Lailatul Ijtima’ PRNU Sitail: Ustadz Abdul Rozak Ajak Nahdliyin Membiasakan Tilawah Al-Qur’an dengan Tartil dan Tadabbur

Avatar photo
Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Sitail kembali menggelar kegiatan rutin Lailatul Ijtima' pada Jumat malam Sabtu Manis, (17/07/2026), di Mushala Al Imron, Dukuh Kalijambu RT 03 RW 01. diisi dengan kajian Kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Rozak Al Hafidz, Ketua LDNU Ranting NU Sitail.

 

Jatinegara, Warta NU Tegal

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Sitail, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal kembali menggelar kegiatan rutin Lailatul Ijtima’ yang dihadiri jajaran pengurus NU, badan otonom (Banom), serta warga nahdliyin. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat malam Sabtu Manis, (17/07/2026), bertempat di Mushala Al Imron, Dukuh Kalijambu RT 03 RW 01, diisi dengan kajian Kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Rozak Al Hafidz, Ketua LDNU Ranting NU Sitail.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Abdul Rozak menekankan pentingnya membangun kedekatan dengan Al-Qur’an melalui bacaan yang benar, tartil, serta dilakukan secara istiqamah setiap hari. Menurutnya, membaca Al-Qur’an bukan sekadar mengejar banyaknya bacaan, melainkan juga menghadirkan adab, tadabbur, dan kecintaan kepada kalam Allah sebagaimana diajarkan para ulama salaf.

Mengawali kajiannya, Ustadz Abdul Rozak Al Hafidz mengingatkan besarnya keutamaan membaca Al-Qur’an dengan melihat langsung mushaf. Menurutnya, seseorang memperoleh pahala berlipat ketika membaca Al-Qur’an sambil memandang ayat-ayat Allah yang tertulis di dalam mushaf.

“Ya, nek maca Al-Qur’an karo ndeleng mushaf, pahalane ana loro. Sing siji pahala mripat karena ndeleng tulisan ayat Al-Qur’an, sing sijine maning pahala maca Al-Qur’an. Saben huruf olih sepuluh pahala, dadi dobel pahalane.” ujarnya.

Ketua LDNU Ranting NU Sitail itu menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an melalui mushaf tidak hanya menghadirkan pahala lisan, tetapi juga menjadi sarana menjaga pandangan dan hati agar senantiasa terhubung dengan kalamullah. Karena itu, ia menganjurkan agar kaum muslimin membiasakan membaca Al-Qur’an dengan membuka mushaf, meskipun telah memiliki hafalan.

“Insyaallah, Gusti Allah ora bakal nyia-nyiakaken wong sing kiyeng maca Al-Qur’an karo ndeleng mushaf.” katanya.

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Rozak menerangkan bahwa tujuan utama tilawah Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan ayat, melainkan menghadirkan perenungan terhadap kandungannya. Ia mengutip penjelasan Imam an-Nawawi bahwa bacaan Al-Qur’an yang paling utama adalah bacaan yang disertai tadabbur.

“Wal mathlubu qira’atuhu bit tadabbur. Sing dikarepke kuwe maca Al-Qur’an karo ditadabburi. Paling ora ngerti maksud lan tujuan ayat sing diwaca.”

Sing dipun karepaken itu maca Qur’an kanthi tadabbur, paling mboten mangertos maksud lan tujuanipun ayat ingkang dipun waos,” jelasnya.

Ia mengakui bahwa tidak semua masyarakat memahami makna Al-Qur’an secara mendalam. Namun demikian, menurutnya, setiap muslim tetap harus berusaha membaca dengan benar sesuai kaidah tajwid, sembari terus belajar memahami isi kandungan Al-Qur’an sedikit demi sedikit.

“Senajan durung ngerti kabeh artine, sing penting macane bener ndisit lan terus belajar ben saya ngerti isi Al-Qur’an,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Abdul Rozak juga mengingatkan pentingnya menjaga rutinitas membaca Al-Qur’an setiap hari. Kesibukan bekerja maupun aktivitas lainnya tidak boleh menjadi alasan meninggalkan tilawah, sebab Al-Qur’an merupakan pedoman hidup yang harus selalu menyertai perjalanan seorang muslim.

Baca Lainnya  Ustadz Syaiful Aziz: Syukur dan Penguatan Potensi Diri Kunci Hadapi Tantangan Generasi Z di Era Digital

“Wa yambaghi ay yuhafizhu ‘ala qira’atil laili wan nahar. Sedina sewengi kudu nyediakken wektu kanggo maca Al-Qur’an, ning omah atawa pas lagi lunga.” terangnya.

Mengutip keterangan dalam Kitab Al-Adzkar, ia menjelaskan bahwa para ulama salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam mengkhatamkan Al-Qur’an. Ada yang mengkhatamkan dalam dua bulan, satu bulan, bahkan dalam waktu yang jauh lebih singkat sesuai kemampuan dan kekuatan ibadah masing-masing.

“Wa qad kanat lis salafi radhiyallahu ‘anhum ‘adatun mukhtalifatun fil qadri lladzi yakhtimuna fil Qur’an. Para ulama biyen nduweni kebiasaan sing beda-beda nek ngkhatamken Al-Qur’an.” ungkapnya.

Sebagai contoh yang mudah diterapkan masyarakat, Ustadz Rozak mengajak jamaah membiasakan membaca satu lembar Al-Qur’an setiap selesai salat fardu. Dengan kebiasaan sederhana itu, menurutnya, seseorang dapat mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu sekitar dua bulan tanpa merasa terbebani.

“Nek saben rampung salat maca saklembar bae, insyaallah rong wulan wis khatam 30 juz. Sing penting istiqamah lan aja ninggal maca Al-Qur’an saben dina,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Abdul Rozak menegaskan bahwa setiap orang memiliki tingkat kesibukan yang berbeda sehingga target tilawah Al-Qur’an pun dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Menurutnya, yang paling penting adalah tidak membiarkan satu hari pun berlalu tanpa membaca Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa ayat.

“Nek sing akeh kesibukan, maca saklembar atau setengah lembar ya ora apa-apa. Sing penting sedina sewengi aja nganti ora maca Al-Qur’an,” ujarnya.

Ia kemudian mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an harus dilakukan sesuai tuntunan syariat sebagaimana firman Allah Swt., wa rattilil qur’āna tartīlā. Ia menjelaskan bahwa makna tartil bukan sekadar membaca dengan perlahan, melainkan membaca dengan memperhatikan kaidah tajwid dan tempat-tempat berhenti (waqaf) yang benar.

“Tartil kuwi dudu mung maca alon. Miturut Sayyidina Ali bin Abi Thalib, tartil itu tajwīdul ḥurūf wa ma’rifatul wuqūf, kuwi mbenerke tajwid huruf lan ngerti panggonan mandheg (waqaf).” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memberikan contoh pentingnya memahami aturan waqaf agar tidak mengubah makna ayat Al-Qur’an. Ia mencontohkan seseorang tidak boleh berhenti pada lafaz Lā ilāha, sebab hal itu dapat mengubah makna kalimat tauhid yang seharusnya dibaca secara utuh.

“Contone, aja mandheg neng lafaz ‘Lā ilāha’, merga bisa ngowahi maknane. Waqaf kudu manut aturane ben arti ayate tetep bener,” katanya.

Di hadapan jamaah Lailatul Ijtima’, Ustadz Abdul Rozak menerangkan bahwa para ulama qiraah mengenal tiga metode membaca Al-Qur’an, yaitu Tahqiq, Tadwir, dan Hadr. Ketiga metode tersebut, menurutnya, sama-sama dibenarkan selama tetap memenuhi kaidah tartil dan tajwid.

“Cara maca Al-Qur’an ana telu, yaiku Tahqiq, Tadwir, lan Hadr. Kabeh oleh, ning syarate tetep kudu tartil,” terangnya.

Ia menjelaskan bahwa Tahqiq merupakan bacaan yang lambat dan sangat teliti, biasanya digunakan oleh para pemula dalam belajar Al-Qur’an. Adapun Tadwir adalah bacaan dengan tempo sedang yang umum dipraktikkan masyarakat, sedangkan Hadr merupakan bacaan cepat yang lazim digunakan para huffaz ketika mengulang hafalan atau mengkhatamkan Al-Qur’an.

Baca Lainnya  KH. Ahmad Sa'idi: Bentengi Pondok Pesantren dengan Ibadah, Ilmu, dan Persatuan Umat

“Tahqiq kuwe alon lan teliti, Tadwir sedheng, dene Hadr luwih cepet. Ning kabeh tetep kudu njaga makhraj huruf lan hukum tajwid,” paparnya.

Masih merujuk penjelasan para ulama, Ustadz Abdul Rozak menegaskan bahwa ilmu tajwid merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tilawah Al-Qur’an. Ia mengutip nazam Imam Ibnul Jazari yang menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an dengan tajwid hukumnya wajib agar setiap huruf dapat ditunaikan sesuai haknya.

Wal akhdzu bit tajwīdi hatmun lāzimun, man lam yujawwidil qur’āna ātsimun. Iki dadi piwulang yen maca Al-Qur’an kudu nganggo tajwid sing bener, karena tajwid kuwe wajib waktu maca Al-Qur’an,” tegasnya.

Menutup bagian kajian tersebut, Ustadz Abdul Rozak mengajak seluruh jamaah untuk terus belajar membaca Al-Qur’an kepada guru yang memiliki sanad dan kompetensi di bidang tajwid. Ia menilai bahwa memperbaiki bacaan Al-Qur’an merupakan proses sepanjang hayat yang harus ditempuh dengan kesungguhan, kerendahan hati, dan istiqamah agar tilawah menjadi ibadah yang sempurna di sisi Allah Swt.

“Wis tau sinau tajwid dudu berarti wis cukup. Kabeh kudu tetep sinau, ngaji, lan mbenerken macane Al-Qur’an ben luwih apik lan dadi amal sing diterima Gusti Allah,” ujarnya

Melanjutkan pembahasan Kitab Al-Adzkar, Ustadz Abdul Rozak Al Hafidz mengisahkan keteladanan para ulama salaf yang memiliki semangat luar biasa dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Menurutnya, kisah-kisah tersebut bukan untuk dijadikan beban, melainkan sebagai motivasi agar umat Islam semakin mencintai tilawah Al-Qur’an sesuai kemampuan masing-masing.

“Para ulama salaf kuwe semangate luar biasa nek maca Al-Qur’an. Dudu kudu ditiru kabeh, ning dadi penyemangat ben awake dhewe luwih seneng maca Al-Qur’an,” ujarnya.

Ustadz Abdul Rozak kemudian menjelaskan bahwa dalam Kitab Al-Adzkar disebutkan sebagian ulama mampu mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali dalam sehari semalam. Ia mencontohkan riwayat tentang Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang disebut memiliki kebiasaan memperbanyak tilawah hingga berkali-kali khatam sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah.

“Ana ulama sing dicritakake bisa khatam ping pirang-pirang sedina sewengi. Kuwi nuduhake semangat ibadahe para kekasih Allah sing wis nguwasani tajwid lan hafalan Al-Qur’an,” katanya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa Imam Syafi’i juga dikenal memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan Al-Qur’an, terutama pada bulan Ramadhan. Menurut berbagai riwayat ulama, Imam Syafi’i memperbanyak khataman Al-Qur’an sebagai bentuk penghayatan terhadap bulan penuh rahmat dan ampunan.

“Imam Syafi’i dadi contoh kanggo umat. Nek wulan Ramadhan, beliau ngakehaken khataman Al-Qur’an kanthi istiqamah lan nggunakke waktune kanggo ibadah,” jelasnya.

Baca Lainnya  Haul Mbah Adipati Bojong, Gus Muwafiq: Merawat Sejarah Leluhur Berarti Menjaga Jati Diri Bangsa

Selain itu, Ustadz Abdul Rozak juga mengutip kisah Sayyidina Utsman bin Affan dan Tamim ad-Dari yang diriwayatkan memiliki kekuatan ibadah luar biasa hingga mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam salat malam. Menurutnya, keistimewaan tersebut merupakan karunia Allah kepada hamba-hamba pilihan yang telah mencapai derajat keilmuan dan kekhusyukan yang tinggi, sehingga tidak layak dijadikan ukuran bagi masyarakat umum.

“Kuwe kalebu karomah lan keutamaan para sahabat. Awake dhewe ora disuruh nyamai, ning diajak njukut semangate ben luwih seneng maca Al-Qur’an saben dina,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf memiliki keutamaan tersendiri karena menghadirkan dua bentuk ibadah sekaligus, yakni membaca ayat-ayat suci dan memandang tulisan wahyu Allah. Oleh sebab itu, ia menganjurkan agar kaum muslimin tidak meninggalkan kebiasaan membuka mushaf setiap hari, walaupun hanya beberapa lembar.

“Qira’atul Qur’ani fil mushhafi afdhalu min qira’atihi min hifzhihi. Maca Al-Qur’an karo ndeleng mushaf luwih utama, karena mata lan lisane padha-padha oleh pahala,” terangnya.

Menjelang akhir kajian, Ustadz Abdul Rozak mengajak seluruh jamaah Lailatul Ijtima’ untuk menetapkan target tilawah yang realistis sesuai kondisi masing-masing. Menurutnya, seseorang yang sibuk bekerja tetap dapat menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an melalui bacaan yang sedikit tetapi dilakukan secara istiqamah setiap hari.

“Pilih target sing bisa dilakoni. Nek bisa saklembar ya saklembar. Nek mung sawetara ayat ya ora apa-apa. Sing penting aja nganti ana dina tanpa maca Al-Qur’an,” ungkapnya.

Mengakhiri kajian Kitab Al-Adzkar, Ustadz Abdul Rozak berharap seluruh warga senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, sumber ketenangan hati, sekaligus cahaya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa istiqamah membaca Al-Qur’an, memperbaiki tajwid, memahami makna, serta mengamalkan kandungannya merupakan bekal utama dalam meraih keberkahan dunia dan akhirat.

“Muga-muga kabeh diparingi istiqamah maca Al-Qur’an, sinau tajwid, ngamalke isine, lan tansah diparingi berkah karo Gusti Allah. Al-Qur’an kudu dadi pedoman uripe umat Islam,” pungkasnya.

Editor: Tahmid

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *