Jatinegara, Warta NU Tegal
Keberadaan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) di tengah masyarakat pedesaan tidak sekadar menjadi pelengkap pendidikan formal, tetapi juga menjadi benteng akidah, akhlak, dan tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Di Desa Penyalahan, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, MDTA Miftahuttholabah telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan agama Islam bagi generasi muda selama lebih dari satu dekade.
Melalui sebuah kajian akademik pada mata kuliah Psikologi Pendidikan Islam, Maadah, Mahasiswi Pascasarjana Universitas Islam Bhakti Negara (UIBN) Tegal Tahun 2026 Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Manajemen Pendidikan, mengulas motivasi berdirinya MDTA Miftahuttholabah sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para ulama dan masyarakat yang telah meletakkan fondasi pendidikan Islam di Desa Penyalahan.
Menurut Maadah, penulisan kajian tersebut berangkat dari pengalaman pribadi sebagai putri daerah yang pernah mengenyam pendidikan di MDTA Miftahuttholabah pada pertengahan tahun 1990-an. Baginya, madrasah diniyah bukan sekadar tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter, akhlak, dan kecintaan terhadap ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah.
“MDTA Miftahuttholabah merupakan simbol perjuangan masyarakat Desa Penyalahan dalam menjaga keberlangsungan pendidikan agama Islam. Kehadirannya menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan keilmuan para ulama Nahdlatul Ulama yang telah mengabdikan hidupnya untuk mendidik umat,” tulis Maadah dalam kajiannya.
Dalam perspektif psikologi pendidikan, Maadah menjelaskan bahwa motivasi merupakan kekuatan yang menggerakkan seseorang untuk bertindak dan mempertahankan perilaku menuju tujuan tertentu. Ia mengutip sejumlah pakar pendidikan seperti John W. Santrock, Sumadi Suryabrata, dan Sardiman yang menegaskan bahwa motivasi menjadi faktor utama dalam membangun semangat belajar serta membentuk perilaku yang terarah.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan wawancara dengan pengurus, ustaz, serta ustazah MDTA Miftahuttholabah, terdapat sejumlah motivasi utama yang melandasi berdirinya lembaga tersebut. Pertama, sebagai benteng akidah dan akhlak anak-anak sejak usia dini agar memiliki landasan moral yang kuat di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi.
Selain itu, madrasah diniyah juga hadir untuk mempertahankan tradisi literasi keagamaan melalui pembelajaran Al-Qur’an, ilmu tajwid, fikih dasar, aqidah, dan kitab-kitab klasik yang menjadi ciri pendidikan Islam berbasis pesantren. Menurut Maadah, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan memahami dasar-dasar ibadah merupakan bekal penting bagi kehidupan seorang muslim.
Motivasi lainnya ialah mengisi waktu luang anak-anak selepas sekolah formal dengan aktivitas yang bermanfaat. Melalui pembelajaran pada sore hari, peserta didik diarahkan agar lebih dekat dengan lingkungan belajar yang religius sehingga terhindar dari dampak negatif penggunaan gawai secara berlebihan maupun pergaulan yang kurang kondusif.
Tidak kalah penting, keberadaan MDTA juga menjadi sarana pelestarian tradisi keagamaan masyarakat Nahdlatul Ulama, seperti tahlil, yasinan, shalawat, pembiasaan menghormati guru, orang tua, serta penguatan nilai-nilai kebersamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat Desa Penyalahan.
Menurut Maadah, semangat khidmah para ustaz, ustazah, tokoh masyarakat, dan wali santri menjadi faktor utama yang membuat madrasah tetap bertahan. Pengabdian yang dilakukan secara ikhlas mencerminkan budaya gotong royong khas warga Nahdliyin dalam menjaga keberlangsungan pendidikan agama di lingkungan desa.
Saat ini, MDTA Miftahuttholabah yang beralamat di Dukuh Santa RT 23 RW 03, Desa Penyalahan, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, memiliki Nomor Statistik Madrasah 311233280039. Di bawah kepemimpinan Kepala Madrasah Ustaz Milad, lembaga tersebut membina sekitar 60 santri dengan didampingi delapan ustaz dan ustazah lulusan berbagai pondok pesantren. Kegiatan belajar mengajar berlangsung setiap sore pukul 13.30–16.00 WIB, kecuali hari Jumat.
Sebagai lembaga pendidikan Islam nonformal, MDTA Miftahuttholabah tidak hanya mengajarkan kemampuan membaca Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman dasar, tetapi juga menyelenggarakan berbagai kegiatan pembiasaan ibadah serta wisuda Akhirussanah setiap tahun yang melibatkan orang tua santri, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa.
Dalam kajian tersebut, Maadah juga mengulas pentingnya Psikologi Pendidikan Agama Islam sebagai landasan bagi guru dalam memahami perkembangan peserta didik. Ia mengutip pandangan Ramayulis, Muhaimin, dan Zakiah Daradjat yang menegaskan bahwa pendidikan agama tidak cukup hanya menyampaikan pengetahuan secara kognitif, melainkan harus menyentuh aspek ruhani, emosi, dan pembentukan kepribadian muslim secara utuh.
Menurutnya, guru Pendidikan Agama Islam perlu memahami kondisi psikologis anak agar mampu menyampaikan materi keagamaan secara bijaksana, penuh kasih sayang, dan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Pendekatan tersebut diyakini lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, dan kecintaan terhadap ajaran Islam.
Di akhir tulisannya, Maadah menyimpulkan bahwa keberadaan MDTA Miftahuttholabah merupakan warisan perjuangan para ulama dan masyarakat Nahdlatul Ulama yang harus terus dijaga. Madrasah diniyah memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik di sekolah formal, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, kemandirian dalam beribadah, serta akhlakul karimah dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia berharap kajian tersebut dapat menjadi pengingat bahwa menjaga eksistensi madrasah diniyah berarti menjaga mata rantai perjuangan ulama dalam mencerdaskan kehidupan umat sekaligus memperkuat karakter Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di tengah perkembangan zaman.
(Kontributor: Maadah, Mahasiswi Pascasarjana UIBN Tegal Program Studi Pendidikan Agama Islam Tahun 2026 | Editor: Tahmid)






