Bojong, Warta NU Tegal
Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati kompleks Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syekh Armia bin Kurdi, Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, pada Ahad malam Senin (12/7/2026) dalam rangkaian Haul Cikura ke-94 Almarhum Almaghfurlah Syekh Armia bin Kurdi.
Kegiatan yang terbuka untuk umum tersebut dihadiri para habaib, ulama, masyayikh, santri, serta kaum muslimin dari berbagai penjuru sebagai wujud penghormatan kepada ulama sekaligus ikhtiar meraih keberkahan melalui majelis ilmu, dzikir, dan shalawat.
Salah satu tausiyah disampaikan oleh Al Habib Quraisy bin Qasim Baharun dari Kuningan, Jawa Barat. Dalam ceramahnya, beliau mengajak seluruh jamaah menjadikan momentum haul sebagai sarana memperkuat kecintaan kepada para ulama, memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW, serta mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.
Menurut Al Habib Quraisy, setiap langkah yang ditempuh menuju majelis para ulama tidak akan pernah sia-sia apabila dilandasi niat yang ikhlas karena Allah SWT. Ia berharap seluruh jamaah yang hadir memperoleh keberkahan dunia dan akhirat sebagai balasan atas kecintaan mereka kepada para kekasih Allah.
“Mudah-mudahan kedatangan saudara-saudara sekalian ke acara yang penuh berkah ini dibalas Allah SWT dengan keberkahan di dunia dan akhirat. Dasar kedatangan kita adalah cinta kepada para ulama, sedangkan tujuannya adalah mencari keberkahan dan ridha Allah SWT,” tuturnya.
Ia kemudian memanjatkan doa agar seluruh jamaah yang hadir mendapatkan ampunan dosa, dikabulkan segala hajatnya, disembuhkan penyakitnya, dilapangkan rezekinya, serta diberikan jalan keluar atas berbagai kesulitan hidup yang sedang dihadapi.
Al Habib Quraisy mengaku sangat terharu melihat lautan manusia yang memadati kawasan Cikura. Menurutnya, ribuan bahkan puluhan ribu orang rela datang dengan biaya sendiri, menempuh perjalanan jauh, bahkan berdesakan hanya karena rasa cinta kepada seorang wali Allah.
“Seandainya saya berada di posisi Mbah Kiai Armia dan memiliki kedekatan dengan Allah sebagaimana beliau, tentu seluruh kebaikan yang saya miliki akan saya berikan kepada orang-orang yang datang karena cinta. Apalagi beliau adalah kekasih Allah, tentu keberkahannya jauh lebih besar,” ungkapnya.
Beliau menjelaskan bahwa majelis haul bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan dipenuhi berbagai amalan mulia seperti pembacaan Al-Qur’an, shalawat, tahlil, doa, hingga pengajian kitab. Seluruh rangkaian ibadah tersebut, menurutnya, akan menjadi bekal yang sangat berharga ketika seseorang menghadapi sakaratul maut dan kehidupan setelah kematian.
Selanjutnya, Al Habib Quraisy mengajak jamaah merenungkan suasana Padang Mahsyar. Ia menggambarkan bagaimana dahsyatnya keadaan pada hari kiamat ketika setiap manusia hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, bahkan seorang ibu akan melupakan anak yang sedang disusuinya dan anggota keluarga tidak lagi mampu saling menolong.
“Pada hari itu, setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Bahkan orang tua dan anak saling menjauh. Semua amal akan dihisab dengan sangat teliti. Tidak ada satu pun yang luput dari catatan Allah SWT,” jelasnya.
Melanjutkan penjelasannya, Al Habib Quraisy menegaskan bahwa satu-satunya harapan terbesar umat Nabi Muhammad SAW pada hari kiamat adalah memperoleh syafaat Rasulullah. Menurutnya, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin keselamatan dirinya hanya dengan mengandalkan amal ibadah, sebab setiap manusia memiliki kekurangan dan dosa yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
“Kita bukan sahabat Nabi, bukan tabi’in, bukan tabi’ut tabi’in, bukan para wali, bukan pula ulama besar. Lalu bagaimana agar kita bisa dekat dengan Rasulullah SAW pada hari kiamat? Inilah yang harus kita pikirkan sejak sekarang,” ujar beliau.
Ia mengingatkan bahwa seluruh amal manusia akan diperlihatkan secara sempurna pada hari hisab. Amal sekecil apa pun akan tercatat tanpa ada yang terlewat. Karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa memperbanyak taubat, memperbaiki amal saleh, dan memohon rahmat Allah SWT agar termasuk golongan yang memperoleh keselamatan.
