Tegal, Warta NU Tegal
Bulan Rabiul Awwal dalam kalender Hijriah selalu menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk kembali mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di tengah tradisi masyarakat Muslim Nusantara, peringatan Maulidurrasul tidak hanya diisi dengan ceramah keagamaan, tetapi juga pembacaan Al-Barzanji, Ad-Diba’i, Burdah, shalawat, qasidah, serta pengajian yang mengisahkan sejarah dan keteladanan Rasulullah SAW.
Pada Rabiul Awwal 1448 H yang bertepatan dengan 14 Agustus 2026, tradisi tersebut kembali semarak di berbagai daerah. Sebagian umat Islam memperingatinya sejak awal bulan hingga 12 Rabiul Awwal yang secara masyhur diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebagian lainnya melanjutkan pembacaan maulid hingga akhir Rabiul Awwal sebagai bentuk kecintaan dan kegembiraan atas kelahiran manusia agung pembawa risalah Islam.
Keutamaan Merayakan Maulidurrasul
Dalam khazanah keislaman Ahlussunnah wal Jamaah, peringatan Maulidurrasul dipahami sebagai salah satu bentuk ungkapan kegembiraan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Ulama besar, Al-Hafidz As-Suyuthi, sebagaimana dikutip dalam sumber ini, menerangkan bahwa berkumpulnya umat untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an, menguraikan sejarah kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAW sejak kelahiran hingga wafat, serta memberikan sedekah berupa makanan dan hidangan lainnya dengan tidak berlebihan merupakan bentuk bid’ah hasanah. Amal tersebut dinilai sebagai wujud kegembiraan dan mahabbah kepada Rasulullah SAW.
Salah satu ungkapan yang disebutkan dalam sumber tersebut adalah:
مَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang senang, gembira, dan cinta kepada saya, maka akan berkumpul bersama dengan saya masuk surga.”
Semangat kecintaan kepada Rasulullah SAW juga tergambar dalam kisah Tsuwaibah yang disebut dalam kitab Anwarul Muhammadiyah karya Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani. Dalam kisah tersebut, Tsuwaibah, seorang budak Abu Lahab, menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW kepada majikannya. Abu Lahab bergembira atas berita tersebut hingga kemudian memerdekakan Tsuwaibah. Sumber tersebut juga memuat kisah bahwa Abu Lahab memperoleh keringanan siksa setiap hari Senin sebagai buah dari kegembiraannya ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kisah tersebut kerap digunakan dalam literatur Maulid untuk menggambarkan betapa kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW memiliki tempat tersendiri dalam khazanah keislaman. Namun, kisah tentang kondisi Abu Lahab setelah kematian tersebut merupakan riwayat yang dikenal melalui mimpi dan pembahasan ulama, sehingga tidak diposisikan sebagai dalil utama mengenai hukum peringatan Maulid.
Sumber yang dihimpun juga mencantumkan beberapa ungkapan yang dinisbatkan kepada para sahabat mengenai keutamaan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di antaranya dinisbatkan kepada Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA:
مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَماً فِى مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang memberikan infak satu dirham untuk memperingati kelahiran Nabi SAW, akan menjadi temanku masuk surga.”
Sementara itu, sumber tersebut juga mencantumkan ungkapan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Umar bin Khattab RA:
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَحْيَا الْإِسْلَامَ
“Barang siapa yang memuliakan atau memperingati kelahiran Nabi SAW, berarti telah menghidupkan Islam.”
Adapun ungkapan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berbunyi:
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا بِالْإِيمَانِ
“Barang siapa yang memuliakan atau memperingati kelahiran Nabi SAW, apabila meninggalkan dunia, ia pergi dengan membawa iman.”
Karena itu, dalam praktik masyarakat Muslim, kecintaan kepada Rasulullah SAW diekspresikan melalui berbagai amal kebaikan. Di antaranya dengan mengadakan majelis pembacaan Al-Barzanji, shalawat Maulid, Burdah, qasidah, pengajian, serta menyediakan sedekah dan hidangan bagi jamaah. Sebagian masyarakat bahkan mempersiapkan tabungan khusus dari hasil usaha, pertanian, maupun sebagian penghasilan untuk mendukung kegiatan Maulidurrasul.
