Opini  

Krisis Mendengar di Era Digital, Ketika Ledakan Informasi Menggerus Kemampuan Memahami

Avatar photo
Gambar Ilustrasi

Warta NU Tegal – Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat modern menghadapi persoalan yang lebih serius daripada sekadar banjir berita. Bukan kekurangan informasi, melainkan melemahnya kemampuan memahami dan mengolah setiap informasi yang diterima. Fenomena ini melahirkan berbagai kesalahpahaman, polarisasi, hingga lunturnya budaya tabayyun yang selama ini menjadi salah satu fondasi ajaran Islam.

Dalam kajian ilmu saraf dikenal istilah auditory processing, yakni kemampuan otak menerima, menyaring, mengorganisasi, kemudian menafsirkan informasi yang diperoleh melalui pendengaran. Konsep ini menunjukkan bahwa mendengar bukan hanya urusan telinga, melainkan melibatkan kerja otak, nalar, dan kesadaran seseorang dalam memahami makna sebuah pesan.

Secara medis, terdapat kondisi yang disebut Auditory Processing Disorder (APD), yaitu gangguan ketika seseorang memiliki pendengaran normal, namun mengalami kesulitan memahami percakapan, membedakan bunyi yang hampir serupa, atau mengikuti instruksi yang kompleks. Permasalahan tersebut bukan terletak pada fungsi telinga, tetapi pada proses pengolahan informasi di dalam otak.

Apabila konsep tersebut ditarik ke dalam kehidupan sosial, masyarakat modern seolah mengalami gejala serupa dalam bentuk yang berbeda. Gangguan itu bukan bersifat biologis, melainkan kultural. Informasi didengar setiap saat, tetapi gagal dipahami secara utuh. Berita dibaca setiap hari, tetapi konteksnya justru diabaikan. Akibatnya, kesimpulan sering lahir sebelum proses berpikir selesai dilakukan.

Fenomena tersebut sangat mudah ditemukan di ruang digital. Potongan video berdurasi singkat sering dijadikan dasar untuk menghakimi seseorang. Judul berita lebih cepat dipercaya daripada isi pemberitaannya. Kutipan yang dipisahkan dari konteksnya lebih mudah menjadi viral dibandingkan penjelasan yang lengkap. Ruang publik akhirnya dipenuhi reaksi spontan, bukan refleksi yang matang.

Budaya serba cepat semakin memperparah keadaan. Cepat berkomentar dianggap sebagai tanda kecerdasan, cepat membalas dipandang sebagai bentuk kepedulian, dan cepat mengambil sikap dianggap sebagai ketegasan. Padahal, kebijaksanaan justru sering lahir dari kemampuan menahan diri hingga seluruh informasi dipahami secara menyeluruh.

Baca Lainnya  Darurat Pangan di Lumbung Tegal: Ketua LTN NU Warureja M. Nur Iskandar Fajri Sebut Kerusakan Bendungan Cipero Ancam Ketahanan Pangan dan Stabilitas Sosial

Kondisi tersebut melahirkan krisis komunikasi di tengah masyarakat. Persoalannya bukan karena manusia berhenti mendengar, tetapi karena mereka kehilangan ruang untuk memproses apa yang didengarnya. Informasi datang silih berganti tanpa memberi kesempatan kepada akal untuk melakukan perenungan secara mendalam.

Dalam perspektif psikologi kognitif, pemahaman yang baik membutuhkan perhatian penuh, memori kerja, kemampuan mengenali pola, serta kecakapan menghubungkan informasi baru dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Ketika seluruh proses tersebut dipersingkat oleh budaya instan, yang lahir bukanlah pengetahuan, melainkan ilusi pengetahuan.

Paradoks inilah yang banyak disoroti para pengamat perkembangan teknologi informasi. Kemajuan teknologi memang mempercepat distribusi pengetahuan, tetapi belum tentu meningkatkan kualitas pemahaman manusia. Informasi semakin melimpah, sementara kemampuan berpikir kritis justru semakin menurun.

Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam kehidupan pribadi, tetapi juga memengaruhi kualitas demokrasi. Dialog perlahan berubah menjadi adu slogan. Kritik bergeser menjadi caci maki. Perbedaan pendapat sering dipersepsikan sebagai permusuhan. Banyak orang lebih sibuk menyiapkan bantahan daripada berusaha memahami argumentasi lawan bicaranya.

Padahal, komunikasi yang sehat selalu diawali oleh kesediaan untuk mendengar. Mendengar bukan sekadar menunggu giliran berbicara, melainkan membuka kemungkinan bahwa pandangan orang lain bisa saja mengandung kebenaran yang belum kita pahami. Sikap seperti inilah yang menjadi fondasi lahirnya musyawarah dan kebijaksanaan.

Dalam dunia pendidikan, tantangan tersebut juga semakin nyata. Sekolah sering berhasil membuat peserta didik mendengar pelajaran, tetapi belum tentu mampu membantu mereka mengolahnya menjadi pemahaman yang mendalam. Akibatnya, lahirlah generasi yang kaya hafalan, namun miskin penalaran dan kemampuan mengaitkan berbagai gagasan secara utuh.

Islam sejak awal telah memberikan perhatian besar terhadap pentingnya mendengar dengan kesadaran. Al-Qur’an berulang kali menggambarkan adanya manusia yang memiliki telinga, tetapi tidak benar-benar mendengar; memiliki mata, tetapi tidak benar-benar melihat. Teguran tersebut bukan mengenai fungsi biologis, melainkan tentang matinya hati dan kesadaran dalam menerima kebenaran.

Baca Lainnya  Motivasi Berdirinya MDTA Miftahuttholabah Penyalahan dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Islam: Menjaga Warisan Keilmuan Ulama NU

Nilai yang sangat relevan dengan kondisi tersebut adalah prinsip tabayyun, yakni memeriksa setiap informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, tabayyun merupakan wujud kehati-hatian, tanggung jawab moral, sekaligus bentuk penghormatan terhadap martabat sesama manusia agar tidak mudah terjebak dalam fitnah maupun disinformasi.

Selain tabayyun, tradisi intelektual Islam juga mengenalkan konsep tafakkur dan tadabbur, yaitu merenungkan secara mendalam setiap peristiwa dan informasi yang diterima. Kedua nilai tersebut mengajarkan bahwa hikmah tidak lahir dari pikiran yang tergesa-gesa, tetapi dari proses perenungan yang jernih, sabar, dan penuh kerendahan hati.

Di tengah masyarakat yang semakin gaduh oleh lalu lintas informasi, kemampuan mendengar secara utuh justru menjadi salah satu bentuk kecerdasan yang paling berharga. Mendengar membutuhkan kesabaran, memahami membutuhkan kerendahan hati, sedangkan kebijaksanaan hanya akan lahir ketika keduanya berjalan beriringan. Inilah karakter yang sejak lama diwariskan para ulama Nahdlatul Ulama melalui tradisi musyawarah, bahtsul masail, dan budaya saling menghormati dalam perbedaan pendapat.

Karena itu, tantangan terbesar peradaban hari ini bukan sekadar mempercepat penyebaran informasi, melainkan menguatkan kemampuan manusia dalam mengolahnya menjadi pengetahuan, kebijaksanaan, dan tindakan yang bermartabat. Ketika budaya tabayyun, tafakkur, dan tadabbur kembali dihidupkan, masyarakat tidak hanya menjadi pandai mendengar, tetapi juga bijak memahami. Dari situlah komunikasi yang sehat, kehidupan sosial yang harmonis, dan peradaban yang berkeadaban dapat terus tumbuh di tengah derasnya gelombang informasi digital.

Oleh: Aris Munandar
LTN MWCNU Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *