Tokoh  

Dari Tebuireng hingga Tanah Suci, Persahabatan KH Hasan Bisri Kebagusan Tegal dan KH Bisri Musthofa Rembang

Avatar photo
Foto KH Hasan Bisri Kebagusan Tegal (diperbaharui menggunakan aplikasi gemini)

Bojong, Warta NU Tegal

Di tengah hamparan perbukitan Desa Kebagusan Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, yang kini juga dikenal dengan destinasi wisata Praban Lintang, tersimpan jejak seorang ulama kharismatik yang berperan besar dalam perkembangan pendidikan Islam dan tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama (NU). Sosok tersebut adalah Almaghfurlah KH Hasan Bisri, ulama asal Kebagusan yang dikenal sebagai pendidik, penggerak dakwah, sekaligus teladan dalam memadukan perjuangan ilmu dan ikhtiar ekonomi.

KH Hasan Bisri lahir pada 12 Desember 1917 dari pasangan keluarga ulama. Ayahnya, KH Nawawi, merupakan tokoh agama yang turut mewarnai kehidupan keislaman masyarakat setempat. Sejak usia muda, Kiai Hasan menunjukkan semangat tinggi dalam menuntut ilmu agama dengan berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya.

Perjalanan intelektualnya dimulai di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Setelah itu, ia melanjutkan pengembaraan ilmu ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yang saat itu diasuh oleh pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Di pesantren inilah karakter keilmuan dan kecintaannya terhadap tradisi Ahlussunnah wal Jamaah semakin terbentuk.

Putra beliau, Ustadz Solehudin, menuturkan bahwa berdasarkan cerita yang pernah disampaikan langsung oleh sang ayah, perjalanan menuju Tebuireng dilakukan dengan penuh perjuangan.

“Konon cerita dari masyarakat yang pernah mendengar langsung dari Kiai Hasan, perjalanan ke Pesantren Tebuireng dilalui dengan jalan kaki. Demikian pula ketika pulang,” tutur Ustadz Solehudin.

Di Tebuireng, KH Hasan Bisri berkesempatan belajar bersama sejumlah santri yang kemudian menjadi ulama besar Nusantara. Salah satunya adalah KH Bisri Musthofa dari Rembang, Jawa Tengah, ulama produktif yang dikenal luas melalui karya monumentalnya, Tafsir Al-Ibriz. Keduanya sama-sama menimba ilmu kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan menjalin persahabatan yang erat sepanjang hayat.

Baca Lainnya  Jejak Keilmuan KH Abdul Djalil Kalikangkung Pangkah, Mustasyar NU yang Menjadi Rujukan Para Kiai

Meski memiliki fokus keilmuan yang berbeda, keduanya saling melengkapi. KH Bisri Musthofa dikenal sebagai mubalig dan penulis produktif, sedangkan KH Hasan Bisri menonjol dalam penguasaan ilmu Al-Qur’an, ilmu alat, serta fikih. Hubungan persahabatan tersebut kembali terjalin erat ketika keduanya bertemu saat menunaikan ibadah haji sekitar dekade 1950 hingga 1960-an.

Pada masa itu, perjalanan menuju Tanah Suci masih menggunakan jalur laut yang memakan waktu berbulan-bulan. Seusai menunaikan ibadah haji, KH Hasan Bisri memilih bermukim sementara di Makkah untuk memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Syekh Alawi Al-Maliki. Langkah serupa juga ditempuh oleh KH Bisri Musthofa.

Sekembalinya dari Tanah Suci, KH Hasan Bisri menetap di Kebagusan dan membuka majelis pengajian. Dari rumah dan mushala sederhana, beliau mengajarkan Al-Qur’an, kitab kuning, ilmu fikih, serta berbagai disiplin ilmu agama kepada masyarakat sekitar. Santri berdatangan tidak hanya dari Kebagusan, tetapi juga dari desa-desa di sekitarnya.