Perintis Peringatan Maulid Nabi
Dalam sumber yang dihimpun Warta NU Tegal, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW disebut telah berkembang di kalangan umat Islam sejak beberapa abad setelah hijrah. Salah satu tokoh pemerintahan yang masyhur disebut sebagai penyelenggara peringatan Maulid secara besar-besaran adalah Penguasa Irbil, Raja Mudzaffar Abu Sa’id Al-Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin. Ia dikenal sebagai pemimpin yang cerdas, ahli strategi pemerintahan, pemurah, alim, dan adil.
Peringatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperbaiki kondisi masyarakat yang ketika itu dinilai mulai mengalami kemerosotan dalam pengamalan agama dan akhlak. Raja Mudzaffar mengumpulkan masyarakat, mulai dari para tokoh hingga rakyat kecil, kemudian mengisinya dengan penjelasan tentang sejarah, perjuangan, dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sejak lahir hingga wafat.
Dalam kegiatan tersebut hadir pula ulama besar Syekh Al-Hafidz Ibnu Dahyah, pengarang kitab At-Tanwir fi Maulidil Basyir An-Nadzir. Atas karya dan kontribusinya, ia disebut memperoleh hadiah 1.000 dinar dari Raja Mudzaffar. Kisah penyelenggaraan Maulid tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari sejarah perkembangan tradisi peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sumber tersebut mengaitkan perbaikan kehidupan masyarakat dengan meningkatnya semangat pengamalan agama. Hal ini kemudian dikaitkan dengan firman Allah SWT:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
(QS Al-A’raf: 96).
Anjuran Memuliakan Nabi Muhammad SAW
Kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW juga memiliki landasan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS Al-A’raf: 157).
Dalam tradisi masyarakat, bentuk memuliakan Rasulullah SAW diwujudkan dengan membaca Al-Barzanji, Ad-Diba’i, Burdah, marhaban, syair dan qasidah, shalawat, serta mengikuti pengajian yang membahas sirah dan akhlak Nabi Muhammad SAW. Seluruh rangkaian tersebut akan bernilai ibadah ketika diniatkan sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW dan dilakukan dalam koridor syariat.
Petunjuk mengenai kemuliaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW juga dapat dipahami dari hadits riwayat Imam Muslim yang bersumber dari Abu Qatadah Al-Anshari RA. Ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari Senin, beliau menjawab:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ: فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ
“Sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya seorang sahabat tentang puasa hari Senin, maka beliau menjawab, ‘Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.’”
(HR Muslim).
Hadits tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri mengaitkan hari Senin dengan kelahiran beliau dan turunnya wahyu. Beliau kemudian memuliakannya dengan amal ibadah berupa puasa. Dari sini, umat Islam dapat mengambil pelajaran bahwa mengenang nikmat kelahiran Rasulullah SAW semestinya diwujudkan dengan memperbanyak amal saleh, shalawat, sedekah, membaca Al-Qur’an, serta mempelajari dan meneladani akhlak beliau.
Bagi warga Nahdlatul Ulama, peringatan Maulidurrasul bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Majelis Maulid menjadi ruang untuk menyegarkan kembali mahabbah kepada Rasulullah SAW, memperkuat silaturahmi, menghidupkan tradisi membaca shalawat, sekaligus mengenalkan sirah dan akhlak Nabi kepada generasi muda. Tradisi tersebut menjadi bagian dari khazanah Islam Nusantara yang dirawat melalui pesantren, masjid, musala, majelis taklim, madrasah, dan berbagai kegiatan keagamaan masyarakat.
Pada akhirnya, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada meriahnya peringatan Maulid. Semangat yang lebih utama adalah menjadikan kehidupan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam beribadah, bermuamalah, menjaga persaudaraan, menegakkan keadilan, menyayangi sesama, dan memperjuangkan kemaslahatan umat. Dengan demikian, Maulidurrasul menjadi momentum untuk menghadirkan kembali akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Tahmid
Sekertaris Badko LPQ Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal












