Warta NU Tegal
Pemuda seperti apa yang akan lahir di tengah era globalisasi dan modernisasi? Pertanyaan ini penting untuk direnungkan, sebab karakter generasi muda hari ini menjadi salah satu penentu arah kehidupan masyarakat pada masa mendatang.
Imam Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi membagi pemuda ke dalam empat klasifikasi berdasarkan pengetahuan dan kesadarannya terhadap ilmu. Pembagian ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang yang berilmu, orang yang belum mengamalkan ilmunya, orang yang membutuhkan bimbingan, maupun orang yang tidak menyadari kebodohannya.
1. Tahu dan sadar bahwa dirinya tahu
Kelompok pertama adalah pemuda yang mengetahui dan menyadari bahwa dirinya memiliki pengetahuan.
“Pemuda yang tau dan sadar, bahwa dia itu orang yang tahu (mengerti). Dialah orang yang berilmu. Maka ikutilah dia.”
رَجُلٌ يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَلِكَ عَالِمٌ فَاتَّبِعُوهُ
Orang seperti ini memiliki ilmu sekaligus kesadaran untuk menggunakan ilmunya. Ia tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga mampu menjadi rujukan dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Bagi generasi muda, karakter seperti ini tentu sangat penting. Ilmu yang dimiliki hendaknya tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi, tetapi diwujudkan dalam amal, keteladanan, dan kemanfaatan bagi masyarakat.
2. Tahu, tetapi berpura-pura tidak tahu
Kelompok kedua adalah pemuda yang sebenarnya mengetahui, tetapi seolah-olah tidak mengetahui.
Kajian tersebut menyebutnya sebagai orang yang sedang tidur:
“Pemuda yang tahu (mengerti), tetapi dia pura-pura tidak mengerti. Dialah orang yang sedang tidur. Maka bangunkanlah dia (agar mau tampil kedepan mengamalkan ilmunya.”
رَجُلٌ يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَلِكَ نَائِمٌ فَأَيْقِظُوهُ
Pesan yang terkandung di dalamnya adalah bahwa seseorang terkadang telah memiliki ilmu dan kemampuan, tetapi belum memiliki kesadaran untuk menampilkan dan mengamalkannya.
Karena itu, ia tidak semestinya langsung dijauhi. Justru perlu dibangunkan, disadarkan, dan didorong agar ilmu yang dimilikinya dapat memberikan manfaat.
Dalam konteks pemuda masa kini, hal tersebut dapat menjadi refleksi bahwa potensi, kecerdasan, dan ilmu harus diikuti dengan keberanian untuk berbuat baik dan mengambil peran positif di tengah masyarakat.
3. Tidak tahu dan sadar bahwa dirinya tidak tahu
Kelompok ketiga adalah pemuda yang belum mengetahui sesuatu, tetapi ia menyadari bahwa dirinya memang belum tahu.
“Pemuda yang tidak tahu dan ia menyadari bahwa dirinya betul-betul memang tidak tahu. Dialah orang yang perlu bimbingan. Maka bimbinglah dia.”
رَجُلٌ لَا يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَذَلِكَ مُسْتَرْشِدٌ فَأَرْشِدُوهُ
Kelompok ini justru memiliki modal penting, yaitu kesadaran terhadap keterbatasan dirinya. Ia tidak malu mengakui bahwa dirinya belum mengetahui sesuatu.
Sikap demikian merupakan pintu menuju proses belajar. Orang yang menyadari ketidaktahuannya akan lebih mudah menerima nasihat, bertanya kepada orang yang lebih berilmu, serta terus memperbaiki diri.
Karena itu, tugas lingkungan bukan mencela atau merendahkannya, melainkan membimbing dan mengarahkannya.
4. Tidak tahu dan tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu
Kelompok keempat adalah pemuda yang tidak mengetahui sesuatu, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya tidak tahu.
“Pemuda yang tidak tahu, tapi dia tidak menyadari kalau dirinya itu tidak tahu. Dialah orang yang bodoh, maka tinggalkan, atau lemparkan dia (jangan ikuti perbuatannya).”
رَجُلٌ لَا يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَذَلِكَ جَاهِلٌ فَارْفُضُوهُ
Kondisi ini menjadi yang paling berbahaya ketika seseorang bukan hanya tidak memiliki pengetahuan, tetapi juga tidak menyadari keterbatasan pengetahuannya. Akibatnya, ia bisa merasa paling benar, enggan belajar, dan bahkan mengajak orang lain mengikuti sesuatu yang tidak memiliki dasar pengetahuan yang memadai.
Pesan yang dapat diambil bukan sekadar untuk menjauhi seseorang secara pribadi, tetapi agar kita tidak menjadikan ketidaktahuan sebagai sesuatu yang diikuti atau dijadikan rujukan.
Menjadi Pemuda yang Mau Belajar dan Mengamalkan Ilmu
Empat klasifikasi tersebut pada akhirnya mengajak kita untuk melakukan muhasabah terhadap diri sendiri.
Pertanyaannya bukan hanya, “Saya termasuk kelompok yang mana?”, tetapi juga, “Apa yang harus saya lakukan agar terus berkembang menjadi pribadi yang berilmu, sadar akan keterbatasan, dan bermanfaat bagi sesama?”
Pemuda yang berilmu hendaknya menjadi teladan. Pemuda yang memiliki ilmu tetapi belum mengamalkannya perlu dibangkitkan kesadarannya. Pemuda yang belum tahu tetapi menyadari ketidaktahuannya perlu dibimbing. Sementara itu, kita perlu berhati-hati terhadap sikap merasa tahu padahal sebenarnya tidak tahu.
Di tengah derasnya arus informasi pada era digital, pesan tersebut semakin relevan. Tidak semua informasi adalah ilmu dan tidak setiap orang yang berbicara layak dijadikan rujukan. Karena itu, tradisi belajar kepada orang yang memiliki kompetensi dan otoritas keilmuan tetap menjadi hal penting.
Sebagaimana disebutkan dalam bahan kajian, pembagian empat karakter tersebut dinisbatkan kepada Imam Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi dan dikutip oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin.
Kesimpulan
Empat karakter tersebut dapat menjadi cermin bagi generasi muda: berilmu dan sadar akan ilmunya, memiliki ilmu tetapi belum mengamalkannya, tidak tahu namun mau belajar, serta tidak tahu tetapi tidak menyadari ketidaktahuannya.
Pilihan terbaik tentu bukan sekadar menjadi orang yang tahu, melainkan menjadi orang yang mau belajar, rendah hati terhadap ilmu, mengamalkan pengetahuan, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Editor: Tahmid












