Kajian Adabul ‘Alim wal Muta’allim Warnai Teras Muda Rijalul Ansor Tarub, KH. Idris Salis: Ilmu adalah Cahaya yang Menjaga Kehidupan

Avatar photo
Rangkaian acara inti diisi dengan kajian kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari oleh KH. Idris Salis, Kepala MDS Ansor Kabupaten Tegal, dalam kegiatan "Teras Muda" yang digelar PAC GP Ansor Tarub di Masjid Jami Al-Mustasyfa, Bulakwaru Barat, Sabtu malam (1/8/2026).

Tarub, Warta NU Tegal

Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Tarub kembali menggelar Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor bertajuk “Teras Muda” pada Sabtu malam (1/8/2026) di Masjid Jami Al-Mustasyfa, PR GP Ansor Bulakwaru Barat. Kegiatan ini diikuti jajaran Pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Tarub, pengurus ranting se-Kecamatan Tarub, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), serta para kader Ansor sebagai ruang memperkuat tradisi keilmuan, mempererat ukhuwah, dan mengokohkan gerakan organisasi.

Memasuki acara inti, peserta mengikuti kajian kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang diasuh oleh KH. Idris Salis, selaku Kepala Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Ansor Kabupaten Tegal. Pada kesempatan tersebut, beliau melanjutkan pembahasan halaman 19–20 yang menguraikan kemuliaan ilmu, keutamaan menghadiri majelis para ulama, serta pentingnya mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pengantarnya, KH. Idris Salis menegaskan bahwa seseorang tidak akan memperoleh keberkahan ilmu apabila enggan menghadiri majelis para ulama. Beliau kemudian membacakan perkataan Ka’ab al-Akhbar sebagai penguat pentingnya majelis ilmu.

“Seandainya pahala menghadiri majelis para ulama itu tampak oleh manusia, niscaya mereka akan saling berebut untuk menghadirinya hingga para pejabat meninggalkan jabatannya dan para pedagang meninggalkan pasar mereka.” Menurut beliau, gambaran tersebut menunjukkan betapa besar nilai majelis ilmu di sisi Allah SWT.

Melanjutkan kajian, beliau mengutip nasihat ulama salaf yang berbunyi:

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: خَيْرُ الْمَوَاهِبِ الْعَقْلُ، وَشَرُّ الْمَصَائِبِ الْجَهْلُ.

“Sebagian ulama salaf berkata: Sebaik-baik karunia adalah akal, sedangkan seburuk-buruk musibah adalah kebodohan.”

KH. Idris menjelaskan bahwa akal yang dipenuhi ilmu akan menjadi anugerah terbesar bagi manusia, sedangkan kebodohan merupakan pintu lahirnya berbagai kerusakan dalam kehidupan.

Baca Lainnya  Ijazah Kubro Manakib Syekh Abdul Qadir Al-Jilani di Babakan, Gus Aqib Malik Tegaskan Pentingnya Tradisi Aswaja Bersanad

Beliau menambahkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia karena menjadi benteng yang melindungi manusia dari tipu daya setan, menjaga diri dari hasad dan keburukan sesama manusia, serta menjadi cahaya yang menerangi akal dalam membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

“Ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi cahaya yang membimbing seseorang dalam menjalani kehidupan dan beribadah kepada Allah SWT,” terang beliau.

Pada kesempatan tersebut, KH. Idris Salis juga membacakan sejumlah bait syair para ulama yang memuji keutamaan akal dan ilmu serta mencela kebodohan. Beliau menegaskan bahwa ilmu akan menjadi kemuliaan bagi pemiliknya apabila diwujudkan dalam akhlak dan amal saleh.

“Ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi beban, sedangkan ilmu yang diamalkan akan menjadi perhiasan hidup seorang mukmin,” ungkapnya di hadapan para peserta kajian.

Menjelang akhir kajian, KH. Idris membacakan riwayat masyhur dari Sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu tentang keutamaan menuntut ilmu:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ، فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لِلَّهِ خَشْيَةٌ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ، وَتَعْلِيمَهُ لِمَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى.

Artinya, “Pelajarilah ilmu. Sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah bentuk ketakwaan, mencarinya adalah ibadah, mendiskusikannya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahui adalah sedekah, dan menyampaikannya kepada ahlinya merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.”

Menutup kajian, KH. Idris Salis mengajak seluruh kader Ansor agar menjadikan majelis ilmu sebagai tradisi yang terus dijaga dan diwariskan. Menurutnya, semangat belajar harus berjalan seiring dengan penguatan ukhuwah, pengabdian kepada Nahdlatul Ulama, serta pembangunan kemandirian organisasi. Melalui Teras Muda Rijalul Ansor, beliau berharap lahir kader-kader yang berilmu, berakhlak, istiqamah menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, dan mampu menghadirkan kemaslahatan bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Baca Lainnya  KH. Ahmad Sa'idi: Bentengi Pondok Pesantren dengan Ibadah, Ilmu, dan Persatuan Umat

Editor : Tahmid
Kontributor: Tri Aji Rakhmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *