Jatinegara, Warta NU Tegal
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jatinegara menggelar rapat koordinasi program organisasi di Klinik NU Jatinegara, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan yang dihadiri pengurus MWCNU, ketua ranting se-Kecamatan Jatinegara, serta ketua, sekretaris, dan bendahara Pimpinan Anak Cabang badan otonom NU tersebut diawali dengan pembacaan Shalawat Nariyah.
Dalam arahannya, Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Jatinegara KH. Fahrurozi mengajak seluruh jajaran pengurus dan warga NU untuk menjadikan pembacaan Shalawat Nariyah sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Menurutnya, shalawat tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah bacaan, tetapi yang paling utama adalah mahabbah kepada Rasulullah SAW.
“Insyaallah dulu juga sudah saya sampaikan, barangkali masih ada yang belum mendengar. Sebenarnya kita yakin yang namanya warga Nahdlatul Ulama pasti semuanya cinta shalawat. Hanya, apa yang dimaksud kok Shalawat Nariyah diidolakan?” kata KH. Fahrurozi.
Ia menjelaskan, Shalawat Nariyah dikenal di kalangan ulama dengan berbagai tingkatan jumlah pembacaan. Menurutnya, ada amalan yang dibaca dalam jumlah tertentu sesuai dengan kemampuan dan kebiasaan masing-masing jamaah.
“Ternyata Shalawat Nariyah itu bertingkat. Dari para ulama ada yang menyampaikan sebagaimana faskes tingkat nilainya, minimal itu yang sangat rendah, setiap waktu dibaca 11 kali. Kemudian meningkat lagi kelas dua, kalau Subuh 41 kali,” jelasnya.
Lebih lanjut, KH. Fahrurozi menyebut terdapat pula anjuran pembacaan dalam jumlah yang lebih banyak, termasuk 315 kali hingga 4.444 kali. Menurutnya, jumlah tersebut merupakan bagian dari pengalaman amaliah yang dikenal di kalangan sebagian ulama dan masyarakat.
“Kalau meningkat lagi setidaknya sebilangan nabi dan rasul, 315. Yang nuklirnya atau rudalnya itu yang 4.444. Ini memang mujarab, jelas sudah dikatakan, maka disebut Shalawat Nariyah itu karena mujarabnya,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa warga NU tidak perlu menjadikan jumlah bacaan sebagai beban. Baginya, inti pembacaan shalawat adalah menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan menghidupkan tradisi keagamaan yang telah diwariskan para ulama.
“Tapi kita tidak ambisi seperti itu. Kaitannya kita baca shalawat ya hanya karena mahabbah pada Rasulullah SAW,” tegas KH. Fahrurozi.
Menurutnya, setiap orang memiliki kebutuhan dan persoalan masing-masing. Karena itu, pembacaan shalawat dapat menjadi ikhtiar spiritual bagi setiap individu sekaligus menjadi bagian dari keberkahan bagi lembaga yang menjadi tempat kegiatan tersebut dilaksanakan.
“Yang utamanya, man amila shalihan falinafsihi wa man asa’a fa’alaiha. Kita untuk kita semua, kebutuhan kita masing-masing apa. Karena dibaca di klinik, limpahnya paling tidak tabarukan, klinik mendapat berkahnya. Yang inti ya untuk kepentingan kita sendiri-sendiri,” tuturnya.
Ia kemudian mengingatkan bahwa setiap orang juga harus bertanggung jawab atas amal dan perbuatannya masing-masing. Menurutnya, seseorang tidak boleh menyalahkan pihak lain atas konsekuensi dari pilihan yang dilakukannya sendiri.
“Adapun wa man asa’a fa’alaiha, barang siapa yang salah ya menanggung risiko sendiri. Kita ada, enggak usah artinya enggak usah ketularan, begitulah. Menanggung risiko sendiri,” ujarnya.
KH. Fahrurozi kemudian mengajak jamaah untuk tidak merasa berat jika ingin meningkatkan jumlah pembacaan Shalawat Nariyah. Namun, ia tetap menekankan pentingnya mempertimbangkan kemampuan jamaah agar amalan dapat dilakukan secara istiqamah.
“Maka mari kita bersama-sama. Mau yang 4.444, insyaallah enteng. Di madrasah malam ini juga jatuhnya Shalawat Nariyah, paling-paling terkadang yang hadir 18. Delapan belas itu setengah jam selesai, selesai 4.444,” katanya.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembacaan shalawat dalam jumlah banyak sebenarnya dapat dilakukan apabila dikerjakan secara bersama-sama. Dengan kebersamaan, sesuatu yang terasa berat dapat menjadi lebih ringan.
“Lalu ini tahap awal separuh. Yang dari wong Palang tanggung kan ora dihayati. Kira-kira, kira-kira kan racik-meracik kendaraan, kurang pentil siji juga ngga jalan. Apalagi yang mestinya 4.444 dibaca kur saparo tok, apa jalan?” tuturnya.
Karena itu, KH. Fahrurozi memberikan ruang kepada jamaah untuk menentukan jumlah bacaan yang dianggap mampu dilakukan secara konsisten. Menurutnya, amalan yang ringan tetapi dilakukan terus-menerus lebih baik daripada amalan berat yang hanya dilakukan sesekali.
“Maka kita pilih yang mana. Nanti kalau kira-kira 4.444 terlalu berat, ya pilih yang enteng, yang insyaallah istiqamah,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila jamaah telah memilih jumlah tertentu, hal yang tidak kalah penting adalah menjaga konsistensi pelaksanaannya.
“Tapi arti istiqamah itu syaratnya kan setiap waktu, setiap waktu dibaca. Tetapi insyaallah semakin banyak, nanti sesuai dengan kesepakatan. Lebih baik kesepakatan saja, sudah, tahap awal saja,” pungkasnya.
Editor: Tahmid












