Pangkah, Warta NU Tegal
Dalam tradisi pesantren Nahdlatul Ulama, kemuliaan seorang kiai tidak hanya diukur dari banyaknya santri yang diasuh atau luasnya pengaruh dakwah yang ditinggalkan. Lebih dari itu, kemuliaan seorang ulama lahir dari ketekunan menuntut ilmu, kedisiplinan dalam mengamalkannya, serta keikhlasan dalam mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya. Sosok demikian tercermin kuat dalam pribadi Almaghfurlah Hadratus Syaikh KH Abdul Djalil, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin Kalikangkung, Pangkah, Kabupaten Tegal.
Bagi masyarakat Nahdliyin Tegal, nama KH Abdul Djalil bukanlah nama asing. Beliau dikenal sebagai ulama besar yang menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman, mulai dari ilmu faraidh, falak, mantiq, balaghah, arudh, hingga berbagai cabang ilmu alat yang menjadi fondasi utama tradisi keilmuan pesantren.
Di balik keluasan ilmunya, terdapat perjalanan panjang yang dihiasi kesungguhan belajar dan kecintaan luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Keteladanan inilah yang hingga kini masih dikenang para santri, murid, keluarga, dan masyarakat yang pernah merasakan sentuhan keilmuan beliau.
Menurut penuturan sejumlah sahabat seperjuangan semasa nyantri, KH Abdul Djalil sejak muda dikenal sebagai pribadi yang sangat disiplin dalam belajar. Bahkan ketika para santri lain masih bersiap menuju kelas, beliau sudah lebih dahulu hadir untuk menyiapkan kebutuhan para kiai yang akan mengajar.
Tradisi khidmah kepada guru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan intelektual beliau. Sebelum pelajaran dimulai, beliau biasa merapikan meja, menata kitab, dan memastikan segala kebutuhan guru telah tersedia dengan baik sebagai bentuk penghormatan kepada ahlul ilmi.
Selain dikenal tekun, KH Abdul Djalil juga memiliki kebiasaan belajar yang tidak lazim pada zamannya. Beliau memperdalam pelajaran melalui metode muthalaah muqaranah, yakni menelaah satu persoalan dengan membandingkan berbagai pendapat ulama dari banyak kitab sekaligus.
Metode tersebut menjadikan wawasan beliau sangat luas dan mendalam. Tidak mengherankan apabila dalam berbagai forum bahtsul masail maupun kajian keagamaan, beliau mampu menjelaskan suatu persoalan dari beragam sudut pandang dengan argumentasi yang kuat dan sistematis.
Salah seorang murid yang pernah berkesempatan menyaksikan langsung aktivitas beliau menuturkan bahwa kecintaan KH Abdul Djalil terhadap ilmu tidak pernah surut meski usia telah memasuki masa senja.
Pada suatu kesempatan, ketika sang murid datang memenuhi undangan beliau di kediamannya, KH Abdul Djalil tampak sedang tenggelam dalam aktivitas muthalaah di ruang tamu.
Di hadapan beliau terbentang sejumlah kitab besar yang terbuka. Sebagian berada di atas meja, sebagian lainnya tersusun di kursi yang berada di samping tempat duduknya. Dengan penuh ketelitian, beliau menelaah satu demi satu keterangan dari berbagai kitab tersebut.
Pemandangan itu menjadi pelajaran berharga bagi para muridnya. Di usia yang telah memasuki kepala tujuh, beliau tetap menunjukkan semangat belajar yang sama seperti ketika masih menjadi santri muda.
Dari kebiasaan tersebut, para murid memahami bahwa keluasan ilmu yang dimiliki KH Abdul Djalil bukanlah hasil yang diperoleh secara instan, melainkan buah dari ketekunan belajar yang berlangsung sepanjang hayat.
Kecintaan beliau terhadap ilmu juga tercermin dalam pengabdian panjangnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin Kalikangkung. Di pesantren tersebut, beliau membimbing ribuan santri dan menjadi rujukan keilmuan bagi masyarakat luas.
KH Abdul Djalil lahir pada 3 Januari 1935. Sejak muda beliau dikenal memiliki kecerdasan yang menonjol dalam berbagai disiplin ilmu keislaman. Kealiman beliau kemudian menjadikannya salah satu tokoh penting Nahdlatul Ulama di Kabupaten Tegal.
Selain menjadi pengasuh pesantren, beliau juga dipercaya sebagai Mustasyar NU dan sering menjadi rujukan para kiai maupun masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan keagamaan.
Keilmuan beliau yang multidisipliner membuat banyak kalangan menyebutnya sebagai “kiai multidimensi”. Hampir setiap persoalan yang berkaitan dengan ilmu faraidh, falak, mantiq, balaghah, maupun ilmu alat lainnya dapat dijelaskan dengan rinci dan mendalam oleh beliau.
Pada Senin, 8 November 2010, KH Abdul Djalil wafat pada pukul 04.00 WIB setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Kabar duka tersebut segera menyebar ke berbagai penjuru Kabupaten Tegal dan daerah sekitarnya.
Pemakaman yang dilaksanakan pada hari yang sama pukul 15.00 WIB berlangsung penuh haru. Ribuan pelayat memadati kompleks Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin di Desa Kalikangkung, Kecamatan Pangkah, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ulama yang sangat mereka cintai.
Para ulama, santri, tokoh masyarakat, para pejabat, serta warga Nahdliyin tampak mengiringi prosesi pemakaman dengan penuh kesedihan. Tidak sedikit yang meneteskan air mata sebagai ungkapan kehilangan atas wafatnya seorang guru dan panutan umat.
Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal saat itu, KH Hambali Usman, mengenang almarhum sebagai sosok ulama besar yang memiliki keluasan ilmu sekaligus keteladanan hidup yang luar biasa.
“Beliau merupakan salah satu Mustasyar NU, guru besar, dan orang alim yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Kami berharap keluarga, santri, dan para penerusnya dapat melanjutkan perjuangan beliau dalam menyebarkan ilmu agama serta meneladani kesederhanaan hidupnya,” ujar KH Hambali Usman.
Senada dengan itu, salah seorang kerabat dekat almarhum, KH Gholib Mawardi, menegaskan bahwa KH Abdul Djalil merupakan sosok ulama yang sangat mendalam dalam penguasaan ilmu-ilmu keislaman.
“Mautul ‘alim mautul ‘alam. Wafatnya seorang ulama adalah kehilangan besar bagi umat. KH Abdul Djalil adalah figur yang menguasai berbagai cabang ilmu agama dan menjadi sumber rujukan banyak kalangan. Karena itu, kepergian beliau sangat dirasakan oleh masyarakat,” ungkap KH Gholib Mawardi.
Hingga kini, lebih dari satu dekade setelah wafatnya, nama KH Abdul Djalil tetap hidup dalam ingatan para santri dan masyarakat. Ketekunan beliau dalam belajar, kecintaan yang tak pernah padam terhadap ilmu, tradisi muthalaah yang istiqamah hingga akhir hayat, serta dedikasinya dalam mendidik umat menjadi warisan berharga yang terus menginspirasi generasi Nahdliyin.
Dari sosok beliau, umat belajar bahwa kemuliaan seorang ulama lahir dari kesungguhan menuntut ilmu, mengamalkannya dengan ikhlas, dan mewariskannya kepada generasi penerus demi keberlangsungan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.
(Kontributor: Ustadz. Kosim Santri KH Abdul Djalil Kalikangung Pangkah, Tegal | Editor: Tahmid)




