Rosid, RT 23 RW 03, Jumat malam (26/6/2026).

Jatinegara, Warta NU Tegal

Tradisi Welasan yang masih lestari di Desa Penyalahan, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, tidak hanya menjadi sarana mempererat silaturahim dan memperbanyak doa, tetapi juga menghadirkan gerakan ekonomi berbasis gotong royong yang telah diwariskan para ulama sejak dahulu. Tradisi tersebut kembali digelar di kediaman Bapak Rosid, RT 23 RW 03, Jumat malam (26/6/2026).

Pantauan Warta NU Tegal di lokasi menunjukkan, kegiatan berlangsung sederhana. Warga dari berbagai usia berkumpul mengikuti rangkaian acara yang diawali dengan pembacaan doa bersama, dilanjutkan pencatatan tabungan warga, hingga diakhiri dengan pertunjukan rebana Jawa sebagai media syiar Islam dan pelestarian budaya.

Tradisi Welasan dipimpin oleh sesepuh masyarakat, H. Wahidin, sementara pembacaan doa dipimpin oleh Ustadz Mirkon. Keduanya mengajak masyarakat untuk terus menjaga tradisi yang telah diwariskan para ulama sebagai media memperkuat ukhuwah, meningkatkan kepedulian sosial, sekaligus membangun kemandirian ekonomi warga.

Pantauan Warta NU Tegal mencatat, salah satu rangkaian yang paling dinanti adalah pencatatan tabungan atau setoran warga. Melalui pengeras suara, petugas membacakan daftar hadir beserta nominal tabungan yang disetorkan masing-masing peserta secara terbuka sebagai bentuk transparansi kepada seluruh anggota.

Pada malam itu, total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp4.600.000. Nominal tabungan warga pun beragam, mulai dari Rp10.000 hingga Rp500.000 sesuai kemampuan masing-masing. Kebiasaan menabung secara kolektif tersebut menjadi cerminan kuatnya budaya saling membantu yang hidup di tengah masyarakat.

Selain menjadi wadah menabung, tradisi Welasan juga memberikan kemudahan bagi warga yang membutuhkan dana mendesak. Pantauan Warta NU Tegal di lokasi menunjukkan terdapat dua warga yang memanfaatkan fasilitas pinjaman (kanggo), masing-masing sebesar Rp1.000.000 dan Rp300.000. Mekanisme tersebut berjalan atas dasar saling percaya, tanggung jawab, dan semangat tolong-menolong.

Baca Lainnya  PAC IPNU-IPPNU Margasari Jalin Sinergi dengan SMK Ma’arif NU untuk Kaderisasi Pelajar Nahdliyin

Model pengelolaan ekonomi seperti ini merupakan warisan para ulama yang hingga kini tetap bertahan. Melalui tradisi Welasan, masyarakat diajak membangun kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, dan gotong royong yang menjadi karakter masyarakat.

Setelah seluruh rangkaian administrasi selesai, suasana semakin semarak dengan penampilan musik budaya Terbang Jawa. Kelompok rebana melantunkan syair-syair pujian kepada Rasulullah Saw. dalam bahasa Arab yang dipadukan dengan tembang berbahasa Jawa.

Bagi masyarakat Desa Penyalahan, rebana Jawa bukan sekadar hiburan, melainkan media dakwah yang telah digunakan para ulama sejak dahulu. Melalui seni budaya tersebut, pesan-pesan keislaman disampaikan dengan cara yang santun, mudah diterima masyarakat, dan tetap menjaga kekayaan budaya lokal.

Tradisi Welasan yang terus berlangsung hingga saat ini membuktikan bahwa warisan para ulama tidak hanya menjaga kehidupan spiritual masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi, mempererat persaudaraan, serta melestarikan budaya Islam.

Semangat gotong royong yang tumbuh dari tradisi tersebut diharapkan terus diwariskan kepada generasi muda sebagai fondasi membangun masyarakat yang religius, mandiri, dan sejahtera.

Editor : Tahmid
Kontributor: Eko Wahyu Sagino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *