Haul ke-54 KH Ahmad Wisa Bin Syeh Sulthon Ciliwulung Cerih, KH Marzuqi Mustamar Tekankan Adab, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dan Persatuan Bangsa

Avatar photo
KH. Marzuqi Mustamar dari Malang, Jawa Timur, menyampaikan tausiyah dalam Pengajian Umum Haul ke-54 KH. Ahmad Wisa bin Syeh Sulthon Ciliwulung yang berlangsung khidmat di Kompleks TPU Dukuhwisa, RT 005 RW 002, Desa Cerih, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Sabtu (11/7/2026) bertepatan dengan 26 Muharam 1448 H.

Jatinegara, Warta NU Tegal

Pengajian umum dalam rangka Haul ke-54 KH. Ahmad Wisa bin Syeh Sulthon Ciliwulung berlangsung khidmat di kompleks Tempat Pemakaman Umum Dukuhwisa RT 005 RW 002, Desa Cerih, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Sabtu (11/7/2026) bertepatan dengan 26 Muharam 1448 H. Kegiatan tersebut menjadi momentum mengenang perjuangan dan keteladanan ulama sekaligus mempererat ukhuwah di tengah masyarakat.

Kegiatan ini menghadirkan penceramah KH. Marzuqi Mustamar, ulama asal Malang, Jawa Timur, yang pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur masa khidmah 2018–2023. Turut hadir pula KH. Muslim Komari dari Pemalang.

Mengawali tausiyahnya, KH. Marzuqi Mustamar mengingatkan bahwa adab merupakan pondasi utama dalam menuntut ilmu dan menjalani kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari keluasan ilmunya, tetapi juga dari akhlaknya kepada orang tua, guru, ulama, dan sesama.

“Kalau ingin mendapatkan keberkahan ilmu, dahulukan adab sebelum ilmu. Hormatilah orang tua, muliakan guru, dan takzim kepada para ulama. Ilmu tanpa adab akan kehilangan cahaya dan keberkahannya,” tuturnya.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa semangat amar ma’ruf nahi munkar harus dilaksanakan dengan cara yang bijaksana, santun, dan penuh hikmah. Dakwah Islam, katanya, tidak boleh mengedepankan caci maki atau permusuhan, melainkan mengajak manusia menuju kebaikan dengan akhlak yang mulia.

“Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban umat Islam, tetapi harus dilakukan dengan ilmu, adab, dan kasih sayang. Jangan sampai semangat berdakwah justru memecah belah persaudaraan sesama Muslim,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Marzuqi Mustamar juga menyinggung persoalan klaim nasab yang berkembang di tengah masyarakat. Ia mengajak umat Islam agar bersikap ilmiah, hati-hati, dan tidak mudah menerima ataupun menyebarkan suatu klaim tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Lainnya  KH. Muslim Komari Pemalang Ajak Jamaah Memahami Karomah Wali dan Menjaga Marwah Nahdlatul Ulama

“Persoalan nasab harus disikapi secara ilmiah dan berdasarkan data yang jelas. Jangan mudah mengklaim atau mempercayai suatu nasab tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang lebih utama adalah meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurutnya, kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT tidak ditentukan oleh keturunan semata, melainkan oleh ketakwaan, amal saleh, dan akhlakul karimah. Karena itu, umat Islam hendaknya lebih fokus memperbaiki diri daripada memperdebatkan persoalan yang berpotensi menimbulkan perpecahan.

“Kalaupun seseorang memiliki garis keturunan yang mulia, hendaknya itu dibuktikan dengan akhlak dan perilaku yang mencerminkan ajaran Rasulullah SAW. Kemuliaan sejati adalah ketakwaan sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an,” katanya.

KH. Marzuqi Mustamar juga mengajak seluruh jamaah untuk terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai amanah bersama. Menurutnya, para ulama Nahdlatul Ulama sejak dahulu telah memberikan teladan dalam menjaga persatuan bangsa, sehingga semangat tersebut harus terus diwariskan kepada generasi penerus.

“Ulama mengajarkan kita mencintai agama sekaligus mencintai tanah air. Menjaga persatuan bangsa adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai umat Islam dan warga negara Indonesia,” tegasnya.

Editor : Tahmid
Kontributor: Ustadzah. Muslimah / Ustadz Sofudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *