Tokoh  

Menelusuri Jejak Mbah Radhu, Ulama Perintis yang Mengukir Sejarah Desa Kedungwungu

Avatar photo
Makam Mbah Radhu di Desa Kedungwungu Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal.

Jatinegara, Warta NU Tegal

Di balik hamparan perbukitan yang asri di wilayah Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, tersimpan kisah panjang tentang lahirnya Desa Kedungwungu. Sejarah yang diwariskan secara turun-temurun oleh para tetua masyarakat tidak hanya menceritakan asal-usul nama desa, tetapi juga menghadirkan sosok ulama dan sesepuh yang hingga kini tetap dihormati masyarakat, yakni Mbah Radhu.

Bagi masyarakat di Desa Kedungwungu, kisah Mbah Radhu bukan sekadar cerita masa lalu. Jejak perjuangan beliau menjadi bagian dari identitas desa yang terus dijaga melalui tradisi ziarah, pengajian, dan peringatan haul yang setiap tahun dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang berjasa menyebarkan nilai-nilai Islam.

Pantauan Warta NU Tegal di Desa Kedungwungu menunjukkan bahwa semangat menjaga warisan sejarah tersebut masih sangat kuat. Tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa nilai perjuangan para pendahulu tetap menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan yang religius, rukun, dan penuh kebersamaan.

Menurut cerita tutur para tetua masyarakat, sejarah Desa Kedungwungu bermula dari perjalanan seorang pengembara bijaksana bernama Singa Maharaja yang berasal dari Desa Sangkan Ayu. Dalam pengembaraannya, beliau membawa seorang anak kecil bernama Radhu yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah desa.

Perjalanan panjang itu membawa Singa Maharaja hingga memasuki sebuah kawasan hutan yang masih sangat lebat. Di tengah kawasan tersebut terdapat sebuah kedung atau danau alami yang dikelilingi ratusan pohon kayu wungu yang tumbuh rindang sehingga memberikan suasana teduh dan nyaman bagi siapa saja yang singgah di tempat itu.

Konon, selama perjalanan Radhu yang masih kecil sering menangis. Untuk menenangkannya, Singa Maharaja mengayunkan sang anak di atas dahan pohon wungu hingga akhirnya tertidur pulas. Peristiwa sederhana itulah yang kemudian diyakini menjadi awal lahirnya nama Kedungwungu.

Baca Lainnya  KH Abdullah Jamil: Perjalanan Seorang Kyai Pejuang

Waktu terus berjalan. Radhu tumbuh menjadi seorang pemuda yang dewasa, sementara Singa Maharaja akhirnya wafat. Kepergian sang pengembara meninggalkan kenangan mendalam bagi Radhu yang telah menganggapnya sebagai orang tua sekaligus pembimbing kehidupan.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap masa kecilnya, Radhu kemudian menamai kawasan tempat tinggalnya dengan nama “Kedungwungu”. Nama tersebut diambil dari keberadaan kedung yang berada di tengah hutan dan pohon-pohon kayu wungu yang dahulu menjadi tempat dirinya diayun ketika masih kecil. (Cerita tutur para tetua masyarakat Desa Kedungwungu).

Seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi sebuah permukiman yang semakin ramai. Penduduk dari berbagai daerah mulai berdatangan untuk membuka lahan pertanian sekaligus menetap bersama masyarakat yang lebih dahulu tinggal di wilayah itu.

Keadaan alam yang subur serta letaknya yang berada di kawasan perbukitan menjadikan Desa Kedungwungu memiliki potensi pertanian yang cukup baik. Kondisi geografis tersebut turut mendorong perkembangan ekonomi masyarakat dari masa ke masa.

Pertumbuhan desa juga terlihat dari semakin baiknya kondisi permukiman warga. Rumah-rumah penduduk berkembang menjadi lebih layak, sehat, dan permanen, mencerminkan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang dibangun melalui semangat kerja keras dan gotong royong.

Di balik perkembangan desa tersebut, masyarakat Kedungwungu juga mengenal sosok Mbah Radhu sebagai ulama sekaligus sesepuh desa yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial maupun keagamaan masyarakat. Hingga kini nama beliau tetap dihormati oleh warga lintas generasi.

Menurut penuturan masyarakat, Mbah Radhu hidup pada masa penyebaran Islam di wilayah pegunungan bagian utara hingga selatan Gunung Slamet. Kisah beliau sering dikaitkan dengan perjalanan dakwah para ulama pada masa babad alas yang membuka kawasan-kawasan baru untuk kehidupan masyarakat Muslim. (Cerita warga Kedungwungu).

Masyarakat juga menghubungkan perjalanan dakwah Mbah Radhu dengan masa Syekh Armia dari Cikura yang dikenal sebagai salah seorang tokoh penyebar Islam di kawasan tersebut. Hubungan historis ini hidup dalam tradisi lisan masyarakat dan menjadi bagian dari khazanah sejarah lokal yang terus diwariskan.

Baca Lainnya  Dari Tebuireng hingga Tanah Suci, Persahabatan KH Hasan Bisri Kebagusan Tegal dan KH Bisri Musthofa Rembang

Pengasuh Pondok Pesantren Dzulfikarisalam Kedungwungu, Kiai Mukarom, menuturkan bahwa Mbah Radhu merupakan salah satu tokoh penting yang menurunkan beberapa ulama di wilayah Kedungwungu dan sekitarnya. Jejak perjuangan beliau masih terasa melalui berkembangnya pendidikan Islam di desa tersebut.

Kiai Mukarom sendiri telah mengasuh Pondok Pesantren Dzulfikarisalam selama kurang lebih 19 tahun. Pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan Islam yang dihuni santri putri dari berbagai daerah, seperti Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, Bekasi, Jakarta, dan sejumlah wilayah lainnya.

Peringatan Haul Mbah Radhu tahun 2026 dilaksanakan pada Sabtu malam Ahad, (4/7/2026). Kegiatan dihadiri para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat sekitar yang bersama-sama memanjatkan doa untuk mengenang jasa Mbah Radhu dalam membangun kehidupan keagamaan di Desa Kedungwungu. (Keterangan Kiai Mukarom kepada Warta NU Tegal).

Warisan sejarah Mbah Radhu menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah desa tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh keteladanan para ulama, semangat dakwah, nilai gotong royong, serta tradisi keagamaan yang terus dirawat. Bagi warga Kedungwungu, mengenang Mbah Radhu bukan sekadar melestarikan sejarah, melainkan juga menjaga mata rantai perjuangan Islam yang diwariskan para pendahulu kepada generasi penerus.

Editor : Tahmid
Kontributor: Eko Wahyu Sagino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *