lapsus  

Jelang Haul ke-94 Syech Armia Cikura, Ribuan Pedagang Padati Kawasan Ponpes, Ekonomi Warga Bergeliat

Avatar photo
Menjelang Haul ke-94 Syech Armia Cikura di Pondok Pesantren Syech Armia, Desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, suasana mulai semarak. Memasuki H-1 pelaksanaan haul, Ahad (12/7/2026), deretan pedagang tampak memadati sepanjang jalan menuju lokasi acara.

Bojong, Warta NU Tegal

Suasana menjelang Haul ke-94 Syech Armia Cikura di Pondok Pesantren Syech Armia, Desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, mulai terasa semarak. Memasuki H-1 pelaksanaan haul, Ahad (12/7/2026), kawasan menuju lokasi acara dipadati para pedagang dari berbagai daerah yang mulai mendirikan lapak di sepanjang jalan menuju kompleks pondok pesantren.

Tradisi tahunan yang selalu menyedot ribuan jamaah tersebut tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan dampak ekonomi yang signifikan bagi warga sekitar. Aktivitas perdagangan telah berlangsung sejak beberapa hari sebelum puncak acara, menciptakan perputaran ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Berdasarkan pantauan Warta NU Tegal, sejak H-2 pelaksanaan haul, deretan lapak pedagang sudah memenuhi sisi kanan dan kiri jalan menuju Pondok Pesantren Syech Armia Cikura. Para pedagang tampak sibuk menata barang dagangan serta mempersiapkan kebutuhan untuk menyambut membludaknya pengunjung.

Beragam jenis usaha hadir di lokasi haul. Mulai dari pedagang pakaian muslim, makanan dan minuman, jajanan tradisional, mainan anak-anak, perlengkapan ibadah, aksesori, hingga aneka oleh-oleh khas daerah. Keberagaman tersebut menjadikan kawasan haul layaknya pasar rakyat yang ramai dikunjungi masyarakat.

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa geliat ekonomi tidak hanya terpusat di area Pondok Pesantren Syech Armia Cikura. Di wilayah Desa Sitail, khususnya Pedukuhan Krajan, sejak sekitar H-10 pelaksanaan haul telah berdiri pasar malam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar maupun para pendatang.

Memasuki H-2, keramaian semakin terlihat di kawasan Dukuh Kalimanggis RT 06 RW 01 Desa Sitail. Lokasi tersebut menjadi salah satu titik favorit para pedagang karena berada di jalur utama menuju lokasi haul, sehingga dipadati kendaraan dan peziarah yang melintas.

Baca Lainnya  Screening PKD GP Ansor Jatinegara Tekankan Komitmen Kebangsaan dan Militansi Kader NU

Ramainya aktivitas perdagangan menjadi bukti bahwa penyelenggaraan Haul Syech Armia tidak hanya memperkuat syiar Islam, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi perekonomian masyarakat. Banyak warga memanfaatkan momentum ini untuk membuka usaha musiman maupun menyediakan fasilitas pendukung bagi para pedagang dan jamaah.

Salah satu manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar adalah meningkatnya nilai sewa lahan di sepanjang jalur menuju lokasi haul. Warga yang memiliki tanah atau halaman di tepi jalan memanfaatkannya sebagai lokasi berjualan atau disewakan kepada para pedagang dengan harga yang bervariasi sesuai luas dan posisi lahan.

Selain pemilik lahan, para pelaku usaha kecil, pedagang kaki lima, jasa parkir, hingga penjual makanan rumahan juga memperoleh tambahan penghasilan selama rangkaian kegiatan haul berlangsung. Kehadiran ribuan jamaah menjadi berkah ekonomi yang telah dirasakan masyarakat secara turun-temurun setiap penyelenggaraan haul.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan berskala besar seperti Haul Syech Armia memiliki nilai strategis, tidak hanya sebagai media memperkuat ukhuwah Islamiyah dan mengenang perjuangan para ulama, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi kerakyatan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan Cikura dan Sitail.

Haul ke-94 Syech Armia Cikura kembali menegaskan bahwa tradisi warisan para ulama tidak hanya menghidupkan syiar Islam , tetapi juga menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi yang luas. Semangat gotong royong, keberkahan, serta tumbuhnya aktivitas usaha masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemeriahan haul yang terus dijaga dan dilestarikan oleh warga Nahdliyyin dari generasi ke generasi.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *