Ijazah Kubro Manakib Syekh Abdul Qadir Al-Jilani di Babakan, Gus Aqib Malik Tegaskan Pentingnya Tradisi Aswaja Bersanad

Avatar photo
Ketua LDNU PCNU Kabupaten Tegal, KH Muhammad Aqib Malik.

Lebaksiu, Warta NU Tegal

Pelaksanaan Ijazah Kubro Manakib Syekh Abdul Qadir Al-Jilani di Pondok Pesantren Al-Maliki Leadership (Al-Bab) Babakan, Kabupaten Tegal, Rabu malam Kamis (29/7/2026), berlangsung khidmat dan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah. Kegiatan yang digagas Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Tegal bekerja sama dengan Yayasan Ghiyats Mulia Foundation tersebut menjadi ikhtiar memperkuat tradisi amaliah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah melalui pembelajaran manakib yang bersanad.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, shalawat, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathan, sambutan para tokoh, prosesi Ijazah Kubro Manakib Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, sesi tanya jawab, hingga doa penutup. Dalam sambutannya, Ketua LDNU PCNU Kabupaten Tegal, KH Muhammad Aqib Malik atau yang akrab disapa Gus Aqib, menyampaikan rasa syukur sekaligus menjelaskan latar belakang penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah mengutus Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman,” ujar Gus Aqib mengawali sambutannya.

Ia kemudian menyampaikan penghormatan kepada jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal, para ulama, masyayikh, kiai, ustadz, serta seluruh tamu undangan yang hadir, termasuk Bupati Tegal Ishak Maulana Rohman beserta berbagai unsur Nahdlatul Ulama dan masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh kiai, para alim ulama, para pengurus LDNU, Yayasan Ghiyats Mulia Foundation, serta seluruh peserta Ijazah Kubro Manakib Nurul Burhani yang malam ini hadir di Pondok Pesantren Al-Maliki Leadership Babakan,” katanya.

Menurut Gus Aqib, kehadiran para tamu dari berbagai daerah menjadi kebahagiaan tersendiri sekaligus menambah semangat dalam menghidupkan tradisi keilmuan dan dakwah Nahdlatul Ulama.

“Di malam ini juga hadir sebuah manuskrip karya asli Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, yakni Kitab Al-Ghunyah. Manuskrip ini merupakan salinan tulisan murid beliau yang ditulis sekitar lima puluh tahun setelah wafatnya Syekh Abdul Qadir Al-Jilani. Mudah-mudahan keberadaannya di Babakan membawa keberkahan bagi kita semua,” ungkapnya.

Baca Lainnya  Bukti Nyata Kita Pernah Berpuasa: Mengukur Kesuksesan Ramadhan dalam Timbangan Akhlak

Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran para dzurriyah KH Muslih yang menjadi pemberi ijazah dalam kegiatan tersebut.

“Kami mengucapkan ahlan wa sahlan kepada Gus Ahmad Zaki Luthfi Hakim Muslih, Gus Faizur Rahman Hanif Muslih, Gus Muhammad Al-Maraqi, beserta seluruh rombongan. Kehadiran panjenengan semua merupakan kehormatan besar bagi kami,” tuturnya.

Gus Aqib mengaku memiliki kedekatan dengan keluarga besar KH Muslih karena pernah belajar langsung kepada KH Hanif Muslih dan KH Luthfi Hakim Muslih di Mranggen.

“Kalau dicermati pada Kitab Manakib Nurul Burhani, nama penyusunnya memang tidak tertulis Mbah Muslih. Namun pada halaman awal disebutkan Luthfi Hakim dan Hanif Muslih. Malam ini putra-putra beliau hadir bersama kita untuk melanjutkan sanad keilmuan tersebut,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa penyelenggaraan Ijazah Kubro merupakan bagian dari program dakwah LDNU Kabupaten Tegal yang lahir dari aspirasi masyarakat ketika para dai turun berdakwah di berbagai desa.

“Ketika kami bersama para dai LDNU turun ke desa-desa, ternyata banyak sekali permintaan dari para ustadz agar diadakan ijazah manakib. Ini menunjukkan bahwa Manakib Nurul Burhani benar-benar menjadi bagian dari amaliah Nahdliyin yang hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Ia menilai tradisi manakiban telah menyatu dalam kehidupan warga NU di berbagai momentum.

“Mulai dari syukuran rumah, pembukaan usaha, pindahan rumah, berbagai hajatan, semuanya sering diawali dengan pembacaan manakib. Ini menunjukkan bahwa manakib telah membumi di kalangan warga Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Namun demikian, menurutnya masih banyak ustadz di tingkat desa yang dipercaya memimpin pembacaan manakib, tetapi belum pernah mengikuti ijazah secara resmi.

“Sering kali para ustadz sudah menjadi tokoh di desanya dan diminta memimpin manakiban. Tetapi mereka sendiri belum pernah mengikuti ijazah manakib. Ibarat orang bisa mengendarai motor, tetapi belum memiliki SIM. Bisa saja berjalan, tetapi akan lebih sempurna apabila memiliki legalitas dan sanad keilmuan,” jelasnya yang disambut senyum para peserta.

Baca Lainnya  Maulid dan Milad ke-10 PP Hidayatur Rohman, Habib Umar: Jangan Hanya Mengaku Cinta Nabi, Buktikan dengan Mengikuti Ajarannya

Gus Aqib menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan tersebut adalah menjaga kesinambungan sanad amaliah Nahdlatul Ulama agar tetap benar, tertib, dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

“Karena itu, malam ini kita berkumpul bukan sekadar membaca manakib, tetapi juga menerima ijazahnya secara langsung sehingga amaliah yang kita jalankan memiliki sanad yang jelas,” katanya.

Ia juga menjelaskan alasan panitia menerapkan sistem pendaftaran melalui Google Form meskipun kegiatan tersebut berbasis tradisi pesantren.

“Di era digital seperti sekarang, warga Nahdliyin juga harus mulai membiasakan budaya data. Semua program hendaknya dilaksanakan secara by name, by address, and by data agar langkah organisasi ke depan lebih terukur,” ungkapnya.

Menurutnya, penggunaan teknologi bukan untuk menghilangkan tradisi, melainkan memperkuat tata kelola organisasi.

“Karena itulah Ijazah Kubro ini menggunakan Google Form. Awalnya kami sempat pesimis, apakah para kiai dan ustadz akan berkenan mendaftar secara daring. Ternyata hasilnya di luar dugaan,” tuturnya.

Ia mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi hingga target peserta terpenuhi dalam waktu singkat.

“Hanya dalam waktu sekitar dua hari lebih, target seribu peserta sudah terpenuhi. Alhamdulillah, ini menunjukkan semangat masyarakat dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah sangat luar biasa,” ujarnya yang disambut tepuk tangan jamaah.

Meski demikian, Gus Aqib menegaskan bahwa panitia tetap membuka ruang bagi peserta yang belum sempat mendaftar secara daring.

“Kami tetap berusaha mengakomodasi seluruh peserta, baik yang sudah mendaftar maupun yang datang langsung. Atas segala keterbatasan pelayanan panitia, kami memohon maaf apabila masih terdapat kekurangan,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PCNU Kabupaten Tegal beserta seluruh lembaga yang telah memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut.

Baca Lainnya  Lailatul Ijtima PRNU Sitail, Kiai Fatoni Ajak Warga Perbanyak Shalawat dan Meneladani Rasulullah

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ketua PCNU Kabupaten Tegal beserta seluruh jajaran, LAZISNU, para pengurus, serta sahabat-sahabat yang terus memberikan dukungan sehingga acara ini dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Tak lupa, Gus Aqib mengapresiasi sinergi yang terjalin bersama Yayasan Ghiyats Mulia Foundation dalam mengembangkan dakwah Aswaja An-Nahdliyah.

“Kolaborasi bersama Yayasan Ghiyats Mulia Foundation menjadi bagian dari ikhtiar untuk semakin membumikan semangat dakwah dan amaliah Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat. Dengan saling mendukung, dakwah akan semakin luas manfaatnya,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Gus Aqib kembali menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam suksesnya penyelenggaraan Ijazah Kubro Manakib Syekh Abdul Qadir Al-Jilani di Kabupaten Tegal.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir, membantu, dan mendoakan terselenggaranya kegiatan ini. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, memberikan keberkahan kepada para peserta, dan menjaga Nahdlatul Ulama agar senantiasa istiqamah dalam khidmah kepada umat.” pungkasnya.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *