Hikmah  

Isyarat Abah Kiai Tasrifin sebelum Musibah Padasari, Kenangan yang Kini Menjadi Renungan

Avatar photo
Abah Kiai M. Tasrifin Salim / Foto Ustadz Ahmad Fauzan

Jatinegara. Warta NU Tegal

Musibah tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, meninggalkan duka sekaligus renungan mendalam bagi banyak pihak, khususnya keluarga besar Pondok Pesantren Al-Adalah. Di balik peristiwa itu, tersimpan kisah yang kini dikenang sebagai isyarat sebelum kejadian besar tersebut terjadi.

Salah satu kisah yang kembali teringat adalah cerita Abah Kiai M. Tasrifin Salim yang disampaikan jauh hari sebelum musibah terjadi, tepatnya menjelang liburan bulan Maulid. Cerita tersebut kini menjadi bahan tafakur dan penguat keimanan di tengah cobaan.

Kala itu, Abah Kiai M. Tasrifin Salim menyampaikan, “Ngko pan ana fitnah gede ning Padasari, utamane Pondok Pesantren Al-Adalah, mbuh apa bentuke aku ora ngerti. Makane aku pan gawe ruang kamar lan ruang kelas kanggo santri ning Dawuhan Capar,” tuturnya.

Pesan tersebut disampaikan dengan nada tenang, namun penuh kehati-hatian. Abah Kiai menyadari bahwa akan ada ujian besar, meski beliau sendiri mengaku belum mengetahui bentuk ujian tersebut secara pasti.

Beberapa bulan kemudian, saat Abah Kiai dirawat di RS Mitra Keluarga, beliau kembali menyampaikan cerita yang membekas di ingatan keluarga. Dalam kondisi pemulihan, beliau menceritakan sebuah mimpi yang dialaminya.

“Saat saya dalam keadaan tidak sadar, saya bermimpi melihat banyak sekali mobil berjejer panjang dari Al-Adalah 2 Capar sampai Balai Desa Padasari,” kisah Abah Kiai.

Dalam mimpi tersebut, Abah Kiai melihat kendaraan dari berbagai daerah. “Mobil-mobil itu berpelat G dan H, dari Tegal, Semarang, dan daerah lainnya,” lanjut cerita beliau.

Mimpi itu, menurut Abah Kiai, terjadi pada malam Rabu, 9 Desember 2025, tepat sehari sebelum beliau masuk rumah sakit. Ia bahkan sempat bertanya dengan nada haru, “Apa umur saya sudah tidak panjang lagi hingga yang ta’ziyah kebanyakan mobil pelat merah?”

Baca Lainnya  KH Ali Mughni Mangli: Nikmat Iman, Islam, dan Sehat Wajib Disyukuri dengan Ngaji dan Sholat

Abah Kiai menyampaikan keyakinannya bahwa mimpi tersebut bukan sekadar bunga tidur. Beliau percaya, suatu saat mimpi itu akan menjadi kenyataan, meskipun bentuk dan waktunya masih menjadi rahasia Allah SWT.

Kini, setelah musibah besar menimpa Desa Padasari dan Pondok Pesantren Al-Adalah terdampak cukup parah, keluarga dan santri mengenang kembali cerita tersebut dengan perasaan campur aduk antara duka dan keimanan.

Bagi keluarga besar Al-Adalah, kisah Abah Kiai M. Tasrifin Salim menjadi pengingat bahwa setiap peristiwa terjadi atas kehendak Allah SWT, dan manusia hanya bisa berikhtiar serta berserah diri.

“Wallahu a’lam,” menjadi penutup yang selalu disampaikan saat mengenang pesan dan mimpi Abah Kiai, sebagai wujud tawakal dan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi.

Di tengah musibah ini, umat Nahdliyin terus menguatkan doa dan solidaritas, seraya berharap cobaan yang menimpa Desa Padasari menjadi jalan turunnya pertolongan, keberkahan, dan kebangkitan bagi seluruh warga dan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Adalah.

 

Editor : Tahmid
Kontributor : Ustadz Ahmad Fauzan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *