Tokoh  

Mbah Dongkol dan Mbah Munjul: Kisah Para Pembuka Alas di Balik Peradaban Sitail dan Sumbarang

Avatar photo
Makam Mbah Dongkol Dukuh Kalisalam Sitail Jatinegara Tegal

Tegal, Warta NU Tegal

Di wilayah selatan Kabupaten Tegal, khususnya kawasan Bojong, Jatinegara, hingga lereng Gunung Slamet, tersimpan banyak jejak sejarah lokal yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat. Di antara yang paling sering disebut adalah petilasan Mbah Munjul, Mbah Adipati Bojong, Mbah Dongkol (Soera Djaja), hingga Mbah Mataram dan sejumlah makam kuno lain yang hingga kini masih menyisakan ruang kajian sejarah yang luas.

Kisah-kisah tersebut berkembang dari generasi ke generasi, menjadi bagian dari babad desa sekaligus memori kolektif masyarakat. Namun demikian, banyak di antaranya masih memerlukan penelusuran akademik lebih lanjut agar dapat dipetakan secara lebih objektif antara sejarah, tradisi lisan, dan unsur legenda yang melekat.

Di tengah perkembangan itu, nama Mbah Munjul menjadi salah satu figur yang paling sering disebut dalam cerita rakyat. Sosok ini diyakini sebagai pendatang dari wilayah barat, meskipun identitas aslinya masih menjadi perdebatan di kalangan penutur sejarah lokal.

Sebagian masyarakat meyakini bahwa “Munjul” bermakna sesuatu yang tinggi, unggul, atau mulia. Ada pula yang mengaitkannya dengan istilah geografis dari wilayah Jawa Barat, bahkan dikaitkan dengan keberadaan desa Munjul di Cirebon yang memiliki jejak historis tersendiri dalam tradisi babad Cirebon.

Dalam cerita yang berkembang, Mbah Munjul disebut sebagai sosok pendatang yang membawa nilai-nilai pencerahan di wilayah Sumbarang, yang secara etimologis ditafsirkan sebagai “Sumber Barang”, yakni sumber segala hal baik dan buruk dalam kehidupan manusia.

Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi nilai moral masyarakat bahwa setiap manusia harus mampu menyaring “barang kang becik” (kebaikan) dan meninggalkan “barang kang ala” (keburukan), sejalan dengan ajaran agama yang menekankan perhitungan amal sekecil apa pun.

Baca Lainnya  Dari Tebuireng hingga Tanah Suci, Persahabatan KH Hasan Bisri Kebagusan Tegal dan KH Bisri Musthofa Rembang

Dalam konteks ini, keberadaan tokoh-tokoh awal seperti Mbah Munjul tidak hanya dipahami sebagai figur sejarah, tetapi juga simbol transformasi spiritual masyarakat dari tradisi lama menuju pemahaman keagamaan yang lebih kuat.

Seiring waktu, kisah Mbah Munjul juga berkembang dalam berbagai versi. Salah satunya mengaitkan beliau sebagai abdi dalem Kesultanan Cirebon yang memiliki keterkaitan dengan Sunan Gunung Jati, bahkan ada yang menyebut keterkaitan dengan figur Syeh Mustofa dalam tradisi lisan Cirebon.

Versi lain menyebutkan bahwa Mbah Munjul merupakan bagian dari perjalanan sejarah pasca konflik politik Mataram, di mana sebagian prajurit atau pengikut kerajaan memilih menetap di wilayah barat setelah tidak kembali ke pusat kekuasaan.

Dalam narasi yang berkembang, beliau kemudian membuka pedukuhan di tepian sungai dan menjadi cikal bakal permukiman masyarakat Sumbarang yang kini masih menyimpan jejak sejarahnya.

Di sisi lain, berkembang pula kisah simbolik seperti “Candi Munjul” di kawasan perbukitan belakang Balai Desa Sumbarang yang masih menjadi bahan diskusi antara sejarah faktual dan tradisi mitologis masyarakat setempat.

Di sisi lain, kawasan selatan Tegal juga dikenal memiliki jejak kuat para prajurit Mataram yang diduga tidak kembali ke pusat kerajaan setelah berbagai ekspedisi militer pada masa lalu. Mereka kemudian menetap dan membentuk komunitas di wilayah kaki Gunung Slamet.

Peta Desa Tahun 1918

Jejak keberadaan mereka diyakini masih dapat ditelusuri melalui sejumlah makam kuno di kawasan Cikura dan Sitail. Nama Sitail sendiri disebut-sebut berasal dari istilah “Sitinggil”, yang dalam tradisi tertentu merujuk pada tempat tinggi atau pusat aktivitas lama.

Dari komunitas inilah kemudian muncul tokoh lokal yang dikenal sebagai Mbah Dongkol atau Soera Djaja, yang dalam catatan kolonial Belanda disebut sebagai seorang bekel yang cukup lama memimpin wilayah tersebut pada sekitar tahun 1870-an.

Baca Lainnya  KH Abdullah Jamil: Perjalanan Seorang Kyai Pejuang
Dokumen Hindia Belanda “ALPHABETISCH REGISTER VAN DE ADMINISTRATIEVE- EN ADATRECHTELIJKE INDEELING VAN NEDERLANDSCH-INDIE”

Dalam arsip kolonial, Soera Djaja tercatat memperoleh penghargaan perunggu atas pengabdian lebih dari 30 tahun, sebuah indikasi bahwa struktur pemerintahan lokal pada masa itu telah cukup tertata di bawah sistem administrasi kolonial Hindia Belanda.

Wilayah Sitail dan Diwung pada masa itu juga disebut telah berkembang sebagai kawasan yang ramai sejak abad ke-19. Terdapat pesanggrahan, kemantren, hingga struktur kawedanan yang menunjukkan adanya aktivitas pemerintahan dan ekonomi yang aktif di kawasan tersebut.

Mbah Dongkol sendiri dalam tradisi lisan dipandang sebagai salah satu tokoh “babad desa” atau pembuka wilayah (mbubak yasa) yang kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya permukiman di Sitail dan sekitarnya.

Di beberapa sumber tutur masyarakat, disebutkan pula adanya tokoh-tokoh lain seperti Mbah Arumsari dan Mbah Malanggasih yang turut mewarnai sejarah awal pembentukan struktur sosial desa di kawasan tersebut.

Ketiga tokoh tersebut hingga kini masih diziarahi oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dianggap berjasa membuka dan membangun kehidupan awal desa.

Dalam perkembangan kepemimpinan desa, nama Mbah Dongkol atau Soera Djaja juga kerap disebut sebagai salah satu kepala desa awal yang memimpin masyarakat dengan durasi pengabdian panjang pada masa kolonial.

Di tengah perubahan itu, refleksi sejarah lokal menjadi penting untuk mengingat kembali nilai perjuangan para leluhur desa. Sosok seperti Mbah Munjul dan Mbah Dongkol tidak hanya dipandang sebagai tokoh masa lalu, tetapi juga simbol nilai moral, spiritualitas, dan kerja keras masyarakat agraris.

Dengan demikian, penelusuran terhadap sejarah lokal di kawasan selatan Tegal ini tidak semata-mata untuk mengungkap fakta masa lalu, tetapi juga untuk memperkuat identitas kultural masyarakat hari ini.

Baca Lainnya  Mengenal Mbah Kiai Tarhadi Cikura Tegal, Wali Mastur yang Dikenang dengan Karomah Melipat Bumi

Sumber: Tradisi lisan masyarakat Sumbarang, Sitail, dan catatan sejarah lokal wilayah selatan Kabupaten Tegal.| Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *