lapsus  

Tanah Gerak Berulang, Warga Padasari Harap Relokasi Segera

Avatar photo
Warga asli Desa Padasari saat diwawancarai oleh Warta NU Tegal. (Foto: Agus Budianto) Kamis, (5/2/2026)

Jatinegara. Warta NU Tegal

Bencana tanah gerak melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, pada awal Februari 2026. Peristiwa ini menjadi yang terparah dibandingkan kejadian serupa pada tahun-tahun sebelumnya dan berdampak luas terhadap permukiman warga.

Untuk menggali kesaksian langsung, Warta NU Tegal pada hari Kamis, (5/2/2026) mewawancarai seorang warga asli Padasari yang telah puluhan tahun tinggal dan menyaksikan langsung dinamika bencana tanah gerak di wilayah tersebut.

Saat ditemui di lokasi terdampak, warga tersebut menegaskan bahwa dirinya merupakan warga asli Padasari. “Saya warga asli Padasari,” tuturnya mengawali perbincangan.

Ia mengisahkan bahwa peristiwa tanah gerak pertama kali diketahuinya terjadi pada tahun 1988, saat Desa Padasari dipimpin oleh Bapak Lurah Khairuddin. “Waktu itu retakan muncul di area atas Lapangan Gertukung, kemudian merambat ke sisi barat,” jelasnya.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada tahun 2022 di masa kepemimpinan Bapak Lurah Masyhuri. Namun, menurutnya, kejadian tersebut belum tergolong parah. “Itu hanya tanah gerak ringan. Di barat retak, di timur agak parah, tapi belum separah sekarang,” ungkapnya.

Ia menilai bencana tanah gerak tahun 2026 merupakan yang paling parah sepanjang sejarah desa. “Tahun 2026 ini lebih parah. Hampir satu desa terdampak semua,” katanya.

Dari seluruh wilayah desa, ia menyebut hanya satu wilayah yang relatif aman. “Yang tidak kena hanya RT 18. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah kena, dari zaman lurah-lurah sebelumnya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa beberapa bangunan penting di RT 18 juga tetap utuh. “Bangunan SMP yang menghadap ke timur itu tidak kena, termasuk makam. Dari dulu sampai sekarang tanahnya masih kokoh,” imbuhnya.

Menurutnya, kekuatan wilayah RT 18 dipengaruhi struktur tanah yang berbeda. “Di situ digali setengah meter saja sudah ketemu batu padas yang kuat. Itu yang membuat tanahnya stabil,” jelasnya.

Baca Lainnya  Kakanwil Kemenag Jateng Tinjau Ponpes Al Adalah Padasari, Salurkan Bantuan Rp100 Juta

Ia menegaskan bahwa saat ini hanya RT 18 yang bangunannya masih utuh, sementara wilayah lain mengalami kerusakan serius. “Yang lain banyak rumah ambruk, doyong, dan retak-retak,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat sebagian besar rumah tidak lagi layak huni. “Sudah tidak mungkin ditempati, karena sangat membahayakan,” ungkapnya.

Menutup keterangannya, ia menyampaikan harapan besar kepada pemerintah. “Harapan saya dari segenap pemerintah, mohon segera dilakukan relokasi,” pintanya.

Ia berharap langkah cepat dapat mencegah dampak yang lebih luas. “Supaya warga bisa segera tertata dan tidak terus hidup dalam kekhawatiran,” ujarnya.

Bencana tanah gerak di Padasari menjadi pengingat pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai elemen sosial-keagamaan dalam menghadapi musibah alam secara berkelanjutan.

NU melalui jaringan struktural dan kulturalnya diharapkan terus hadir mendampingi warga, menguatkan solidaritas, serta mendorong ikhtiar kemanusiaan demi keselamatan dan kemaslahatan umat.

Editor : Tahmid
Kontributor : Agus Budianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *