Bojong, Warta NU Tegal
Suasana khidmat menyelimuti Maqbaroh Dukuh Kebagusan, Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Rabu (26/8/2026). Ratusan warga mengikuti Haul Umum Sesepuh Dukuh Kebagusan sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang rutin digelar setiap 13 Rabiul Awal sebagai momentum mendoakan para ulama dan sesepuh yang telah mendahului.
Peringatan haul tahun ini diisi oleh KH Nawawi Ashari, Syuriah PCNU Kabupaten Tegal. Selain menjadi tradisi tahunan masyarakat, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengenang jasa para ulama dan sesepuh dalam merintis serta menyebarkan ajaran Islam di Dukuh Kebagusan. Tradisi haul juga menjadi bagian dari amaliyah yang lekat dengan kehidupan warga Nahdliyin.
Ketua Panitia Haul Umum dan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ustadz Khumedi, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga mengapresiasi seluruh elemen masyarakat yang turut memberikan dukungan dalam berbagai bentuk.
“Kami bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat Dukuh Kebagusan yang sudah menyumbangkan tenaga, pikiran maupun materi untuk menyukseskan acara haul ini,” ujar Ustadz Khumedi.
Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan haul menjadi cerminan kuatnya kebersamaan dan sesrawungan warga Dukuh Kebagusan. Ia berharap semangat gotong royong tersebut terus terjaga dan semakin baik pada pelaksanaan haul di tahun-tahun mendatang.
“Dengan suksesnya acara haul ini membuktikan sesrawungan warga Kebagusan masih kuat. Semoga di tahun-tahun selanjutnya bisa lebih baik lagi,” katanya.
Ustadz Khumedi menilai kebersamaan masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi keagamaan yang telah diwariskan para ulama terdahulu. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam haul juga menunjukkan kepedulian terhadap keberlangsungan amaliyah keagamaan di lingkungan setempat.
“Kami berharap kebersamaan dan kepedulian seluruh warga ini terus dipertahankan, sehingga kegiatan haul dan peringatan Maulid Nabi dapat terus dilaksanakan dengan baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Ustadz Slamet dalam sambutannya mewakili ulama setempat sekaligus Sohibul Haul menjelaskan bahwa haul tidak semestinya dipahami hanya sebagai kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, haul menjadi bentuk penghormatan dan bakti anak kepada orang tua serta sesepuh yang telah meninggal dunia.
“Kegiatan haul ini bukan hanya sebagai tradisi seremonial saja, akan tetapi sebagai bentuk wujud birrulwalidain, seorang anak yang mendoakan para orang tua yang sudah mendahului,” tutur Ustadz Slamet.
Ia menambahkan, haul juga menjadi momentum untuk mengingat kembali perjuangan para ulama dan sesepuh dalam mengajarkan serta menyebarkan agama Islam di Dukuh Kebagusan. Dengan mengenang perjuangan tersebut, generasi penerus diharapkan dapat melanjutkan nilai-nilai keislaman yang telah diwariskan.
“Haul juga menjadi pengingat perjuangan para ulama sesepuh dahulu dalam memperjuangkan dan menyebarkan ajaran agama Islam di Dukuh Kebagusan,” jelasnya.
Ustadz Slamet menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi haul sebagai bagian dari amaliyah yang telah biasa dilakukan serta diajarkan para ulama Nahdliyyin. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya mempererat hubungan antarmasyarakat, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk terus mendoakan dan menghormati para pendahulu.
“Tradisi haul ini harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai amaliyah yang biasa dilakukan dan diajarkan oleh ulama Nahdliyyin,” pungkasnya.
Editor: Tahmid
Kontributor: M. Maftukhi