Mengutip sejumlah hadis, Al Habib Quraisy menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menyimpan doa mustajab beliau bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai syafaat bagi umatnya pada hari kiamat. Menurutnya, kasih sayang Rasulullah kepada umat akan tampak secara nyata ketika seluruh manusia berada dalam kegelisahan menanti keputusan Allah SWT.
“Ketika semua manusia berada dalam ketakutan di Padang Mahsyar, Rasulullah SAW justru memohon kepada Allah agar umatnya diberikan syafaat. Inilah bukti bahwa beliau benar-benar rahmat bagi seluruh alam,” tutur Al Habib Quraisy.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa terdapat amalan yang menjadi jalan paling mudah untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW, yaitu memperbanyak membaca shalawat. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW bahwa orang yang paling dekat kedudukannya dengan beliau pada hari kiamat adalah mereka yang paling banyak membaca shalawat.
“Aqrabukum minni manzilatan yaumal qiyamah aktsarakum ‘alayya shalatan. Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling banyak bershalawat kepadaku. Karena itu, jangan pernah bosan memperbanyak shalawat dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.
Menurut Al Habib Quraisy, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, tetapi harus dibuktikan dengan memperbanyak shalawat sebagai bentuk mahabbah. Ia menambahkan bahwa para ulama terdahulu menjadikan shalawat sebagai wirid utama yang terus diamalkan sepanjang hidup, karena meyakini besarnya keutamaan yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Al Habib Quraisy kemudian mengutip penjelasan para ulama mengenai keutamaan membaca shalawat dalam jumlah yang banyak. Menurut beliau, para masyayikh menjelaskan bahwa seseorang baru dapat disebut sebagai orang yang benar-benar banyak bershalawat apabila mampu membiasakan diri membaca shalawat hingga seribu kali setiap hari sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW.
“Para ulama mengatakan, orang yang membaca shalawat seribu kali setiap hari termasuk golongan yang banyak bershalawat. Ini bukan sekadar hitungan, tetapi bukti cinta kepada Rasulullah SAW yang diwujudkan dalam amalan nyata,” jelasnya.
Beliau juga menyampaikan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa orang yang istiqamah membaca shalawat seribu kali setiap hari akan memperoleh kabar gembira sebelum wafat. Dengan izin Allah SWT, ia akan diperlihatkan tempatnya di surga sehingga meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Karena itu, shalawat bukan hanya menjadi dzikir yang berpahala, tetapi juga bekal menuju akhir kehidupan yang baik.
Lebih lanjut, Al Habib Quraisy mengisahkan pengalaman para ulama salaf yang menjadikan shalawat sebagai amalan utama sepanjang hidup mereka. Ia menuturkan kisah Syekh Ali ad-Dairabi yang setiap hari membaca shalawat hingga ratusan ribu kali karena kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Kisah tersebut menunjukkan bahwa para ulama terdahulu benar-benar menempatkan shalawat sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Untuk memudahkan umat Islam mengamalkan shalawat, Al Habib Quraisy menjelaskan bahwa para habaib dan ulama telah mengajarkan bacaan yang singkat namun memiliki keutamaan besar, yaitu Shalawat Jibril dan Shalawat Damir. Kedua bacaan tersebut dinilai ringan diamalkan sehingga memungkinkan seseorang memperbanyak shalawat setiap hari tanpa merasa berat.
“Tidak sampai dua puluh menit, insyaallah seribu kali shalawat bisa selesai dibaca. Allah memberi kita waktu dua puluh empat jam setiap hari. Jika kita sisihkan sebagian kecil waktu itu untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW, insyaallah akan menjadi sebab keselamatan di dunia dan akhirat,” ungkapnya.
Di hadapan puluhan ribu jamaah, Al Habib Quraisy kemudian menyampaikan ijazah pengamalan Shalawat Jibril dan Shalawat Damir sebagaimana beliau terima dari guru-gurunya, di antaranya Al Habib Umar bin Hafidz dan Al Habib Zain bin Sumaith. Ijazah tersebut diberikan sebagai bentuk sanad keilmuan sekaligus ajakan agar masyarakat membiasakan memperbanyak shalawat dalam kehidupan sehari-hari.
Menutup tausiyahnya, Al Habib Quraisy mengajak seluruh jamaah untuk terus menjaga kecintaan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, para ulama, dan para wali Allah. Ia berharap keberkahan Haul ke-94 Syekh Armia bin Kurdi menjadi wasilah perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, memperoleh keberkahan, husnul khatimah, serta dikumpulkan bersama Rasulullah SAW dan orang-orang saleh di surga kelak.
Editor: Tahmid