Salah satu warisan intelektual yang paling dikenang adalah perannya dalam memperkenalkan dan mengajarkan Tafsir Al-Ibriz kepada masyarakat pedesaan. Melalui pengajian rutin yang beliau asuh, kitab karya KH Bisri Musthofa itu menjadi bacaan yang akrab di tengah masyarakat Kebagusan.

Santri beliau, Thahori, mengenang metode dakwah KH Hasan Bisri yang sederhana tetapi sangat efektif dalam membumikan tafsir Al-Qur’an di tengah masyarakat.

“Awal mula mengajarkan Tafsir Al-Ibriz. Setelah khatam pengajian Tafsir Al-Ibriz, beliau meminta murid-muridnya untuk mengajarkan kembali di mushala-mushala dan juga di rumah masing-masing,” kenangnya.

Berkat kegigihan tersebut, Tafsir Al-Ibriz menjadi bagian dari tradisi keilmuan masyarakat Kebagusan. Bahkan hingga kini masih ditemukan kitab cetakan lama yang tersimpan rapi di rumah-rumah warga sebagai warisan ilmu dari generasi terdahulu.

Baca Lainnya  KH Abdullah Jamil: Perjalanan Seorang Kyai Pejuang

Selain dikenal sebagai ulama dan pendidik, KH Hasan Bisri juga merupakan sosok yang tekun dalam bidang ekonomi. Beliau mengembangkan usaha pertanian, perkebunan, dan persawahan yang tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Kebagusan dan Pucang Luwuk. Kesuksesan ekonomi yang diraih tidak membuatnya larut dalam kemewahan. Sebaliknya, beliau menjadikan usaha sebagai sarana kemandirian sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Salah satu pesan yang masih dikenang oleh masyarakat hingga kini adalah ajakan untuk mencintai kerja dan bercocok tanam.

“Tugas urip ming nandur. Mulo yo nandur. Aja sungkanan.”

Bagi KH Hasan Bisri, ilmu dan usaha bukanlah dua hal yang dipertentangkan. Keduanya harus berjalan beriringan sebagai bentuk ikhtiar manusia dalam mengabdi kepada Allah SWT. Karena itu, di tengah kesibukan mengelola lahan pertanian, beliau tetap istiqamah mengajar kitab kuning setiap sore dan membimbing santri selepas Maghrib hingga larut malam.

Dalam kehidupan sehari-hari, KH Hasan Bisri dikenal sederhana. Meski memiliki usaha yang berkembang dan tergolong berada pada masanya, beliau tetap hidup bersahaja, baik dalam berpakaian maupun dalam pola hidup. Keteladanan tersebut semakin memperkuat wibawa beliau di tengah masyarakat.

KH Hasan Bisri menikah dengan Hj Zuhroh, putri Kepala Desa Kebagusan saat itu, H. Idris. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai sejumlah putra dan putri yang kemudian melanjutkan perjuangan keluarga dalam bidang pendidikan dan dakwah.

Almaghfurlah KH Hasan Bisri wafat pada 10 Muharram 1415 H atau bertepatan dengan 20 Juni 1994. Meski telah berpulang lebih dari tiga dekade lalu, jejak pengabdian beliau masih terasa kuat di Kebagusan dan sekitarnya. Tradisi mengaji kitab, kecintaan terhadap Tafsir Al-Ibriz, semangat kemandirian, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang beliau tanamkan terus hidup di tengah masyarakat. Sosok KH Hasan Bisri menjadi bukti bahwa pesantren dan ulama NU tidak hanya melahirkan tradisi keilmuan yang kokoh, tetapi juga membangun peradaban masyarakat melalui keteladanan, kerja keras, dan pengabdian tanpa pamrih.

Baca Lainnya  KH Abdullah Jamil: Perjalanan Seorang Kyai Pejuang

(Kontributor: Muchlisin dan Saepullah, Santri Almaghfurlah KH Hasan Bisri Kebagusan, Tegal | Editor: Tahmid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *